
Keempat pendekar hitam Tirayamani itu langsung menuju ke tempat latihan beladiri yang berada di area belakamg sanggar Ki Rangga Suluk setelah mereka menangkap pancaran pendekar seruling emas yang sedang menunggu di sana. Hanya mereka berempat yang datang, sementara para pendekar hitam lainnya berada di markas yang mereka miliki dan menanti kabar selanjutnya. Mereka sangat yakin bahwa Ki Rangga Suluk akan mati pada malam itu juga.
Baju pusaka pemberian Batari Mahadewi membuat kekuatan Ki Rangga Suluk meningkat empat kali lipat. Dengan begitu, ia bisa memainkan serulingnya dengan lebih baik lagi.
Batari Mahadewi dan Nala untuk sementara waktu akan menjadi penonton saja, sesuai dengan permintaan pendekar seruling emas itu yang ingin menguji kekuatan barunya.
Pancaran tenaga Ki Rangga Suluk dan keempat lawannya itu sudah pasti membangunkan beberapa pendekar murid yang tinggal dan tidur di sanggar itu. Mereka semua keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Kalian semua, menjauh dari tempat ini. Jaga para seniman yang ada di sangar depan!” Ki Rangga Suluk memerintahkan.
“Baik guru,” kata mereka serempak. Lalu mereka melesat membangunkan orang-orang yang tinggal di bangunan sanggar bagian depan untuk segera menjauh mengingat para pendekar hitam itu biasanya melakukan hal licik dan tega membunuh siapapun jika mereka terdesak.
“Hahaha, kenapa kau suruh murid-muridmu pergi! Kami tak berminat melawan mereka. Tujuan kami malam ini adalah untuk membunuhmu saja,” kata salah satu dari pendekar hitam itu.
“Jangan bermimpi! Kalianlah yang akan mati malam ini!” Ki Rangga Suluk berbicara dengan tenang. Ia mengeluarkan serulingnya, lalu memainkan sebuah lagu indah. Lagu itu terdengar sebagai suara yang menyakitkan di telinga para pendekar hitam. Dengan bertambahnya kekuatan Ki Rangga Suluk, maka bertambah pula kekuatan yang bisa ia hasilkan ketika memainkan senjata pusakanya. Bahkan suara itu juga sedikit menjadi gangguan bagi Nala.
Keempat pendekar hitam itu mengumpat kesal karena tak menyangka bahwa seruling emas bisa sangat berpengaruh bagi mereka yang merupakan pendekar hitam kelas tinggi. Mereka masih bertahan untuk mengatasi gangguan dari suara yang menyakitkan itu.
“Nala, tidakkah kau berfikir bahwa seruling emas ini merupakan cara lain untuk menaklukkan para pendekar Tirayamani dengan mudah?” Batari Mahadewi menanyakan pendapat Nala soal hal itu.
“Benar. Tetapi jika kau yang memainkannya, sebaiknya aku pergi jauh dan mengunci telingaku rapat-rapat. Permainan seruling Ki Rangga Suluk itu juga berpengaruh padaku meski tidak seberapa,” kata Nala.
__ADS_1
Kekuatan Ki Rangga Suluk dan serulingnya itu belum cukup untuk membuat keempat lawannya pingsan. Mereka hanya bertahan dan tak bisa berbuat banyak selain melindungi telinga dan kesadaran dengan kekuatan yang mereka miliki. Hal itu menjadi pilihan sulit. Ki Rangga Suluk juga tak bisa terus-terusan menghabiskan tenaganya yang mengalir dalam gelombang suara seruling itu. Mau tak mau, pendekar seruling emas itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggunakan jurus pamungkasnya, Seruling Pembunuh Iblis.
Suara seruling itu bertambah lebih menyakitkan lagi bagi keempat pendekar hitam itu. Tak butuh waktu lama, keempat pendekar itu ambruk. Sayangnya itu hanya tipuan saja. Begitu Ki Rangga Suluk menghentikan permainannya, mereka tiba-tiba bangkit dan menyerang pendekar seruling emas itu dengan kecepatan tinggi!
Ki Rangga Suluk tak sempat menghindar dari serangan mendadak itu. Ia hanya menciptakan perisai tenaga dalam untuk melindungi dirinya dari terpaan serangan lawan-lawannya. Serangan pendekar Tirayamani itu menciptakan ledakan yang cukup besar. Asap mengepul. Mereka yakin tubuh Ki Rangga Suluk telah hancur. Namun mereka cukup kaget ketika masih merasakan pancaran energi dari tubuh Ki Rangga Suluk. Pendekar Seruling Emas itu tiba-tiba keluar dari kepulan asap dan ia langsung melesat menyerang keempat lawannya dengan rangkaian jurus yang indah.
Ki Rangga Suluk jauh lebih lincah dan gesit dari keempat lawannya itu. Selain pendekar, ia juga adalah penari. Gerakan tubuhnya sungguh tak terbaca oleh lawan-lawannya. Maka beberapa pukulan berkekuatan tinggi bisa mendarat dengan mulus di tubuh masing-masing keempat lawannya itu.
“Keparat kau! Bagaimana bisa kau bertahan dari serangan kami?!” kata salah satu dari pendekar hitam itu.
“Sudah kukatakan, kalian mencari mati jika datang kemari!” kata Ki Rangga Suluk. Ia sendiri juga tak percaya, baju pusaka pemberian Batari Mahadewi itu bisa melindunginya dengan baik. Bahkan, serangan-serangan racun dari keempat lawannya itu sama sekali tidak mempan baginya.
“Baiklah, tapi kami belum mengeluarkan semua kemampuan kami. Lihat baik-baik!” keempat pendekar hitam itu berubah wujud menjadi manusia setengah siluman. Kekuatan mereka meningkat jauh lebih besar.
“Tunggu dulu. Kita belum pernah melihat langsung kekuatan dari baju pusaka itu jika dikenakan oleh pendekar sekelas paman Rangga. Jika ia tak bisa mengalahkan empat pendekar itu dengan bantuan baju pusaka, sepertinya perjuangan kita masih sangat berat untuk menghadapi para pendekar Tirayamani,” kata Batari Mahadewi.
“Sebentar, aku sedang berfikir bahwa bukan berarti paman Rangga tak bisa menggunakan pedang, kan?! Kita berikan saja golok pusaka itu, biarkan dia menggunakannya semampunya,” kata Nala.
“Ide bagus!” Batari Mahadewi segera mengambil buntalan pusaka di ruang tamu Ki Rangga Suluk. Lalu dengan cepat ia melesat keluar. “Paman Rangga, gunakan ini!” Batari Mahadewi melemparkan golok seberat lima karung beras itu ke arah Ki Rangga Suluk, pendekar tua itu menangkapnya dengan cekatan.
“Kalau begini, mungkin baru agak adil pertarungan kita! Tidak sadarkan kalian, sedari tadi kalian mengeroyokku!” kata Ki Rangga Suluk.
__ADS_1
“Cih, dengan golok itu apa yang bisa kau lakukan!” kata pendekar hitam yang kepalanya telah ditumbuhi dengan tiga tanduk panjang itu.
“Mungkin memenggal lehermu!” Ki Rangga Suluk. Ia mengalirkan tenaganya ke dalam golok pusaka itu. Seketika, golok itu semakin memancarkan cahaya yang terang yang membuat malam hari itu tak terlalu gelap.
Keempat pendekar setengah siluman itu menyadari pancaran kekuatan dari Ki Rangga Suluk semakin meningkat setelah lelaki itu menyatukan kekuatannya dengan golok pusaka itu. Mereka kembali menyerang pendekar sekaligus seniman itu secara bersama-sama.
Meski Ki Rangga Suluk bukanlah pendekar pedang, bukan berarti ia tak bisa menggunakan pedang. Ia dan sebilah golok pusaka di tangannya itu menari-nari menyambar tubuh keempat lawannya. Golok itu tak bisa ditangkis. Hanya bisa dihindari saja. Sekalinya mereka menangkis, tangan mereka putus meski mereka mengerahkan kekuatan untuk menciptakan perisai energi. Sementara, untuk menghindari serangan Ki Rangga Suluk bukanlah perkara mudah. Pendekar tua itu bisa bergerak dengan lincah dan cepat.
Pertarungan berakhir dengan kondisi keempat pendekar Tirayamani yang sangat mengenaskan. Tubuh mereka terbelah-belah menjadi beberapa bagian karena tak sanggup menahan kekuatan dari golok pusaka itu. Padahal, Ki Rangga Suluk hanya menggunakan jurus seadanya. Yang ia andalkan hanyalah kekuatan dan kelincahan saja.
“Paman bertarung dengan hebat!” Batari Mahadewi memberikan pujian. Hal yang baru saja terjadi itu adalah kedua kalinya ia melihat senjata pusaka sakti itu dipegunakan sejak ia menyerahkan salah satu pusaka ciptaannya kepada pendekar seribu pedang. Golok itu bisa berfungsi dengan baik meski tidak digunakan oleh seorang pendekar pedang. Kuncinya memang pencapaian kekuatan dari yang menggunakan pusaka itu.
“Dua pusaka pemberian kalian inilah yang menyelamatkan aku,” kata Ki Rangga Suluk, “untunglah, sebab meski kekuatanku meningkat, ternyata seruling emasku tak bisa membunuh para pendekar itu,” sambungnya.
“Tak ada salahnya paman menyimpan golok pusaka itu. Jika tidak dipergunakan oleh pendekar seperti paman, golok ini justru akan membahayakan yang menggunakannya,” kata Nala.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menyimpannya dan menggunakannya di saat-saat genting,” kata Ki Rangga Suluk.
“Paman jangan khawatir, besok saya akan mencoba membuat seruling pusaka untuk paman,” kata Batari Mahadewi.
“Ya, malam ini kalian harus beristirahat. Besok kita lanjutkan berbincang-bincang,” kata Ki Rangga Suluk.
__ADS_1
Ki Rangga Suluk menyuruh para muridnya yang telah kembali untuk membereskan sisa-sisa pertarungannya dengan keempat pendekar Tirayamani. Sementara Nala dan Batari Mahadewi dipersilahkan untuk beristirahat di kamar tamu yang telah dipersiapkan.
Saat pagi menjelang, tak ada kabar yang diterima oleh kelompok pendekar hitam yang sejak semalaman menunggu di markas mereka. Dengan demikian, mereka menyimpulkan bahwa misi keempat pendekar andalan mereka itu telah gagal. Artinya, mereka harus khawatir. Jika Ki Rangga Suluk bisa mengalahkan empat pendekar andalan mereka, maka pendekar seruling emas itu juga bisa menghabisi mereka semua dengan mudah. Dengan berat hati, mereka harus segera angkat kaki meninggalkan kota kerajaan Mahatmabhumi sebelum jejak dan persembunyian mereka tercium oleh para pendekar istana yang mulai bergerak mencari mereka semua.