Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 141 Teror Manusia Perak #2


__ADS_3

Nala sedikit panik menghadapi situasi itu. Yang ia bisa lakukan hanyalah menyalurkan energi untuk membantu Batari Mahadewi. Selang beberapa saat kemudian, gadis itu kembali membuka matanya. Ia masih terbaring di tanah.


“Kau masih merasakan sakit?” tanya Nala.


“Ya, tapi rasa sakit itu berpindah-pindah. Ah, sungguh sial. Kurasa benda itu benar-benar masuk ke dalam tubuhku. Gara-gara kamu Nala, kamu kan yang menginginkan pedang kembar itu!” Kata Batari Mahadewi menyempatkan bercanda agar Nala tak terlalu cemas. Namun Nala justru malah merasa bersalah.


“Hahaha, jangan merasa bersalah seperti itu. aku hanya becanda. Tapi aku memang curiga dengan benda itu. Setidaknya, setelah sayap manusia perak itu lepas dari tubuhnya, kekuatannya jauh menurun.” Lanjut Batari Mahadewi.


“Tapi jika benar benda itu masuk ke tubuhmu, lantas bagaimana kita mengeluarkannya?” tanya Nala.


“Aku tak tahu. Yang pasti wujudnya bukan lagi pedang, bukan?!” kata Batari Mahadewi. Nala mengangguk. Matanya masih mengisyaratkan rasa cemas.


“Rasa sakitnya sudah hilang, Nala.” kata Batari Mahadewi. Ia kemudian bangun dari tidurnya dan duduk bersila untuk memulihkan keadaannya.


“Tari, mungkin ada hal yang sedikit sama. Di dalam tubuhku, kakakku menanamkan banyak sekali mustika alam. Ada kalanya, beberapa jenis mustika alam akan terasa sangat menyakitkan dalam waktu beberapa hari ketika tubuhku beradaptasi dengannya. Tapi yang jelas, selalu ada perubahan energi dalam tubuhku. Nah, apakah kau merasakan perubahan energi dalam tubuhmu?” tanya Nala.


“Entahlah. Aku akan mencoba mencari tahu.” Kata Batari Mahadewi. Gadis itu kemudian berdiri dan  memancarkan energinya sekuat mungkin. Hal yang berbeda adalah pancaran cahaya yang menyelubungi tubuhnya tak hanya berwarna emas dengan pijaran listrik, namun juga di kelilingi oleh sinar berwarna perak. Kuku-kuku di jari-jari tangannya memanjang sepuluh kali lebih panjang dari sebelumnya, seperti cakar logam berwarna perak dan emas. Bola mata Batari Mahadewi juga berubah warna menjadi perak.


Batari Mahadewi menghentikan pancaran energinya. Bentuk tubuhnya kembali seperti semula. Seperti yang dikatakan Nala, energinya bertambah kuat dan berbeda dengan sebelumnya.


“Aku merasakan ada pancaran energi yang sedikit sama dengan yang dimiliki manusia perak ketika ia masih memiliki sepasang sayap. Kurasa mimpimu adalah nyata, Tari.” Kata Nala. Ada rasa kagum sekaligus khawatir jika energi baru itu merubah watak gadis yang telah ia kenal selama di dunia tiga rembulan.

__ADS_1


Pancaran energi Batari Mahadewi tak hanya membuat Nala takjub, namun hal itu tanpa sengaja telah mengundang kedatangan seorang manusia perak yang bentuknya berbeda dengan mereka temui di pulau kecil penuh warna.


Manusia perak yang datang kali itu tak bersayap. Tubuhnya jauh lebih besar dengan tinggi dua kali lipat dari tinggi rata-rata manusia pulau api. Kepalanya botak dan diantara kedua matanya terdapat sebuah benda, seperti mutiara yang berwarna hitam yang tampak sebagai mata ketiga.


“Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan dari pusaka suci kami? Bagaimana kau mendapatkannya?” kata manusia perak itu.


“Apa maksudmu?” tanya Batari Mahadewi pura-pura tak mengerti.


“Kembalikan pedang suci kami!” kata makhluk yang tubuhnya memantulkan cahaya matahari itu.


Nala tak mau berlama-lama, ia langsung saja menyerang manusia perak itu dengan menciptakan dua naga pasir yang langsung melilit tubuh makhluk itu. “Jangan menunda, Tari, habisi makhluk itu.” Teriak Nala yang sedang menahan manusia perak bertubuh besar itu agar tak bisa bergerak dengan leluasa.


Batari Mahadewi langsung melesat untuk mencoba kekuatan kuku-kuku baru di jemari tangannya. Kuku-kuku itu tak hanya menggores kulit manusia perak yang sangat keras itu, namun juga menyayat dengan sayatan yang cukup dalam, sedalam panjang kuku di jemari tangan Batari Mahadewi. Selebihnya, Batari Mahadewi melontarkan pukulan tapak petir yang membuat makhluk itu terpental jauh.


“Ia melarikan diri!” kata Nala.


“Biarkan saja. lagipula sulit untuk mencarinya. Pancaran tenaganya pun bahkan tak terasa sama sekali.” Kata Batari Mahadewi.


“Jika ia manusia biasa, seharusnya ia sudah mati dengan cakaran dan pukulanmu yang keras tadi.” Kata Nala.


“Makhluk itu sekuat monster-monster di pulau iblis. Sudah pasti akan sangat merepotkan jika jumlahnya lebih dari lima dan menyerang kita bersamaan.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Kita sebaiknya segera kembali ke desa tetua Sion. Aku tidak mau makhluk-makhluk itu datang lebih cepat dari kita.” Kata Nala. Keduanya langsung melesat pergi menuju rumah tetua Sion. Di sana masih dalam keadaan aman. Beberapa orang tampak bahu-membahu mendirikan bangunan untuk para pengungsi.


Bantuan dari kerajaan Api telah datang. Mereka adalah sepuluh prajurit sakti yang ditugaskan untuk menjaga desa tetua Sion. Seragam yang mereka kenakan berbahan sama dengan pakaian manusia api yang telah dibunuh oleh manusia perak setengah elang sehingga Batari Mahadewi dan Nala menduga, para prajurit itu bisa berubah menjadi manusia api dalam wujud sempurna.


“Zura, kau datang juga akhirnya.” Kata tetua Sion kepada salah satu dari kesepuluh prajurit itu yang merupakan pemimpinnya.


“Seluruh anggota kami berpencar untuk menjaga desa-desa kecil yang mungkin akan menjadi sasaran, kakak.” Kata Zura. Lelaki itu memiliki raut wajah yang mirip dengan tetua Sion. Ia adalah adik kandung tetua Sion yang bekerja sebagai pasukan khusus kerajaan yang bertugas untuk menangani masalah-masalah darurat di luar wilayah kerajaan.


“Apakah ada berita dari kerajaan tentang makhluk-makhluk yang menyerang desa ini?” tanya tetua Sion.


“Sepertinya ada informasi mengenai asal usul makhluk-makhluk itu. Tetapi hal itu masih menjadi informasi rahasia yang bahkan aku sendiri tidak tahu. Kami semua hanya ditugaskan untuk berjaga-jaga.” Kata Zura.


“Kita kedatangan kedua tamu, Zura. Keduanya berasal dari dunia satu rembulan. Mereka yang telah membantu guru Xima. Hanya saja, guru tidak selamat.” Kata tetua Sion.


“Apa! Jadi benar kabar itu, guru besar kuil Api Suci mengatakan jika dalam waktu lebih dari sehari guru Xima tidak kembali, kemungkinan besar beliau gugur.” Kata Zura.


“Kami hanya ingin menyampaikan pesan dan mengantarkan lencana guru Xima ke kuil suci, paman.” Kata Batari Mahadewi.


Selanjutnya, tetua Sion, Zura, Batari Mahadewi dan Nala bercerita dan menyusun rencana selanjutnya. Batari Mahadewi dan Nala sangat yakin bahwa makhluk-makhuk itu akan datang dalam waktu dekat. Setidaknya makhluk yang baru saja dilukai oleh Batari Mahadewi; ia akan datang dengan bantuan untuk tak hanya menghancurkan desa, tapi juga merebut pusaka suci yang mereka maksudkan.


Tak terasa, hari yang sibuk itu berubah menjadi petang, dan dengan cepat bergerak menjadi tengah malam. Tak ada warga yang bisa beristirahat dengan tenang. Mereka semua berjaga.

__ADS_1


Tepat seperti dugaan Batari Mahadewi dan Nala, keduanya merasakan adanya pancaran energi yang khas dari manusia perak datang mendekat dan dalam jumlah yang cukup banyak.


__ADS_2