Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 108 Mereka Menyerang! #5


__ADS_3

Lilitan naga air yang diciptakan oleh Anjani semakin kencang dan membuat wajah pendekar setengah siluman itu terlihat semakin memburuk. Namun hal itu tak berlangsung lama. Pendekar setengah siluman itu mengerahkan energinya untuk mengibaskan naga air yang melilit tubuhnya itu. Selebihnya, endekar setengah siluman yang marah itu menyerang Anjani hingga tubuh pendekar perempuan itu kembali terpental jauh.


Kondisi Anjani tak lagi terlihat baik. Enerinya telah banyak terkuras setelah menghadapi dua pendekar pulau Neraka, dan kini harus menghadapi pendekar setengah siluman itu yang membuatnya benar-benar kehabisan energi. Pendekar setengah siluman itu mengurungkan niatnya untuk langsung menuju ke istana, melihat Anjani yang tampak tak berdaya, pendekar itu ingin membunuhnya, menuntaskan rasa kesal atas apa yang telah dilakukan murid Ki Gading Putih itu kepadanya.


Pendekar setengah siluman itu mencoba menghunuskan ekornya yang sekeras logam itu ke tubuh Anjani untuk mengakhiri nyawa pendekar perempuan itu. Pada saat yang sama, sebuah pusaka sakti terbang dengan kecepatan tinggi, menebas ekor pendekar setengah siluman itu hingga putus. Pradipa datang tepat waktu, pusaka sakti Bintang Timur miliknya berhasil membuat pendekar setengah siluman itu meraung kesakitan.


Niken dan Jalu akhirnya sampai juga. Selagi pendekar setengah ular itu mengerang kesakitan, Jalu memberikan Pukulan Matahari tepat di dada pendekar itu hingga membentuk lubang menganga dengan tepi yang hangus. Pendekar setengah siluman itu ambruk dengan asap yang masih mengepul di dadanya.


Pradipa segera menolong Anjani sewaktu Jalu menggantikan posisinya untuk menghabisi pendekar setengah siluman itu. Untungnya, Pradipa selalu membawa persediaan mustika alam dan selalu sangat berguna di saat-saat genting seperti itu.


“Kalian semua langsung saja bantu yang lainnya, biar aku yang mengurus Anjani” Kata Pradipa kepada Jalu dan Niken. Sepasang pendekar api dan es itu langsung menuju ke tengah arena pertempuran, membantu para pendekar aliran putih lainnya yang tengah kesulitan melawan para pendekar berkekuatan siluman yang terus mengamuk itu.


“Cepat, gunakan mustika ini. Kita tak punya banyak waktu dan harus segera melanjutkan pertempuran.” Kata Pradipa kepada Anjani. Hati Anjani sedikit berdebar. Ia tak menyangka pendekar tampan itu terlihat panik saat menolongnya.


Tak lama kemudian, energi Anjani kembali pulih sepenuhnya. Pradipa sedari tadi menunggunya hingga Anjani selesai menyerap seluruh energi dari mustika alam pemberian Pradipa.

__ADS_1


“Terimakasih banyak, Pradipa. Aku berhutang nyawa kepadamu.” Kata Anjani.


“Ayo kita langsung bergabung dengan yang lainnya.” Kata Pradipa. Pendekar tampan itu mengangkat tangan kanannya, lalu benda yang memancarkan cahaya berwarna biru melesat cepat ke arah genggaman tangan Pradipa. Pusaka Bintang Timur seolah seperti bernyawa dan mengerti kehendak tuannya.


Satu-satunya murid ki Gading Putih yang tak bertarung pada malam hari itu adalah Buyung, sebab ia memang tak memiliki ilmu tinggi. Sedari tadi ia hanya ada di sekitar pertarungan adiknya, Cendana, sang pendekar Tubuh Besi. Sesekali, Buyung memberikan bantuan dengan mengendalikan pikiran lawan-lawan Cendana sehingga murid ke tiga Ki Gading Putih itu bisa menghabisi nyawa lawan-lawannya dengan mudah.


Lambat laun, satu persatu para pendekar pulau Neraka tumbang. Namun mereka juga telah menghabisi tak sedikit nyawa dari para pendekar sakti aliran putih yang diundang oleh Mahapati Siung Macan Kumbang.


Pendekar Sayap Kematian menggunakan cara paling buruk untuk menyelamatkan dirinya sekaligus untuk memenangkan pertarungannya dengan Batari Mahadewi. Ia menyergap rekannya sendiri dan menghisap seluruh tubuh rekannya untuk menjadi satu dengan tubuhnya. Dengan demikian, pendekar Sayap Kematian itu menjadi semakin kuat. Ia memiliki berbagi jenis perubahan bentuk tubuhnya sesuai dengan kemampuan pendekar pulau Neraka yang telah menjadi satu dengan tubuhnya.


Pendekar Sayap Kematian mengubah wujudnya menjadi seekor gorila raksasa bertubuh besi. Tanpa sadar, pikirannya telah dikendalikan oleh energi siluman yang terlalu banyak merasuk dalam tubuhnya. Kini, dalam wujudnya itu, Sayap kematian tak hanya berbahaya bagi para pendekar aliran putih, namun juga para pendekar aliran hitam. Siapapun yang ada didekatnya akan ia hisap agar menjadi satu dengan tubuhnya.


Pendekar legendaris dari pulau Neraka itu menghancurkan segala sesuatu dengan tubuhnya yang tinggi dan besar serta keras seperti besi. Para pendekar aliran Neraka yang tersisa tak berani mendekat dan pada saat itu juga, seluruh pertempuran telah terhenti karena semua mata ingin menyaksikan kehadiran monster raksasa bebentuk gorila yang setinggi pohon kelapa itu.


“Semua menjauh.” Teriak Batari Mahadewi. Suaranya menggema di seluruh penjuru angin dan didengar oleh semua orang yang ada di sana. Gadis kecil itu terbang dan melakukan serangan bertubi-tubi. Beberapa kali ia menggunakan jurus tapak petir dan pukulan matahari, namun gorila besar itu seolah tak merasakan sakit dan terus mengamuk tak terkendali dan tak tentu arah.

__ADS_1


Melihat Batari Mahadewi kewalahan, beberapa pendekar lainnya, yang semula merasa khawatir dan sempat menjauh, akhirnya mengabaikan peringatan Batari Mahadewi. Mereka mendekat dan menyumbangkan serangan. Hanya saja, seragan-serangan itu seolah seperti debu beterbangan ketika mengenai tubuh monster raksasa itu.


Kelima kakak Batari Mahadewi datang mendekat. Mereka tak bisa membiarkan adik bungsu seperguruannya itu bertarung sendirian. Dengan segala yang mereka kuasai, mereka mencoba menyerang gorila raksasa itu. Cendana yang memiliki tubuh sekeras besi mencoba untuk melontarkan pukulan terkuatnya di dada monster besar itu. Suara logam berdenting diikuti oleh gelegar ledakan yang dahsyat. Namun gorila raksasa itu masih berdiri dengan gagah, memandangi semua orang di sana layaknya anak kecil yang memandangi mainan berserakan di lantai.


Jalu menghujamkan semburan api ke wajah gorila itu dan sesaat monster raksasa itu mengusap matanya dan tampak menyeringai kesakitan. Niken pun melakukan hal yang sama, ia menghujani wajah gorilla itu dengan butiran es. Monster besar itu sedikit terganggu dan mulai merasa tak nyaman dengan serangan-serangan itu.


“Adik Niken, bantu aku mengeraskan air ini ketika nanti akan mengenai monyet besar itu.” Kata Anjani yang mulai menciptakan bola air raksasa yang melayang di atas gorila raksasa itu. Niken dengan tanggap mengubah bola air itu menjadi es yang keras. Keduanya mendorong bola es itu dengan kekuatan penuh dan menabrakkanya ke tubuh logam sang monster dari pulau Neraka itu.


Bola es itu pecah berhamburan dan gorilla itu terdorong ke belakang lalu ambruk. Namun sejenak kemudian, raksasa besar itu bangkit kembali dan memancarkan energi yang sangat besar hingga bumi terasa berguncang.


“Sudah saatnya, kakak.” Kata Nala. Lelaki kecil itu melesat kencang, diikuti oleh kakak perempuannya, sang bidadari kematian.


 


 

__ADS_1


__ADS_2