
Dalam kepungan empat siluman kuat itu, Batari Mahadewi dan pendekar Seribu Pedang berdiri saling membelakangi. Kakek tua itu berfikir keras untuk mencari cara lolos dari cengkraman empat siluman berwujud mengerikan itu.
“Kau sudah membawa masalah besar, nona,” kata kakek tua itu pelan, setengah berbisik sambil tetap memasang kewaspadaannya mengamati gerak-gerik empat siluman yang belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerang.
“Jangan khawatir kakek, pasti kakek akan menyelamatkanku, bukan?!” Kata Batari Mahadewi. Tentu kata-kata itu semakin membuat kakek tua itu kesal bukan main. Ia sudah lama sekali tak bertarung. Satu siluman besar semacam itu masih mungkin ia hadapi. Tetapi kalau empat siluman besar mengepungnya, harapan untuk melarikan diripun sangatlah tipis.
“Tak ada cara lain selain lari, nona,” kata kakek itu memberitahukan apa yang ada dalam kepalanya. Namun jelas, ia belum punya ide bagaimana menjalankannya.
“Tapi aku ingin melihat kakek bertarung dan melawan siluman-siluman itu,” kata Batari Mahadewi. Dalam hati ia tertawa karena berhasil sedikit mempermainkan kakek tua itu. Ia berfikir bahwa kakek tua itu sudah terlalu lama tertidur. Sudah waktunya untuk membangunkannya dan mengembalikannya ke medan perang. Ia yakin kakek itu akan menjadi salah satu tokoh penting selain Tahagatara dan Udhata ketika masa-masa kegelapan telah terjadi.
Salah satu dari siluman itu mulai menghardik dengan suara keras, ”Kalian berdua yang membunuh rakyak kami kan?” Matanya melotot geram menatap Batari Mahadewi dan kakek tua itu.
Sudah pasti kakek itu semakin jengkel. Betapa tidak, ia menjadi sasaran kemarahan siluman itu padahal ia tak melakukan apa-apa. Semua gara-gara gadis tak tahu diri itu!
“Bukan kami pelakunya, tapi dia!” kakek itu menunjuk Batari Mahadewi untuk melihat reaksi gadis muda nan cantik itu sekaligus untuk memberi gadis itu sedikit pelajaran.
“Aku membunuh rakyatmu karena mencari kakek ini,” kata Batari Mahadewi. Jawaban yang tak terduga dan membuat sang kakek benar-benar kesal karena gadis itu memang sengaja melibatkan dirinya dalam masalah itu.
“Apapun alasan kalian, kami tetap akan menghukum kalian berdua!” Kata siluman itu. Selesai mengucapkan kalimat itu, siluman itu dengan diikuti oleh ketiga siluman lainnya menyerang Batari Mahadewi dan sang pendekar Seribu Pedang.
Dua siluman berhadapan dengan sang kakek tua, sementara dua lainnya bersikeras mengejar Batari Mahadewi yang hanya menghindari serangan ke berbagai arah dengan gerakan yang sebenarnya cepat, namun terkesan seolah hanya beruntung bisa menghindari serangan siluman itu.
Batari Mahadewi sengaja ingin melihat sang kakek itu beraksi. Entah mencoba melarikan diri atau melawan dua makhluk menyeramkan itu.
Tak sia-sia, kakek itu pada akhirnya mengeluarkan kemampuannya untuk mencoba melawan dua siluman kuat yang sedang menghujamkan serangan-serangan mematikan itu.
__ADS_1
Tubuh sang kakek memancarkan cahaya kebiru-biruan. Di tangannya telah muncul sebuah pedang besar dan panjang yang terlihat berat. Dengan sekali ayunan, pedang besar itu mengeluarkan cahaya-cahaya energi yang berbentuk ribuan pedang yang melesat cepat ke arah tubuh dua siluman yang menjadi lawannya itu.
Serangan kakek tua itu bukan mainan belaka. Cahaya-cahaya energi itu meledak ketika membentur tubuh sang siluman. Hanya saja, tubuh dua siluman itu seolah terbuat dari sesuatu yang sangat keras yang tak akan bisa dilukai dengan serangan semacam itu.
Sang kakek mengumpat kesal. Ia melesat dengan kecepatan tinggi, selincah lalat yang bergerak ke sana kemari menyerang sembari menghindari serangan dua siluman yang bersamaan menghujam ke arahnya.
Begitu kakek itu mendapatkan kesempatan bagus, ia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh tepat ke punggung siluman itu. Hasilnya luar biasa, ledakan menggelegar, siluman jatuh terjerembab ke tanah dengan dentuman besar, dan yang paling penting adalah pedang kakek itu hancur menjadi beberapa bagian. Wajahnya merah padam. Pedang pusaka kesayangannya hancur begitu saja dan siluman itu tidak mati!
Mengetahui hal itu, Batari Mahadewi menjadi sedikit serius. Dengan kecepatan kilat, ia merobohkan dua siluman sakti itu tanpa sepengetahuan kakek tua dan dua siluman lainnya. Gadis jelmaan pusaka dewa itu lalu melesat ke arah sang kakek, menyerahkan sebuah pedang pusaka buatannya untuk kakek itu.
Belum sempat kakek itu berkata-kata, Batari Mahadewi segera melesat pergi menghampiri dua siluman lawannya yang mulai bangkit itu. Sementara sang kakek mencoba menggunakan pedang pusaka yang baru saja ia dapatkan itu.
Dengan jurus yang sama, yakni jurus seribu pedang, ia menyerang satu siluman besar yang tengah melesat ke arahnya itu. Satu ayunan menciptakan seribu pedang cahaya yang menerjang tubuh siluman di hadapannya itu.
Sementara itu, Batari Mahadewi sudah mengambil dua mustika siluman yang menjadi lawannya, memurnikan kekuatannya, lalu ia menyimpannya. Batari Mahadewi menoleh ke arah kakek tua itu sambil cengengesan. Ia tak mau menyianyiakan dua mustika lagi yang masih bersarang di tubuh siluman yang dibunuh oleh kakek tua itu.
Sang kakek hanya tertegun melihat apa yang dilakukan oleh Batari Mahadewi.
“Apa yang akan kau lakukan dengan mustika-mustika itu?” tanya sang kakek.
“Untuk membuat senjata seperti yang kakek pegang itu,” jawab Batari mahadewi polos.
“Jadi kau sendiri yang membuat pusaka seperti ini?” tanya sang kakek tua itu.
“Ya. Yang itu kuhadiahkan kepada kakek karena telah menolongku tadi,” jawab batari Mahadewi.
__ADS_1
“Siapa kau sebenarnya, nona kecil?” tanya sang kakek.
“Panggil saya Tari, kakek. Saya mencari kakek untuk menyerahkan pedang itu. Sebelumnya saya bertemu dengan kakek Tahagatara dan memberikan satu bilah pedang untuknya. Kakek Tahagataralah yang menyuruhku mencarimu.” Kata Batari Mahadewi.
“Tapi kenapa?” tanya kakek itu kebingungan.
“Sebentar lagi malapetaka besar akan terjadi. Dengan menciptakan pedang pusaka semacam itu dan memberikannya kepada pendekar yang tepat, setidaknya malapetaka itu mungkin bisa diredam.” Kata Batari Mahadewi.
“Malapetaka apa yang kau maksudkan?” tanya kakek tua itu.
“Kerajaan Tirayamani sedang memperluas kekuasaannya. Kakek pasti tahu bahwa pasukan mereka adalah para pendekar hitam setengah siluman yang sulit ditaklukkan kecuali dengan senjata pusaka sakti seperti itu.” jawab Batari Mahadewi. Ia sengaja tak menceritakan soal makhluk iblis kuno.
“Apakah mereka sudah ada di wilayah ini?” tanya sang kakek.
“Untuk saat ini belum. Tapi cepat atau lambat, mereka pasti akan bergerak untuk menguasai seluruh wilayah di pulau ini,” kata Batari Mahadewi.
“Darimana kau tahu soal hal itu?” tanya sang kakek.
“Sebelum saya sampai di pulau ini, saya telah melihat keberadaan mereka di pulau-pulau lain sebelum pulau ini,” jawab batari Mahadewi.
“Memangnya kau dari mana sehingga tahu soal mereka?” tanya sang kakek tua itu. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan mulai dari sejak kapan gadis itu merobohkan dua siluman yang menjadi lawannya hingga pedang pemberiannya itu. Perasaannya bercampur aduk antara heran dan merasa bodoh.
“Saya dari Mahabhumi, kakek!” jawab Batari Mahadewi seketika membuat kakek itu benar-benar tercengang.
Kedatangan Batari Mahadewi itu seolah menjadi perintah tak langsung yang dialamatkan padanya bahwa ia tak boleh berdiam diri di lereng gunung Hantu. Ia merasa seperti dilahirkan kembali. Mungkin agak berlebihan juga perasaan itu, tetapi pedang pusaka sakti yang menjadi miliknya itu adalah tanggung jawab yang harus ia jalankan. Selama beberapa saat, Batari Mahadewi menceritakan banyak hal kepada kakek itu sebelum kemudian gadis jelmaan pusaka dewa itu akhirnua pergi meninggalkannya, melesat ke arah barat untuk mencari pendekar-pendekar lain yang layak menerima senjata pusaka ciptaannya.
__ADS_1