Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 237 Makhluk Iblis Buma #2


__ADS_3

Tenggorokan pendekar Mata Iblis langsung kering mendengarkan ancaman Batari Mahadewi yang disampaikan secara tak langsung itu. Jika panglima Kera Api telah kalah, maka semua pendekar Tirayamani di kerajaan itupun tak akan berarti apa-apa.


Tak ada pilihan lain selain harus melawan pendekar cantik itu. Jikalaupun mereka lari, toh sang ratu akan mengubah mereka semua menjadi kutu ayam dan hal itu bukanlah pilihan yang bijak.


Batari Mahadewi merasakan pancaran energi Buma semakin meningkat tajam. Ia harus segera bergerak cepat sebelum Buma benar-benar pulih. Ia khawatir makhluk itu bisa mencelakai banyak nyawa. Jika para dewa di masa lalu harus membelah Buma menjadi beberapa bagian, artinya makhluk itu memang benar-benar sulit ditaklukkan.


“Aku tak punya banyak waktu untuk meladeni kalian. Jika kalian ingin bertarung, maka sekarang majulah. Tapi jika kalian ingin lari, silahkan saja. Aku harus menghentikan makhluk yang kalian jaga itu sebelum ia menjadi malapetaka bagi semua orang di sini.” Kata Batari Mahadewi.


“Serang perempuan ini bersama-sama!” perintah Pendekar Mata Iblis, ia dan teman-temannya menyerang Batari Mahadewi secara bersama-sama. Mereka melesat dan menghujamkan berbagai pukulan beracun dan pukulan tenaga dalam ke arah gadis jelmaan pusaka dewa itu.


Namun serangan mereka hanya mengenai udara kosong. Batari Mahadewi telah ada di belakang mereka semua. Dengan cepat, gadis jelmaan pusaka dewa itu memampatkan udara dan membuat semua lawan-lawannya tak bisa bergerak dan perlahan mengalami kesulitan untuk bernafas.


Para prajurit Kamandapala tak mau menyia-nyiakan tontonan gratis dan berbahaya itu. Mereka semua berjejer dan berdesakan di atas benteng dengan hati senang karena melihat para pendekar Tirayamani itu tampak tak berdaya. Mereka berfikir, jika orang-orang Tirayamani itu kalah, maka mereka bisa bebas. Padahal, bahaya yang sesungguhnya ada di bawah belakang mereka.


Ratusan prajurit itu berteriak kegirangan setelah Batari Mahadewi benar-benar melumpuhkan para pendekar Tirayamani dan membuat mereka semua kehilangan ingatan. Namun seiring dengan sorak sorai yang membahana itu, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan di belakang mereka. Istana Kamandapala telah berlubang ditembus oleh cahaya kemerahan yang menjulang tinggi hingga ke langit.


Seketika suara sorak-sorai itu digantikan dengan keheningan. Para prajurit polos itu lari tunggang langgang setelah melihat sosok Buma telah melayang di udara. Entah bagaimana dengan nasib orang-orang yang saat itu masih berada di dalam istana. Yang pasti, istana itu telah rusak parah.

__ADS_1


Makhluk itu berukuran dua kali lelaki dewasa, bertubuh merah darah dengan penampilan yang bisa membuat ikan-ikan di sungai langsung mati tersedak air karena kaget. Ya, makhluk itu berbeda dengan monster-monster yang pernah dilihat oleh Batari Mahadewi.


Buma memiliki lebih dari satu mulut; tiga mulut kecil bertaring hitam di bagian kepala, dua dengan bentuk yang sama di bahu, dua lagi di dada kiri dan kanan, tiga di punggung, di tambah lagi dengan dua mulut di telapak tangan kanan dan kiri, dua di lutut kanan dan kiri, dan terakhir serta yang paling besar dan lebar terdapat di perut. Benar-benar makhluk yang banyak mulut.


Buma melayang mendekati Batari Mahadewi. Gara-gara pancaran tenaga Batari Mahadewi sewaktu bertarung dengan para curut Tirayamani itulah Buma merasa terganggu dan ia akhirnya menampakkan diri sebelum waktunya.


Batari Mahadewi sempat melongo sejenak melihat keanehan dari makhluk itu. Namun sesaat kemudian, bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, tapi karena jijik. Hidung tajam Batari Mahadewi mampu mencium aroma busuk mulut Buma dari kejauhan.


“Kau datang lagi!” kata Buma. Monster itu berbicara dengan menggunakan mulut yang ada di perut. Tampaknya mulut yang paling besar itu adalah mulut yang paling penting, minimal untuk urusan bercakap-cakap.


“Jaga bicaramu. Kali ini aku akan membalas perbuatanmu seribu tahun yang lalu!” kata Buma.


“Apa maksudmu, umurku belum ada 20 tahun,” kata Batari Mahadewi.


“Hah? Aku tak mungkin salah. Aku kenal baik energi dewa dalam tubuhmu,” ujar Buma. Tentu saja monster itu tak salah soal energi dewa itu, sebab para dewa masing-masing telah menyumbangkan setengah dari mustika yang mereka miliki untuk menempa kekuatan Batari Mahadewi sebelum ia diubah menjadi bayi mungil yang ditemukan oleh Nyi Kunyit. Sehingga, energi dewa yang dikenal oleh Buma itu adalah energi beberapa dewa yang telah mencincang Buma menjadi beberapa bagian lalu memenjarakannya di pulau Kamandapala.


“Terserah apa katamu, yang pasti, setelah ini kau tak akan pernah bisa bangkit lagi untuk selamanya,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Menarik sekali. Aku tidak takut kepadamu!” kata Buma. Tiba-tiba monster itu menjulurkan lidah dari mulut diperutnya itu dengan sangat cepat. Lebih cepat dari lidah kodok yang menangkap lalat. Lidah itu seperti memiliki perekat dan menjerat Batari Mahadewi yang pada waktu itu tak sempat menghindar.


Setelahnya, lidah besar yang lengket dan penuh lendir itu dengan kuat menarik tubuh Batari Mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu dengan tangkas mengguakan tangannya untuk menahan tubuhnya agar tak masuk ke dalam mulut Buma.


Kuku tajam gadis jelmaan pusaka dewa itu menembus daging Buma dan membuat monser itu mengerang kesakitan, lalu melemparakan Batari Mahadewi dengan kedua tangannya hingga gadis jelmaan pusaka dewa itu meluncur deras dan menghujam tanah hingga tercipta dentuman besar.


“Makhluk menjijikkan!” umpat Batari Mahadewi. Gadis cantik itu lalu menghilang dan dalam satu kedipan mata telah ada di balik punggung Buma. Sayangnya, monster itu bisa merasakan energi Batari Mahadewi yang tiba-tiba berada di belakangnya. Sebelum gadis jelmaan pusaka dewa itu menghujamkan pukulan, ketiga mulut Buma yang ada di punggung itu telah lebih dahulu beraksi.


Lagi-lagi Batari Mahadewi terlilit lidah panjang dan bau busuk dari ketiga mulut Buma yang ada di punggung. Dua lidah mencekeram pergelangan tangan Batari Mahadewi, sementara satu lidah lagi melilit kedua kaki gadis cantik yang basah oleh lendir itu. Pertarungan itu sungguh membuat Batari Mahadewi mual.


Racun Buma memang tidak mempan di tubuh gadis cantik itu, namun aroma busuk yang menyengat itu lebih menyiksa dari sambaran halilintar. Buma berputar beberapa kali dan melemparkan Batari Mahadewi hingga jauh. Tubuh gadis jelmaan pusaka dewa itu meluncur bebas tak terkendali dan terhempas di sebuah batu besar. Benturan itu tak hanya menghasilkan ledakan besar, namun juga membuat pulau Kamandapala sempat berguncang beberapa saat.


Ya, lebih baik terlempar dan membentur batu besar dari pada harus dekat dengan mulut yang hampir tak pernah dibersihkan itu. Batari Mahadewi segera bangkit. Ia sangat bersemangat karena beberapa waktu belakangan ini ia tak pernah benar-benar bertarung dengan serius.


Sampai di sini dulu teman-teman. Dalam kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga hari raya suci ini menjadi berkah dan penyemangat kita semua di kala wabah covid 19 di bumi kita tercinta ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera reda.


Sebagai makhuk yang lemah dan serba terbatas, saya hanya bisa meyakini satu hal, bahwa Tuhan punya rencana untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang ada dalam lindunganNya. Amin.

__ADS_1


__ADS_2