Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 176 Menuju Kuil Suci Halilintar


__ADS_3

Seusai berdiskusi panjang lebar dengan tetua Hannam, Batari Mahadewi dan Nala akhirnya mendapatkan izin untuk mencoba mengusik sang ratu Halilintar yang saat ini menguasai kuil suci Halilintar.


“Menurut tetua, apakah warga dunia atas juga tidak keberatan jika kami menyerang ratu Halilintar?” tanya Batari Mahadewi.


“Tentu saja tidak, kalian mendapatkan izin dariku saja itu lebih dari cukup. Sejujurnya, aku sendiri lelah jika terus-terusan mengurusi tabung-tabung energi itu. Sebagai tetua di dunia bawah, itu kewajibanku. Jika kami semua bisa memurnikan kembali tubuh kami, maka kami tak hanya akan tinggal di sekitar sini saja, melainkan kembali menghuni pulau-pulau kecil lainnya di sekeliling pulau utama ini.” Kata tetua Hannam.


“Baiklah jika tetua merestui kami, maka kami yakin untuk menghadapi ratu Halilintar saat ini juga.” Kata Nala penuh semangat.


Nala dan Batari Bahadewi memang  tak memiliki alasan untuk berlama-lama di sana. Setidaknya mereka sudah hampir tujuh tahun berada di dunia tiga rembulan. Sehingga, semakin cepat mereka berhasil menguasai energi dari keempat sumber utama dunia tiga rembulan, maka mereka bisa kembali ke dunia asal mereka. Jika hal itu ternyata memang benar.


Batari Mahadewi dan Nala melesat ke atas. Keduanya sepakat untuk memancing ratu Halilintar menjauh dari kuil suci, dan menjauh dari pemukiman warga, untuk mengurangi resiko kerusakan atau resiko ancaman bagi penduduk pulau Halilintar.


Gunung yang menjulang ke langit itu ternyata lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh Batari Mahadewi dan Nala. Sudah beberapa saat keduanya melucur ke atas dengan kecepatan tinggi, namun mereka bahkan belum sampai di dataran dunia atas. Semakin mereka naik ke atas, melewati beberapa lapisan awan, mereka merasakan udara berubah menjadi dingin, dan kekuatan es di tubuh mereka kembali menguat jika dibandingkan dengan kekuatan api yang mereka miliki.


Semakin ke atas, bebatuan gunung tinggi itu semakin tebal diselimuti oleh salju. Batari Mahadewi dan Nala membayangkan bahwa betapa sulit kehidupan yang dijalani oleh penduduk pulau Halilintar selama sekian generasi saat ini.


Akhirnya Batari Mahadewi dan Nala sampai juga di puncak gunung yang menjadi pemukiman warga halilintar dunia atas. Berbeda dengan pulau Es, penduduk di sana menciptakan rumah dari bebatuan yang tertutup es, dengan bentuk yang sama dengan rumah-rumah di dunia bawah. Penduduk dunia atas itu jauh lebih sedikit daripada penduduk dunia bawah.


Keberadaan ratu Halilintar sebenarnya tak menjadi ancaman bagi penduduk pulau Halilintar. Setidaknya, ratu itu tak pernah menyerang atau menimbulkan kekacauan. Ia hanya memonopoli kuil suci dan tak  membiakan siapapun berada di sana.


Batari Mahadewi dan Nala berhenti sejenak di puncak gunung Halilintar itu. Di bagian tengah gunung itu di bangun sebuah pilar raksasa yang menjulang tinggi ke atas dan di puncak pilar itulah letak kuil suci pulau Halilintar.

__ADS_1


“Astaga, masih harus ke atas lagi. Andaikan kita tak memiliki kekuatan dari pulau api dan pulau es, tak mungkin kita bisa mencapai puncak itu.” kata Nala.


“Iya, pantas saja kita harus mengambil energi di masing-masing tempat ini secara bertahap. Apakah menurutmu, kita perlu menyapa penduduk di puncak gunung ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak perlu, kita langsung saja naik ke atas dan membuat ratu Halilintar mengejar kita.” Jawab Nala.


“Bagaimana jika ia tak mau beranjak dari kuil itu? apakah kau punya rencana lain?” tanya Batari Mahadewi.


“Aku tidak punya. Kita coba saja agar kita tahu hasilnya. Jika ia tak mau beranjak dari kuil suci, kita pikirkan lagi bagaimana caranya nanti.” Kata Nala. Ia memang tak mau banyak ambil pusing dalam membuat keputusan.


Tapi belum sempat keduanya beranjak naik ke atas, tiba-tiba seseorang telah berada di belakang mereka berdua. Sosok itu mungkin setua tetua Hannam dengan kerutan dan bentuk wajahnya, namun yang berbeda adalah warna duri-duri landak di kepalanya, yakni berwarna emas.


“Selamat datang. Kenapa kalian tampak terburu-buru? Mampirlah sejenak. Tentu kalian sudah bertemu dengan tetua Hannam sebelum kalian ke sini, bukan?” kata orang itu.


“Aku Samman, tetua dunia atas di pulau Halilintar. Hanya orang dengan kemampuan tinggi yang bisa sampai di sini tanpa menggunakan kapal kami. Tentunya, kalian ingin pergi ke kuil suci, bukan?” Kata tetua Samman.


“Benar paman. Seperti yang telah kami bicarakan dengan tetua Hannam, kami bermaksud memancing ratu Halilintar untuk pergi meninggalkan kuil, lalu kami akan bertarung melawannya.” Kata Nala.


“Aku ingin memberikan sedikit bekal kepada kalian, siapa tahu akan sedikit membantu. kalian masih bisa menyerap energi dari sumber utama kami dari sini, namun tak banyak yang bisa kalian serap. Tapi setidaknya, hal itu akan menambahkan jenis kekuatan baru di tubuh kalian. Sebentar, Hmm…kamu ternyata sudah memiliki energi halilintar dalam tubuhmu, kan? Bagaimana kami bisa mendapatkannya?” Tanya tetua Samman kepada Batari Mahadewi.


Batari Mahadewi langsung teringat ilmu petir dan angin yang ia dapatkan di altar langit ketika ia berada di desa Atas Awan, Swargadwipa.

__ADS_1


“Saya telah mempelajari kitab rahasia di dunia asal kami kakek, dengan kitab itu, saya bisa memiliki kekuatan petir dan mampu mengendalikan angin dengan kekuatan yang ada dalam tubuh saya.” Kata Batari Mahadewi.


“Bagus kalau begitu. Kurang lebih kemampuanmu mirip dengan kemampuan kami. Pastinya, kekuatanmu akan bertambah dan akan menjadi lebih kuat dari energi halilintar yang sudah kamu miliki sebelumnya. Sebab, untuk melawan ratu Halilintar, kurasa kalian memang membutuhkan kekuatan halilintar, atau setidaknya telah memahaminya sehingga kalian bisa tahu bagaimana cara menyelamatkan diri dari pukulan-pukulan halilintar.” Kata tetua Samman.


“Aku belum memilikinya.” Kata Nala.


“Ada baiknya kamu mempelajarinya dahulu sebelum kalian berdua menantang ratu itu.” kata tetua Samman. Batari Mahadewi mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh tetua Samman.


“Tak masalah, Nala, aku bisa menunggumu beberapa hari di sini selagi kau menyerap pancaran energi dari sumber utama yang sampai di wilayah ini.” Batari Mahadewi menimpali.


“Baiklah kalau begitu. Di mana aku bisa melakukannya, tetua?” tanya Nala.


“Lihat di sana, di deretan bebatuan berbentuk kotak yang berjejer mengelilingi pilar langit itu, kau bisa duduk di sana diantara tabung-tabung energi yang kami pasang.”kata tetua Samman.


Nala melakukan apa yang disarankan oleh tetua Samman. Ia duduk diantara tabung-tabung berwarna hitam yang sebelumnya ia lihat di kediaman tetua Hannam. Selama tiga hari lamanya Nala duduk dalam posisi bersila, menyerap sebanyak mungkin energi halilintar yang terpancar dari altar suci di atasnya. Batari Mahadewi menunggu Nala sembari berjalan-jalan di wilayah dunia atas itu, sambil sesekali ia berbincang dengan warga yang ia temui.


Pada hari ke tiga, Nala telah memiliki energi halilintar dalam tubuhnya. Meski tak sekuat yang dimiliki Batari Mahadewi, setidaknya Nala telah bisa menciptakan pancaran energi listrik yang berkelindan di sekitar tubuhnya. Hal itu membuat tetua Samman sedikit terkejut dan akhirnya memahami kenapa dua pendekar dunia satu rembulan yang menjadi tamunya itu telah memiliki kekuatan yang dahsyat di usia yang masih begitu muda, yakni hampir empat belas tahun.


“Akhirnya kau berhasil menguasainya, Nala.” kata Batari Mahadewi.


“Ya, sebelumnya aku hanya menyaksikanmu ketika kau memancarkan energi semacam ini. Sekarang aku bisa melakukan hal yang sama.” Kata Nala puas dengan pencapaiannya. Bagaimanapun juga, dalam hatinya ia ingin melampaui capaian kekuatan yang dimiliki oleh Batari Mahadewi. Barangkali karena ia adalah laki-laki, dengan demikian ia merasa bahwa ia harus lebih kuat dari perempuan. Entah apa sebabnya ia merasa begitu.

__ADS_1


Terlebih, sekarang ini ukuran tubuh Nala telah lebih besar dan lebih tinggi dari Batari Mahadewi meski dulu ketika pertama kali mereka datang di dunia tiga rembulan, tubuh Batari Mahadewi sejengkal lebih tinggi darinya. Dua pendekar ajaib itu telah siap untuk menantang ratu halilintar yang bersemayam di kuil suci.


__ADS_2