Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 331 Menyelamatkan Orang-Orang Desa #4


__ADS_3

Begitu buyung sampai di pos utara, lima belas raksasa buas tengah bertarung dengan para pendekar yang ada di sana. Mereka merupakan raksasa pemburu, yang meskipun bukan dari kasta ksatria, namun mereka memiliki kemampuan cukup tinggi, misalnya menciptakan perisai energi seperti raksasa yang telah dikalahkan oleh Jalu dan Niken.


Para raksasa itu menyerang dengan brutal. Tubuh dan lengan mereka yang besar memungkinkan mereka mencabut sebatang pohon dan mengunakannya sebagai senjata dengan cara mengayunkan atau melemparkan pohon itu ke arah lawan-lawannya.


Pastinya, para pendekar yang berjaga di pos itu dibuat kalang kabut. Pertama karena mereka yak menyangka akan kedatangan bangsa raksasa dengan jumlah banyak, dan kedua mereka memang tak memiliki kemampuan memadai.


Buyung melesat dengan cepat dan kehadirannya sama sekali tak disadari oleh para raksasa itu. Pedangnya bisa dengan mudah menyambar beberapa tubuh raksasa dan membuat mereka tumbang seketika.


Beberapa raksasa yang menyaksikan kejadian yang sangat cepat itu akhirnya memusatkan perhatian ke arah Buyung. Lima raksasa langsung bergerak mengeroyok murid tertua Ki Gading Putih itu dengan beringas. Sementara, tujuh raksasa lainnya masih sibuk dengan para pendekar lain yang ada di sana.


Buyung tak mau berlama-lama untuk menghadapi para raksasa itu. Ia mengacaukan pikiran lima makhluk besar yang menjadi lawannya itu dan seketika mereka tampak seperti terhipnotis. Bengong dengan tatapan kosong. Pada saat itu, ia melesat dan membabatkan pusakanya ke bagian-bagian vital dari lawannya. Dengan begitu, lima raksasa itu tumbang dengan cepat.


Jusrus maut Buyung itu bukannya tak menimbulkan efek samping. Ia butuh mengerahkan banyak tenaga untuk melakukannya. Semakin kuat lawan yang ia hadapi, semakin besar tenaga yang ia kerahkan. Semakin banyak dan kuat lawannya, maka hanya sebagian saja yang bisa ia serang dengan jurus mautnya itu.


Sesaat pandangan matanya berkunang-kunang. Ia melesat menjauh dari arena itu, lalu berusaha memulihkan kekuatannya. Untunglah para raksasa yang lain sedang sibuk dengan para pendekar yang mengeroyok mereka, sehingga mereka tak menyadari bahwa Buyung sedang berusaha memulihkan diri.


Para raksasa itu setidaknya telah menewaskan sepuluh pendekar dengan cara brutal. Tangan mereka yang besar itu bisa dengan mudah menangkap, lalu meremukkan tulang lawan-lawannya.


Buyung yang telah sedikit pulih kemudian kembali lagi ke arena. Ia bergerak cepat menyambar tubuh lawannya dengan pedang pusakanya. Satu per satu, raksasa itu tumbang tanpa banyak perlawanan.


Tenaga Buyung nyaris habis. Pusaka yang ia gunakan itu memang ampuh, tetapi butuh banyak tenaga untuk menggunakannya, terlebih pusaka itu sangat berat. Buyung duduk bersila begitu ia telah menyelesaikan pertarungan. Beberapa pendekar yang selamat itu hanya bisa diam dan menunggu untuk mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


“Bisakah kalian membakar mayat-mayat raksasa ini? Atau menguburkannya? Yang pasti, tubuh mereka harus benar-benar lenyap. Jangan ada satu potong tulangpun yang tergeletak di tanah. Aku harus segera ke selatan untuk membantu pos lain yang sedang mendapatkan serangan serupa,” perintah Buyung.


“Terimakasih ki sanak! Pertolonganmu telah menyelamatkan kami!” ujar salah satu dari para pendekar itu.


“Sama-sama. Kita harus tetap hidup untuk menahan mereka. Lain kali, jika tak ada bantuan dan kalian mulai terdesak, jangan mengorbankan diri. Segera lari ke pos yang lain. Para raksasa itu pasti akan mengejar, tetapi jika mereka dilawan dengan kekuatan yang lebih banyak, mereka bisa ditaklukkan,” ucap Buyung.


“Baik, kami mengerti ki sanak!” ucap pendekar itu.


“Kalau begitu, aku pamit dulu!” Buyung segera melesat ke arah selatan. Ia berharap para pendekar yang ada di sana telah menyelesaikan pertarungan sehingga ia tak perlu bersusah payah.


Namun harapannya tak sepenuhnya terkabulkan. Ketika ia sampai di sana, masih tersisa satu raksasa yang paling kuat diantara raksasa lain yang telah mati. Sementara, jumlah pendekar yang tersisa di sana tinggal sepuluh orang saja.


Dari kejauhan, Buyung melemparkan senjata pusakanya yang berat itu. Senjata itu melesat cepat dan menembus tulang tengkorak bagian belakang kepala raksasa itu dan seketika itu juga sang raksasa tumbang.


“Berapa banyak dari kalian yang telah menjadi korban?” tanya Buyung memastikan.


“Sekitar delapan orang termasuk pendekar-pendekar terkuat di antara kami,” jawab salah satu dari mereka.


“Kurasa, jumlah kalian terlalu sedikit saat ini. Besok kalian sudah harus mendapatkan bantuan tambahan orang. Apakah hari ini adalah pertama kalinya kalian bertarung dengan raksasa?” tanya Buyung.


“Benar, ki sanak!”

__ADS_1


“Setiap raksasa yang kita bunuh harus kita lenyapkan jejaknya. Kalian bisa menguburkannya atau membakarnya hingga habis tak bersisa. Jika tidak, hal ini akan menimbulkan malapetaka. Untuk malam ini, jika kalian mendapatkan serangan lagi, maka kalian harus lari sementara bantuan belum tiba. Aku ada di pos bagian utara dari sini. Saat ini di pos kami sedang ada banyak pengungsi yang beristirahat. Setelah kalian selesai membereskan mayat-mayat ini, satu atau dua dari kalian harus segera mencari bantuan ke pos pusat,” kata Buyung.


“Terimakasih banyak, ki sanak!” kata pendekar itu.


“Tak usah sungkan. Aku akan kembali berjaga di atas bukit sana. Kemungkinan masih ada serangan susulan. Tetapi semoga saja tidak terjadi. Sampai ketemu lagi lain waktu!” Buyung segera melesat pergi meninggalkan mereka.


Mengurus mayat raksasa besar itu pastinya merepotkan. Ia tak mau menghabiskan waktu untuk hal itu. Beruntung jika ada Jalu. Pemuda bertubuh api itu bisa dengan cepat membakar mayat-mayat raksasa hingga menjadi abu.


Di atas bukit itu, Buyung mengeluarkan sebutir mustika kuning, lalu menyerap energinya untuk memulihkan kekuatannya yang terkuras untuk pertarungan tadi. Pikirannya menerawang. Jika membunuh raksasa tingkat rendah saja sudah sangat merepotkan, bagaimana jika nanti para prajurit raksasa datang menyerang? Bagaimana cara menghadapi raksasa-raksasa yang berkekuatan besar?


Buyung belum menemukan caranya. Hal terbaik jika situasi terburuk telah terjadi adalah melarikan diri. Hanya itu saja. menjelang subuh, Buyung kembali menemui saudara-saudaranya. Di sana, rombongan itu telah bersiap untuk berangkat. Jalu dan Niken akan kembali mengawal mereka hingga keluar dari wilayah hutan.


“Berhati-hatilah, semalam memang benar-benar ada raksasa yang mencoba melewati hutan ini,” kata Buyung.


“Ya, kami bisa mendengar suara pertarungan semalam. Ingin rasanya kami ikut membantu, tetapi kami harus tetap berjaga di sini, kan?” kata Jalu.


“Ya, kita tak pernah tahu dari mana raksasa itu akan datang. Mungkin saja, dari kedatangan mereka semalam itu, ada beberapa raksasa yang lolos dari pantauan pos-pos jaga. Semoga perjalanan kalian lancar!” kata Buyung.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, rombongan itu mulai berangkat menembus hutan lebat yang terbentang di sepanjang mata memandang.


Bagi pendekar berilmu tinggi, menerobos hutan lebat itu hanya butuh waktu sebentar saja. Namun bersama dengan rombongan manusia biasa, mungkin ketika menjelang petang mereka baru akan sampai di tepi hutan. Rombongan itu bergerak perlahan dengan formasi yang sama. Bedanya, mereka tak perlu sangat terburu-buru. Sesekali ketika mereka menjumpai pohon dengan banyak buah-buahan, mereka akan berhenti sejenak untuk mengambil buah-buahan itu sebagai bekal makanan di perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2