Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 129 Perjalanan Rombongan Kerajaan


__ADS_3

Mahapatih Siung Macan Kumbang memerintahkan Anjani dan Pradipa untuk membantu pengawalan rombongan keluarga kerajaan Swargabhumi dari kota Mutiara Biru menuju kota Swargadwipa. Dua kota itu berjarak dua minggu perjalanan dengan menggunakan kuda yang dipacu dengan kekuatan penuh. Menurut perkiraan, rombongan akan tiba di kota Swargadwipa dalam waktu tiga minggu sejak keberangkatan dari kota Mutiara Biru.


Anjani dan Pradipa telah datang di balai kota Mutiara Biru sehari sebelum para rombongan kerajaan Swargabhumi sampai. Mahapatih Siung Macan Kumbang merasa tidak tenang mempercayakan pengawalan kepada para prajurit khusus yang disiagakan di kota Mutiara Biru dan beberapa pendekar dari perguruan Lentera Langit. Oleh karenanya, ia mengirimkan Anjani dan Pradipa sebagai tambahan bantuan.


Sore itu, di balai pertemuan kota Mutiara Biru, adipati Balawardha memimpin rapat terkakit dengan rencana penyambutan dan pengamanannya, hingga prosesi pengawalan dari Mutiara Biru hingga kota Swargadwipa. Ia membacakan seluruh alur dan prosedur serta pembagian tim yang akan bekerja pada masing-masing tugasnya.


Anjani dan Pradipa hanya menyimak saja acara itu. Keduanya akan bergabung dengan divisi pengawal khusus yang dipimpin oleh senopati Welang dan di bantu oleh empat pendekar senior dari perguruan lentera langit. Sisanya adalah para prajurit berkemampuan tinggi.


“Mohon maaf, senopati. Sesampainya di kota ini, kami malah terlebih dahulu bertemu dengan adipati. Kami berdua adapah utusan Mahapatih Siung Macan Kumbang yang ditugaskan sebagai pengawal tambahan. Saya adalah Anjani dari padepokan Cemara Seribu, dan rekan saya ini adalah Pradipa, pendekar Bintang Timur.” Kata Anjani memperkenalkan diri kepada senopati Welang.


“Sungguh suatu kehormatan bagi saya mendapatkan bantuan langsung dari pendekar berilmu tinggi utusan mahapatih. Terimakasih banyak, tuan dan nona. Bantuan ini tentu sangat saya harapkan. Saya yakin perjalanan pengawalan ini tak akan berjalan mulus.” Kata senopati Welang.


Senopati Welang termasuk salah satu senopati terbaik yang dimiliki Swargadwipa. Ia ditugaskan untuk memimpin seluruh pasukan kerajaan yang ditempatkan di kota Mutiara Biru selama bertahun-tahun, mengingat kota tersebut merupakan kota perbatasan yang membutuhkan banyak prajurit berkemampuan tinggi.


Pada malam hari itu juga, senopati Welang mengirimkan puluhan pasukan mata-mata yang disebar di seluruh kota Mutiara Biru, dan juga di sepanjang jalur perjalanan untuk memantau segala pergerakan yang mencurigakan. Pasukan itu telah terlatih dengan baik dan memiliki kemampuan tinggi sehingga penyamaran mereka nyaris tak akan terbongkar bahkan oleh pendekar sakti sekalipun.


####

__ADS_1


Keesokan harinya, sebelum tengah hari, para rombongan kerajaan Swargabhumi telah tiba di kota Mutiara Biru. Rombongan itu disambut dengan meriah oleh adipati Balawardha dengan berbagai suguhan pertunjukan seni serta hidangan-hidangan istimewa yang dibuat oleh para juru masak ahli dari kota Mutiara Biru.


Pengawalan di kota itu sangat ketat sehingga tak memberikan celah bagi Wajah Setan beserta pendekar-pendekar sewaannya yang telah menyamar sedemikian rupa sehingga tak terlacak oleh prajurit mata-mata senopati Welang. Andaikan Wajah Setan menyewa banyak pasukan, tentu pergerakannya akan sangat mudah terbaca.


Wajah Setan dan anak buahnya hanya bisa mengamati keadaan balai kota Mutiara Biru yang dijaga ketat oleh banyak prajurit. Mereka tak menyangka bahwa pengawalan akan seketat itu. Maka, Wajah Setan mengurungkan niatnya dan mengajak anak buahnya kembali ke markas dan membicarakan rencana baru.


“Aku tak mengira penjagaan akan seketat itu, kalau begini ceritanya, kita tak mungkin menghabisi pangeran keenam di kota ini.” Kata Wajah Setan.


“Tuan benar. Sebaiknya kita serang mereka di malam hari ketika mereka dalam perjalanan. Mungkin di tengah hutan adalah lokasi yang paling tepat. Ada banyak hutan lebat yang harus mereka lewati. Pastinya, akan ada satu hutan yang tak akan selesai ditempuh dalam dua hari perjalanan.” Kata pendekar Laba-Laba.


“Ya, aku suka usulmu itu. Kita tunggu saja pergerakan rombongan itu.” kata Wajah Setan.


“Begini saja. kita datang secara terpisah. Dengan begitu keberadaan kita tak akan dicurigai. Aku menawarkan diri sebagai penyerang pertama. Aku bisa memperlambat perjalanan mereka sembari menunggu kalian datang menyusul memberikan serangan kejutan. Setidaknya, mereka tak akan bisa membunuhku dengan mudah.” Kata pendekar Seribu Nyawa.


“Bunuh juga para mata-mata yang kalian ketahui keberadaannya.” Kata Wajah Setan.


####

__ADS_1


Rombongan itu berangkat pada pagi yang cerah setelah mereka semua bermalam di kota Mutiara Biru. Senopati Welang membawa setidaknya lima puluh prajurit pilihan yang ditemani oleh empat pendekar senior perguruan Lentera Langit, Anjani dan Pradipa. Mereka semua menunggang kuda, dan empat buah kereta kuda, yang satu untuk sang pangeran beserta empat pengawal pribadinya dan ketiga lainnya untuk membawa seluruh perbekalan. Seluruh prajurit pengawal kerajaan Swargabhumi telah kembali pulang ketika pengawalan diambil alih oleh senopati Welang.


Anjani dan Pradipa bertugas sebagai pengawal yang paling depan, tepat dibelakang sepuluh prajurit pembuka jalan. Senopati Welang dan para pasukan berkuda lainnya berada di sekeliling kereta yang mereka kawal. Sementara, empat pendekar senior dari perguruan Lentera Langit berada di barisan paling belakang.


Rombongan itu terus melaju dengan cepat, dan sesekali hanya mampir sejenak di desa-desa atau kota lain yang mereka lewati untuk beristirahat. Mereka lebih suka bermalam di padang rumput tepi hutan dan mendirikan tenda-tenda di sana. Setidaknya, dalam ruang terbuka seperti itu, penyusup akan lebih mudah dikenali jika dibandingkan dengan menginap di kota.


Awalnya, pangeran ke enam Swargabhumi sempat protes sebab rombongan itu tidak mau beristirahat dan menginap di kota atau desa yang mereka lewati. Namun, ia dan pengawal pribadinya tak bisa berbuat banyak selain harus mematuhi prosedur pengawalan dari kerajaan Swargadwipa. Pangeran keenam itu tidak pernah tahu bahwa ia sedang dijadikan tumbal oleh ayahnya untuk memulai peperangan.


Di hari ke tujuh, pada sebuah sore menjelang petang, rombongan itu masih berada di tengah hutan Gaung, hutan yang paling luas yang harus mereka tempuh untuk menuju kota Swargadwipa. Selain binatang buas yang menghuni hutan itu, berbagai siluman juga mendirikan kerajaan, di bagian hutan yang paling gelap dan tak terjamah manusia.


Bukan tak mungkin bahwa hutan seperti itu juga menjadi tempat persembunyian perampok, atau menjadi tempat bertapa bagi beberapa pendekar kelana yang sedang meningkatkan kemampuan mereka. Yang jelas, rombongan itu bukanlah satu-satunya kelompok manusia yang ada di hutan tersebut.


Ki Wiraguna, salah satu senior dari perguruan Lentera Langit memasang mantera tolak bala di sekeliling rombongan itu mendirikan tenda. Ia adalah satu-satunya pendekar yang menguasai ilmu ghaib aliran putih yang berada dalam rombongan pengawalan itu. Fungsi dari mantra tersebut adalah untuk menolak gangguan siluman serta melindungi rombongan itu dari ilmu hitam yang dikirim dari jarak jauh seperti misalnya ilmu sirep, yang akan membuat seluruh rombongan tertidur pulas, serta ilmu tenung.


Pendekar Wajah Hantu dan para anak buahnya berpencar di enam penjuru arah mengelilingi rombongan itu dari jarak yang jauh. Seperti yang mereka sepakati, pendekar Seribu Nyawa akan menyerang terlebih dahulu. Ia memiliki ilmu yang unik, yakni tak akan bisa dibunuh kecuali jika kepalanya dipisah dari tubuhnya, lalu kepala itu digantung di sebuah tempat sehingga tak akan menyentuh tanah. Dalam waktu empat puluh hari, ia akan benar-benar mati.


Oleh karena itulah, ia yakin bahwa ia bisa bertahan lama menghadapi serangan para pendekar sakti dan prajurit yang mengawal rombongan itu. Pendekar Seribu Nyawa memutuskan untuk mulai menyerang ketika hari telah benar-benar gelap.

__ADS_1


**##### **


Teman-teman, 1 chapter dulu ya. Sengaja ini, biar kalau teman-teman kehabisan bahan bacaan, teman-teman mau mampir ke novel yang mau aku promosiin di sini. Ingat baik-baik ya teman-teman, seorang author yang bernama Hujan Pemimpi. Dia punya banyak karya lho dan hampir semua merupakan karya bergenre teen dan romantis. Saat ini, novelnya yang sedang di update terus itu berjudul UNBEATABLE-TALKING ABOUT U. Kalau teman-teman ingin menikmati memori indah di sekolah, maka novel ini bakalan bikin kita pengen balik ke SMA dan kembali berbuat ulah di sana. Haaahhh...aku agak nyesel, kenapa SMA cuma 3 tahun.... Nah, tunggu apa lagi teman-teman, langsung saja kunjungi novel itu. Jangan lupa kasih Fav, Like, dan Komen, sekaligus Vote biar Thor Hujan Pemimpi sadar kalau novelnya itu patut diperjuangkan.


__ADS_2