Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 68 Kekuatan Baru Tubuh Api Jalu


__ADS_3

Selama hampir dua hari, akhirnya Jalu bisa menyerap seluruh energi dari mustika alam pemberian Agrapana. Kekuatannya meningkat jauh lebih pesat dari sebelumnya.


“Akhirnya kakak selesai juga. Bagus sekali. Aku bisa merasakan pancaran energi kak Jalu meningkat beberapa kali lipat. Dengan begitu, sepeti yang dulu pernah kukatakan kepada kakak, aku bisa mengajarkan jurus-jurus dalam Ilmu Matahari. Namun, kakak belum bisa menggunakan jurus puncak dalam ilmu itu. Setidaknya, dengan Ilmu Matahari, maka ilmu tubuh api kakak akan semakin sempurna.” Kata Batari Mahadewi.


“Baru kali ini aku mengalaminya. Sepertinya pendengaran dan penglihatanku juga menjadi lebih tajam.” Kata Jalu.


“Kalau begitu, kita segera beranjak dari kota ini. Nanti jika kita melewati hutan, aku akan mengajarkan beberapa jurus Ilmu Matahari kepada kakak.” Kata Batari Mahadewi.


“Baiklah, aku sangat bersemangat!” kata Jalu.


Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke barat. Rencananya, mereka akan menghadiri undangan pertemuan para pendekar aliran putih di danau Rembulan Merah. Sebuah danau yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Namun untuk mencarinya, bukan perkara sulit. Tinggal bertanya kepada orang-orang yang mereka temui di perjalanan.


Sebelah barat persis kota Dhyana terdapat hutan yang sangat luas. Hutan semacam itu sudah pasti menjadi sarang para siluman, binatang buas, dan binatang setengah siluman. Hutan yang demikian itu juga menyediakan berbagai jenis mustika alam.


Bagi orang biasa, menembus hutan semacam itu sendirian atau bersama beberapa orang saja sama halnya dengan bunuh diri. Mereka biasanya akan menyewa jasa pendekar kelana. Jika mereka beruntung, mereka tak akan bertemu dengan siluman. Tidak semua pendekar mampu menghadapi siluman, terlebih para siluman yang berumur lebih dari seratus tahun. Apapun jenis ilmu pendekar itu, asalkan indera ketujuh pada tubuhnya sudah terbuka, maka ia bisa menghadapi siluman.


Namun, untuk siluman yang berumur lebih dari seratus tahun, butuh keahlian, tingkat energi, dan jurus-jurus tertentu untuk menghadapinya.


Dalam perjalanan menembus hutan itu, Batari Mahadewi dan Jalu meluncur dengan kecepatan tinggi. Keduanya berhenti ketika melihat mayat binatang setengah siluman yang berbentuk aneh, seekor harimau berkepala tiga yang ukuran tubuhnya tiga kali lipat dari ukuran harimau dewasa.


“Kita mendapatkan petunjuk bagus, kak Jalu.” Kata Batari Mahadewi.


“Petunjuk apa, adik?” tanya Jalu.


“Coba perhatikan bangkai ini dan keadaan di sekeliling. Apakah kakak bisa menemukan jejak pelakunya?” tanya Batari Mahadewi.


“Sebentar, akan aku cermati lagi.” Kata Jalu. Ia kemudian memeriksa luka-luka di bangkai itu dan keadaan sekeliling. Ia merasa ada hal yang tak asing dari kerusakan di tanah, rerumputan, dan pepohonan di sekeliling bangkai harimau berkepala tiga itu.

__ADS_1


“Adik benar, tapi mungkinkah Niken yang melakukannya?” Tanya Jalu sambil memandang Batari Mahadewi yang berbuat aneh seperti biasanya, yakni bediri dan memandang ke satu titik, seolah-olah ia sedang berbicara dengan roh dan pepohonan di sekitar situ.


“Ya, kak Niken telah melewati hutan ini beberapa hari yang lalu. Ia tidak sendiri. Ada seseorang yang menemaninya.” Kata Batari Mahadewi.


“Apakah Niken masih bersama pendekar Syair Kematian?” tanya Jalu.


“Bukan. Lihat bekas sobekan di pohon itu! bekas itu bukan berasal dari serangan es kak Niken, melainkan berasal dari senjata sakti. Sementara lubang-lubang kecil di pepohonan, dan di tubuh bangkai ini sudah pasti berasal dari jurus kak Niken.” Kata Batari Mahadewi.


“Lalu, apa yang adik ketahui dari roh-roh yang adik ajak bicara barusan itu?” tanya Jalu penasaran.


“Kakak belum bisa bicara dengan roh dengan kemampuanmu saat ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Jika sudah, maka sudah aku lakukan sejak tadi. Menurutku, kemampuanmu berbicara dengan roh dan membaca petanda di pepohonan tidak ada kaitannya dengan tingkat energi. Aku pernah melihat nenek-nenek tua yang sama sekali bukan pendekar malah bisa berbicara bukan roh halus.” Kata Jalu.


“Kakak tidak salah. Namun jika indera ke sembilan kakak sudah terbuka, kakak bisa berkomunikasi dengan roh. Kalau nenek-nenek yang kakak maksud, mereka telah mendapatkan kemampuan itu sejak lahir. Bukan berarti nenek-nenek itu telah memiliki sembilan indera di tubuhnya.” Kata Batari Mahadewi.


“Baiklah, lalu apakah adik mengetahui siapa yang bersama Niken?” tanya Jalu sangat penasaran.


“Kurasa tidak sulit bagi adik untuk menelusuri jejak dan arah kemana Niken dan pendekar itu pergi, bukan?” tanya Jalu.


“Ya, mereka pergi ke arah barat. Mungkin kita bisa menyusulnya.” Kata Batari Mahadewi.


“Menurut adik, apakah Niken juga mendapatkan undangan pertemuan pendekar aliran putih di danau Rembulan Merah?” tanya Jalu.


“Aku rasa demikian, kak Jalu. Kita pasti bisa menemukannya. Tapi sebelum kita lanjutkan lagi perjalanan kita, ada baiknya kita mencari tempat yang tepat untuk kakak mempelajari jurus-jurus Ilmu Matahari.” Kat Batari Mahadewi.


“Apakah jurus itu bisa kupelajari dengan mudah?” tanya Jalu.

__ADS_1


“Ya, aku akan menurunkannya langsung. Dengan tingkat energiku dan energi kak Jalu yang sekarang ini, sangat mungkin bagiku untuk menurunkan ilmu itu langsung kepada kakak. Tak akan butuh waktu lama, tapi akan sangat melelahkan.” Kata Batari Mahadewi.


“Baiklah, aku ikuti saja saran adik.” Kata Jalu.


“Kita cari bagian hutan yang tak dihuni siluman. Kita ke arah sana, kak jalu.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya segera meluncur dengan cepat ke arah yang ditunjukkan oleh Batari Mahadewi. Sesampainya di sana, Batari Mahadewi membuat pagar pelindung melingkar agar ketika ia menurunkan Ilmu Matahari kepada Jalu, para siluman tak akan mendekati mereka berdua.


“Kakak duduk bersila saja, lalu bukalah energi murni milik kakak. Semestinya pintu energi murni kakak sudah terbuka ketika kakak menggunakan mustika alam dari kakek Agrapana.” Kata Batari Mahadewi.


“Baik, adik.” Jalu kemudian melakukan apa yang dikatakan oleh Batari Mahadewi itu. Kemudian, adik seperguruannya itu duduk bersila di depan Jalu, lalu menempelkan jari telunjuk kanannya di jidat Jalu, dan menempelkan jari telunjuk kirinya di perut Jalu. Sebuah bola energi berwarna emas menyelubungi mereka berdua selama hampir setengah hari sampai selesai proses Batari Mahadewi menurunkan Ilmu Matahari kepada Jalu.


“Siapa yang mengajarkan adik menurunkan ilmu dengan cara singkat seperti ini?” tanya Jalu.


“Secara tidak sengaja, aku belajar dari kakek Agrapana. Lagipula pencapaianku saat ini sudah memungkinkan aku untuk menurunkan ilmu beladiri kepada kakak dengan cara seperti itu. Sayang sekali, tubuh kakak tidak cocok dengan dua ilmu legendaris lainnya yang telah aku kuasai. Tapi dengan Ilmu Matahari dan Tubuh Api yang telah kakak kuasai, mungkin kakak bisa mengimbangi dua pendekar utama dari desa Atas Angin sekaligus. Kakak carilah cara untuk menggabungkan dua ilmu itu.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, adik, aku mengerti. Kedua ilmu yang kini kumiliki ini berhubungan dan saling melengkapi.” Kata Jalu senang karena memiliki ilmu baru, yang sebelumnya hanya dikuasai oleh dua orang saja, yakni sang pendekar Matahari dan Batari Mahadewi.


Keduanya kemudian tak mau berlama-lama berada di hutan itu. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Sesekali mereka berhenti ketika dalam perjalanan mereka menemukan mayat siluman di hutan, hanya untuk memastikan bahwa pelakunya adalah Niken dan pendekar muda yang menemaninya.


####


Hari berganti hari, Niken dan Pradipa akhirnya sampai di desa Temaram Senja, sebuah desa yang berada di lereng empat buah gunung. Di desa itulah danau Rembulan Merah berada. Desa itu sangat sepi dan terpencil karena diapit oleh gunung dari empat penjuru mata angin. Tentunya, untuk mencapai desa itu, dari arah manapun, harus melewati gunung dan hutan.


“Pantas saja tempat ini dipilih sebagai tempat pertemuan para pendekar aliran putih. Tempat ini sungguh terpencil.” Kata Pradipa ketika mereka sampai di depan gapura masuk menuju desa Temaram Senja.


“Nama desa ini juga tidak wajar, seolah desa ini memiliki masa lalu yang kelam, sebuah desa yang merindukan warganya.” Kata Niken.


“Apakah kita bisa menemukan penginapan atau kedai makan di sini?” kata Pradipa.

__ADS_1


“Sepertinya tidak. Dan seharusnya, beberapa pendekar dari aliran putih sudah tiba di sini. Nanti malam adalah malam purnama.” Kata Niken.


“Niken, apakah kamu tak merasa ada sesuatu yang janggal di sini?” tanya Pradipa. Niken memandang desa sunyi yang ada di depannya itu. Ada hal yang aneh, namun mereka tak mengetahuinya.


__ADS_2