Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 38 Pembicaraan Dengan Ki Elang Langit


__ADS_3

Cahaya Langit petang di desa Atas Awan masih menyisakan semburat jingga yang menyembunyikan kilau bintang-bintang yang bertebaran di langit. Beberapa saat setelah Batari Mahadewi, Jalu, dan Niken berbincang di depan, Ki Elang Putih memanggil ketiga tamunya itu untuk makan malam.


Di meja telah tersaji beberapa hidangan yang biasa ditemui di masyarakat bawah gunung, dan sebagian lainnya adalah buah-buahan berbentuk aneh hasil alam desa Atas Awan, yang salah satunya adalah tomat langit.


“Apakah kak Jalu dan kak Niken sempat menyicipi buah-buahan itu selagi aku pergi tadi?” Tanya Batari Mahadewi.


“Belum, kami belum makan buah-buahan itu.” Jawab Niken.


“Kalau begitu jangan dimakan dulu, nanti saja buat pencuci mulut. Kalian akan merasakan kejutannya.” Kata Batari Mahadewi sambil tersenyum.


Ki Elang Langit duduk semeja untuk menemani makan malam ketiga tamu istimewanya itu. “Mari dimakan, jangan sungkan-sungkan. Jangan lupa mencicipi buah-buahan hasil alam desa kami. Bentuknya memang aneh, tapi khasiatnya bisa kalian rasakan nanti.” Kata Ki Elang Langit.


Mereka bertiga kemudian makan hidangan yang disajikan, lalu mencicipi beberapa buah aneh itu. Niken, Jalu, dan Batari Mahadewi takjub dengan efek dari buah-buahan itu. Ki Elang Langit menjelaskan, “Buah-buahan itu tak hanya berkhasiat untuk memulihkan energi, tapi juga bisa digunakan sebagai obat. Coba lihat buah yang kecil berwarna merah itu, nama buah itu adalah buah jantung kehidupan. Kami menamainya demikian karena khasiatnya yang ampuh untuk mengobati luka dalam karena pukulan.”


“Buah ini juga bisa dikeringkan dan disimpan selama beberapa bulan. Hanya saja, khasiatnya tak sebagus kalau dimakan selagi masih segar. Kalau buah yang berwarna biru itu, namanya adalah buah tolak racun. Seperti namanya, khasiat dari buah itu adalah untuk menangkal berbagai jenis racun berbahaya seperti misalnya racun ular atau racun dari pendekar golongan hitam meski tak semua bisa ditangkal oleh buah ini.” Lanjut Ki Elang Langit.


“Desa ini memang tak hanya kaya akan pengetahuan dan budaya tinggi, paman, namun juga memiliki kekayaan alam yang unik dan langka.” Kata Jalu.


“Nak Jalu dan nak Niken tadi sempat berjalan-jalan?” Tanya Ki Elang Langit.


“Iya paman, kami mengunjungi perguruan Langit Utara dan perguruan Langit Barat. Kami bertemu dengan pendekar Angin Utara dan pendekar Angin Barat. Sepertinya banyak pendekar yang menguasai ilmu angin di desa ini. Apakah benar demikian paman?” tanya Jalu.


“Ya, benar sekali. Ilmu angin adalah ilmu yang harus dikuasai oleh semua penduduk di sini. Selebihnya, masing-masing perguruan akan mengembangkannya sendiri-sendiri, dan menciptakan jurus lain sendiri-sendiri yang membuat tiap perguruan di sini berbeda satu sama lainnya.” Jawab Ki Elang Langit yang kemudian mengalihkan pandangannya ke Batari Mahadewi. Ia tersenyum lalu bertanya, “Apakah nak Batari telah mempelajari hal yang berharga di bukit sana?”

__ADS_1


“Iya guru, dan sekaligus saya memohon izin atas ketidaksengajaan saya mempelajari ilmu rahasia yang ada di sana.” Jawab Batari Mahadewi.


“Tidak perlu sungkan. Seperti yang aku katakana sebelumnya, kalian bebas mempelajari apapun di sini jika kalian menemukan hal menarik yang bisa di pelajari. Oh iya, bolehkan apabila setelah ini aku berbicara sebentar dengan nak Batari? Tanya Ki Elang Langit.


“Dengan senang hati, paman.” Jawab Batari Mahadewi dengan tenang. Jalu dan Niken masih menebak-nebak, apakah gerangan yang dilakukan oleh adiknya di bukit itu.


Batari mahadewi dan Ki Elang Langit memasuki salah satu ruangan di rumah itu yang bisanya digunakan untuk melakukn percakapan rahasia antara Ki Elang Langit dengan tamu-tamunya.


Ki Elang Langit membuka percakapan,”Aku sudah setua ini, tapi belum bisa menafsirkan semua jurus rahasia dari Altar Langit. Sejauh mana nak Batari mempelajari kitab itu?”


Pertanyaan Ki Elang Langit sebetulnya adalah hal yang sudah diduga oleh Batari Mahadewi. Iapun berharap tak akan mendapatkan pertanyaan itu. Ia tak mau berbohong, namun di sisi lain ia tak ingin mengatakan kalau ia telah menguasai semua jurus-jurus rahasia di Altar Langit.


“Saya juga belum sepenuhnya mampu menafsirkan dengan baik aksara rahasia yang muncul di pilar-pilar besar itu sewaktu saya tadi berada di sana, paman. Hanya saja, saya mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dari tempat ini, serta sedikit banyak mengerti tentang ilmu pendekar Tapak Petir. Setidaknya ada dua jurus pokok dalam kitab Ilmu Langit itu, ilmu Tapak Petir dan Ilmu Angin Langit. Sepertinya saya harus banyak belajar untuk bisa menguasai ilmu tersebut.” Jawab Batari Mahadewi.


“Nak Batari sungguh beruntung memiliki kemampuan langka di usia yang begitu muda. Aku yakin kelak nak Batari akan menjadi pendekar hebat. Pada pertandingan kita besok lusa, aku akan menggunakan semua jurus ilmu Kitab Langit yang telah aku kuasai. Mungkin nak Batari telah mengetahui bagaimana cara mengatasi serangan dari jurus-jurus itu. Nak Batari silakan menggunakan semua jurus yang nak Batari ketahui tentang kitab Ilmu Langit.” Kata Ki Elang Langit. “Barangkali ada yang bisa kupelajari dari hal-hal yang tak kupahami.” Lanjutnya.


“Baik paman guru. Saya akan melakukan terbaik yang saya bisa lakukan.” Kata Batari Mahadewi.


“Dengan ilmu yang kamu miliki sekarang ini, sudah pasti kamu akan menjadi incaran para pendekar pengelana hitam dan putih yang ingin mencari kesempurnaan hidup dengan cara betarung. Tentu nak batari sudah pernah mendengar tentang jenis pendekar seperti itu bukan?”


“Saya belum mengerti paman.” Jawab Batari Mahadewi.


“Pendekar pengelana adalah pendekar yang tak memiliki tujuan hidup kecuali untuk bertarung dengan siapapun yang lebih tinggi ilmunya hanya demi menyempurnakan ilmunya, demi nama tenarnya di dunia persilatan, dan bagi pendekar semacam itu, kematian adalah tujuan hidupnya.” Kata Ki Elang Langit.

__ADS_1


“Perlu kamu ketahui, nak, jurus pamungkas dari ilmu Kitab Langit ini adalah jurus tapak petir. Kalau tidak salah, gurumu adalah salah satu yang telah menguasainya. Entah bagaimana ia mempelajari ilmu itu karena yang pasti ia belum pernah menginjakkan kakinya di Altar Langit. Aku tidak tahu juga, jurus itu adalah jurus tapak petir yang tetulis dalam kitab ilmu langit atau jurus tapak petir yang lainnya. Ia hanya menggunakannya sekali saja ketika melawan Raja Iblis.”


“Aku benar-benar tak tahu karena aku sendiri hanya memahami sebagian saja. Dan kalaupun aku bisa menggunakan ilmu tapak petir, mungkin itu adalah jurus yang belum sempurna sebab masih banyak bagian yang belum aku ketahui dalam kitab itu. Aku belum pernah menggunakannya sekalipun untuk bertarung.” Kata Ki Elang Putih.


Batari Mahadewi diam-diam membenarkan ucapan Ki Elang Langit. Jurus-jurus pamungkas dari ilmu legendaris biasanya memang berdampak buruk bagi pendekar yang menguasainya hanya jika pendekar itu tak memiliki kapasitas energi yang sesuai atau mendapatkan ilmu itu tidak sebagaimana mestinya, yakni sesuai dengan tahap-tahap yang harus dilalui. Jurus Tapak Petir kurang lebih setara dengan Ilmu Raga Membelah Bumi dalam hal sama-sama berbahaya bagi yang menggunakannya. Oleh karenanya, jurus ini menjadi legenda dan terkesan seperti dongeng semata.


“Gurumu telah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan. Sudah pasti ia melewatkan banyak hal. Saat ini, perkembangan dalam dunia persilatan sangat mengesankan. Banyak sekali tokoh muda yang mempelajari berbagai macam ilmu sakti. Belakangan ini, meskipun jarang muncul, telah ada beberapa pendekar muda golongan hitam yang telah menguasai ilmu-ilmu hitam legendaris yang setara dengan jurus Tapak Petir.” Kata Ki Elang Putih.


“Kedepannya, sudah tentu nama nak Batari akan cepat di kenal di dunia persilatan dan oleh karenanya nak Batari harus berhati-hati. Sewaktu-waktu para pendekar sakti akan datang memberikan tantangan untuk bertanding.” Tambah Ki Elang Putih.


###


Malam hari di desa Atas Awan terasa sangat dingin. Bulan penuh bersinar terang. Langit memancarkan pemandangan angkasa yang menakjubkan. ‘Di atas langit masih ada langit.’ Batin Batari Mahadewi yang masih terjaga saat itu, melayangkan pandangnya ke langit yang jauh. ‘Oh dewata, takdir apakah kiranya yang kau titipkan padaku…’


Sebelum acara makan malam bersama tadi, Batari Mahadewi sempat mengecek semua perubahan yang ada pada tubuhnya. Ternyata ia tak hanya memiliki telapak tangan logam berwarna emas, namun juga beberapa semburat sisik yang tampak seperti kulit keras kaki ayam di kakinya. Ia menyentuh sisik itu. Logam berwarna emas. Ia bisa jelas merasakannya meski masih belum sepenuhnya tampak.


‘Aku mungkin bukan manusia….semoga saja aku tak membawa nasib buruk bagi banyak orang....' batinnya. Batari Mahadewi merahasiakan keadaannya. Hal yang paling ia takutkan adalah jika ia tak lagi memiliki tubuh seperti manusia pada umumnya dan mungkin ia akan kehilangan kesadarannya sebagai manusia. Ia tak ingin menjadi siluman yang berbahaya. Ia enggan memberi tahu kakak seperguruannya tentang perubahan tubuhnya itu.


‘Aku harus mengatakan hal ini pada kakak…ya, nanti pada waktunya…jika hal buruk terjadi padaku, mereka harus membunuhku…’ Batin Batari Mahadewi. Ia menutup jendela kamarnya, lalu mulai membaringkan tubuhnya.


#####


Halo teman-teman, terimakasih sejauh ini sudah membaca Pendekar Batari Mahadewi. Proses menulis cerita ini tentu tak luput dari banyak hal yang kurang oke, kurang pas, namun belum saya sadari sewaktu menulis. Jadi saya sangat senang apabila teman-teman pembaca mau berbagi kritik dan saran buat saya untuk menjadikan kisah ini semakin menarik untuk dibaca. Terimakasih atas kunjungannya, like, komentar, vote dan segala apresiasinya. Sampai ketemu di episode selanjutnya besok.

__ADS_1


__ADS_2