
Tanpa malam yang gelap, bulan tak tampak. Demikianlah, cahaya tak selalu bermakna menerangi kegelapan. Sebaliknya, gelap membuat cahaya bisa dikenali dan dinikmati. Bulan bulat penuh yang tersangkut di ranting langit itu berbagi cahaya kepada sepasang insan yang terpapar rindu itu. Keindahannya tak serta-merta karena bulan itu memantulkan cahaya, namun juga karena malam telah tiba.
Keduanya duduk memandang bulan sembari bercerita, tentang kegaduhan hati mereka hingga berisik kekacauan para pasukan kegelapan.
“Apa rencanamu selanjutnya Tari?” tanya Nala.
“Seperti yang kuceritakan, jika aku bertemu lebih dari dua makhluk iblis, sepertinya sungguh sulit menghadapinya. Jika harus pergi berburu mahkluk iblis, maka aku butuh kau mendampingiku,” kata Batari Mahadewi.
“Apakah itu sekaligus berarti bahwa kau tak mau jauh dariku,” goda Nala sambil tertawa gemas.
“Nala, aku bicara sungguh-sungguh!” kata Batari Mahadewi.
“Dan aku juga sungguh-sungguh tak mau berpisah lagi denganmu, Tari. Tiga bulan ini terasa mengesalkan harus menunggumu dan tak berbuat apa-apa. Sementara kau, bahkan kau sudah bisa membuat senjata pusaka! Aku telah melewatkan banyak hal!” protes Nala.
“Hahaha, jangan marah. Jika kau tak disini, bagaimana dengan nasib orang-orang jika makhluk iblis itu berbuat kekacauan?” sanggah Batari Mahadewi.
“Jika kita akan selalu berdua, artinya kita tak bisa kemana-mana, bukan? Lalu bagaimana caranya membantu pulau-pulau lain yang sudah di serang oleh para pasukan iblis itu?” tanya Nala.
“Bisa, Nala. Sesekali kita tinggalkan orang-orang yang kita sayangi di sini. Kita pergi sebentar ke pulau lain, lalu kembali lagi ke sini untuk memastikan bahwa keadaan di sini baik-baik saja. Tapi sebelum kita melakukan hal itu, aku ingin kau membantuku membuat banyak senjata untuk para pendekar yang kita percayai. Senjata itu akan sangat membantu mereka,” kata Batari Mahadewi.
“ide bagus,” sahut Nala.
“Dan, aku juga ingin mengajakmu ke suatu tempat setelah malam ini,” kata Batari Mahadewi.
“Suatu tempat?” tanya Nala.
“Ya, aku sangat merindukan ibuku. Aku akan mengajakmu ke sana. Mungkin ibuku sudah tak mengenali wujudku saat ini. Tapi aku bisa membuatnya yakin bahwa aku adalah anaknya. Bagaimanapun juga, ia membesarkanku seperti anaknya sendiri,” kata Batari Mahadewi.
“Kau beruntung, Tari, masih memiliki seseorang yang menjadi ibumu. Aku belum pernah merasakannya,” kata Nala.
“Ibuku adalah ibumu juga. Ingat itu. Kau lelakiku!” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Terimakasih, Tari. Kau benar-benar membuatku berharga. Sebelumnya aku hanyalah sampah, hanyalah malapetaka kecil yang menakut-nakuti banyak orang di tempat asalku,” kata Nala. Diciumnya kening gadis cantik yang galak itu dengan penuh kasih sayang.
“Kita harus segera kembali menemui kakak-kakak kita, Nala,” kata Batari Mahadewi.
“Ya, mereka belum tahu kalau sosok yang kukejar tadi adalah kau. Mungkin kedua kakakmu itu sangat merindukanmu. Hmm….bagaimana jika kita berpura-pura dulu? Aku ingin membuat kejutan dengan tak memberitahukan dahulu hubungan kita yang baru ini,” kata Nala.
“Aku juga berfikir begitu,” kata Batari Mahadewi. Sepasang petarung berkekuatan super itu melesat meninggalkan gunung dan bergegas menuju ke tempat ketiga kakaknya yang tengah memanggang ikan dan ayam hutan.
Aroma ikan dan ayam bakar berhamburan ditiup angin. Dari jauh, Batari Mahadewi yang terbang bersama Nala bisa mencium semerbak gurih yang belum hangus itu. Perut gadis itu meronta-ronta setelah bertukar rasa dan cinta.
Kedatangan Nala dan Batari Mahadewi membuat ketiga kakaknya serasa mendapatkan kejutan. Vidyana sangat terpana memandang kecantikan gadis pilihan Nala itu. Pantas saja Nala bisa jatuh cinta!
“Tariiii!!!” kata Jalu dan Niken serempak.
“Kakaaaakk…apa kabar? Apakah sudah ada yang bisa dimakan?” kata Batari Mahadewi sambil cengengesan. Hatinya sangat riang.
“Hais…kau ini lebih mementingkan makan! Tunggu sebentar lagi, ini masih setengah matang!” kata Niken.
“Tari, ini kakakku, Vidyana,” kata Nala memperkenalkan kakaknya. Dengan malu-malu kekasih Nala itu menjabat tangan Vidyana dan berhasil membuat kakak Nala itu kaget dengan tangan lentik jemari tangan Batari Mahadewi yang serasa logam.
“Aku akan pergi sebentar mencari makanan tambahan,” Nala menghindari pertanyaan itu. Meski lahir di pulau Neraka, tetapi Ia anak yang jujur. Susah untuk berbohong. Tetapi ia memang harus mencari tambahan makanan. Beberapa ekor ikan dan ayam hutan itu sepertinya tak akan cukup untuk mengisi perut kekasihnya.
“Tari, sepertinya kau tampak senang sekali?” pancing Niken.
“Ya…hahaha, karena aku bertemu kalian semua,” jawab Batari Mahadewi. Jalu hanya berdehem beberapa kali, seolah ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya.
Mereka berbicara panjang lebar tentang banyak hal. Vidyana yang paling tampak pendiam di antara mereka semua.
Beberapa saat kemudian, Nala telah datang dengan membawa seekor rusa jantan besar yang sudah dikuliti dan dibersihkan. Siap untuk dipanggang.
Maka malam itu, puaslah perut mereka. Puaslah batin mereka. Malam itu secara tak sengaja telah menjadi sebuah pesta kecil atas pertemuan yang tak direncanakan.
__ADS_1
“Besok pagi aku dan Nala akan ke Cemara Seribu. Mungkin tak lama. Bagaimana jika kalian bertiga menunggu kami di kota Dhyana? Atau adakah ide yang lebih bagus?” kata Batari Mahadewi.
“Oh…jadi sudah mau diperkenalkan…” sekali lagi Jalu selalu berusaha menggoda mereka berdua.
“Ibuku pasti mengira kami adalah orang asing,” Batari Mahadewi mencoba menghindari jebakan Jalu.
“Ibumu pasti bisa mengenalimu, adik,” kata Niken memberi semangat, “Memang sebaiknya kau menengok ibumu.”
“Apakah aku boleh ikut?” tanya Vidyana. Pertanyaan yang terasa aneh, tetapi begitulah. Jika Nala dan Tari pergi, maka sudah pasti Vidyana akan bersama Jalu dan Niken. Ia merasa canggung. Terlebih Jalu dan Niken adalah sepasang kekasih.
“Ya, kakak boleh ikut,” kata Batari Mahadewi segera menjawab. Ia lebih peka dari Nala yang bisa menangkap kegelisahan Vidyana.
“Baiklah, kita istirahat dulu,”
Semua orang akhirnya tertidur, kecuali Nala yang dengan perlahan menata kayu perapian agar tetap menyala sekaligus tidak terlalu berisik.
*****
Pagi merekah di cakrawala timur. Nala,Vidyana, dan Batari Mahadewi pergi ke Cemara Seribu. Niken dan Jalu kembali ke kota Dhyana.
Nala berhasil memaksa kakaknya untuk melakukan perjalanan jalur cepat. Vidyana mengumpat dan berteriak histeris di sepanjang perjalanan. Tapi sesampainya di sebuah bukit kecil dengan pohon berbatang meliuk-liuk yang menjadi pemisah desa Cemara seribu dengan desa Teratai Tanah, Vidyana tidak lagi muntah-muntah seperti sebelumnya. Ia hanya merasakan pusing serta jantungnya berdegub sangat cepat.
“Apakah kita sudah sampai?” tanya Vidyana. Ia cemas jika harus melakukan perjalanan dengan cara yang sama sekali lagi.
“Ya, tinggal jalan kaki menuruni bukit ini,” jawab Batari Mahadewi. Ia membantu Vidyana memulihkan tenaga. Energi dari gadis jelmaan pusaka dewa itu berbeda dengan Nala. Vidyana merasa cepat pulih setelah Batari Mahadewi menyalurkan kekuatannya.
Ketiga pendekar itu berjalan menyusuri jalan setapak dari bukit menuju ke rumah Nyi Kunyit. Janda yang terlihat tua dan rapuh itu sedang memetik cabe di halaman.
Setiap langkah semakin dekat ke rumah membuat air mata Batari Mahadewi jatuh tak tertahankan. Maunya ia berlari dan memanggil ibunya, lalu memeluknya erat-erat. Tapi itu tidak mungkin. Bisa-bisa Nyi Kunyit akan kaget dan pingsan.
Nyi Kunyit hanya memandang heran ketiga tamunya yang telah sampai di halaman itu. Wajahnya berkerut-kerut, tampak mengingat-ingat siapakah mereka itu? Apakah ia pernah bertemu dengan mereka sebelumnya?
__ADS_1
“Tuan dan nona, adakah yang bisa saya bantu?” tanya Nyi Kunyit.
“Ini aku, ibu, Tari, anakmu!” sahut Batari Mahadewi.