
Orang pertama yang akan ditemui gadis jelmaan pusaka dewa itu adalah pemuda berbakat dari perguruan Tongkat Dewa yang saat ini dalam keadaan kritis karena racun telah menyebar ke dalam tubuhnya.
Dalam satu kedipan mata, Batari Mahadewi telah ada di sebelah pemuda yang saat ini sedang berbaring tak berdaya. Tak ada yang menemaninya, semua orang sibuk dengan serangan para pendekar hitam.
Dengan sentuhan jari di jidat pemuda itu, Batari Mahadewi menyerap semua racun yang telah menyebar di tubuhnya. Setelah itu, gadis jelmaan pusaka dewa itu memberikan sedikit energi untuk memulihkan keadaan pemuda itu.
Tentu saja, pemuda itu belum bisa berbuat apa-apa. Setidaknya ia telah selamat dan hanya menunggu beberapa hari saja agar tubuhnya sepenuhnya pulih dengan cara normal.
Suasana di sekeliling gadis jelmaan pusaka dewa itu sungguh kacau. Batari Mahadewi melesat berkeliling mencari korban-korban jarum beracun, lalu menyembuhkan mereka dengan cara yang sama dengan yang ia lakukan sebelumnya.
Setelah menolong beberapa orang, akhirnya kehadiran gadis jelmaan pusaka dewa itu disadari baik oleh para pendekar hitam ataupun pendekar putih. Mereka hanya menduga-duga, siapa sosok mempesona yang sangat tenang mengobati para korban jarum racun di tengah hiruk pikuk pertempuran yang menuntut kematian itu?
“Nona manis, kau seorang pendekar penyembuh ya? Bagaimana jika kau mencoba jarum racunku ini?” kata seorang pendekar hitam yang terusik dengan kehadiran Batari Mahadewi mengobati para pendekar dengan cara yang aneh.
Batari Mahadewi tak mempedulikan pendekar itu. Ia masih dengan santainya mengobati para pendekar putih yang tengah berjuang melawan racun dalam tubuh mereka.
“Nona, ternyata kau tuli. Baiklah, aku tetap tak akan segan membunuhmu. Orang sepertimu akan merepotkan kami,” pendekar hitam itu melemparkan beberapa bilah pisau beracun ke arah Batari Mahadewi.
Pisau-pisau konyol itu hancur ketika hampir menyentuh punggung Batari Mahadewi yang masih sibuk mengobati pendekar yang ia tolong itu.
‘Apa….tt…tidak mungkin…’ batin pendekar hitam itu kaget. Bagaimanapun juga, pisau yang dilemparkan dengan energi tinggi tak akan mudah dihancurkan oleh pendekar sakti sekalipun. Umumnya, para pendekar akan menghindarinya, menahan dengan perisai energi, atau mengibaskan senjata-senjata seperti itu agar terpental.
__ADS_1
Tetapi, pendekar hitam itu bahkan tak melihat Batari Mahadewi memancarkan energinya.
“Apakah kau tadi memanggilku? Maaf aku sedang tak memperhatikanmu,” kata Batari Mahadewi. Ia bangkit berdiri dan menatap ke arah pedekar hitam yang baru saja menyerangnya dengan pisau-pisau beracun itu.
Pendekar hitam itu tanpa berkata-kata lagi langsung menyerang Batari Mahadewi dengan lebih banyak lagi pisau beracun yang dihempaskan dengan kekuatan tinggi. Hasilnya sama saja, pisau-pisau itu langsung hancur sebelum menyentuh tubuh gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Aku tak punya banyak waktu. Jadi ini saja untukmu!” Batari Mahadewi melesat dan memberikan sentuhan kecil kepada pendekar hitam itu. Hasilnya seperti biasa, pendekar itu ambruk dan semua kekuatannya musnah.
Kejadian itu sedikit banyak telah mencuri perhatian beberapa pendekar yang ada di sekitar Batari Mahadewi. Mereka hanya bisa menganga melihat hal janggal itu.
‘Kurasa aku memang harus membereskan para pendekar hitam ini terlebih dahulu sebelum menyembuhkan para pendekar yang terkena jarum beracun,’ batin Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi masih terus melakukan aksinya. Gerakan yang sangat cepat dan sulit ditangkap mata itu cukup membingungkan semua orang. Betapa tidak, ketika pendekar hitam dan putih itu bertarung, tiba-tiba pendekar hitam itu ambruk tak sadarkan diri, dan pendekar putih masih belum tahu siapa pelakunya.
Dari semua pendekar hitam yang ada, hanya tersisa satu orang saja yang kini tengah bertarung melawan pendekar Pedang Emas dan pendekar Tongkat Dewa. Pendekar hitam itu adalah sosok yang tadinya bersembunyi di atas pohon. Kini ia telah berubah menjadi monster rubah raksasa yang sedang dikeroyok oleh dua pendekar tersohor dari kota Batu Belah.
Batari Mahadewi tak perlu ikut campur dalam urusan pribadi itu. Biar saja ketiga pendekar papan atas itu bertarung secara terhormat. Selebihnya, gadis jelmaan pusaka dewa itu segera menolong para korban serangan jarum beracun.
Pertarungan antara pendekar Rubah Iblis dengan pendekar Tongkat Dewa dan Pedang Emas berlangsung sangat lama. Ketiga pendekar itu memang punya masalah di masa lalu.
Selama puluhan tahun, sejak Rubah Iblis kalah dan melarikan diri, ia tak pernah muncul ke dunia persilatan. Seandainya ia tidak dikeroyok, ia bisa dengan mudah mengalahkan pendekar Tongkat Dewa ataupun pendekar Pedang Emas. Ia terus menerus memperkuat diri dengan berbagai mustika siluman hingga terakhir ia bertemu dengan siluman rubah berusia ratusan tahun, lalu melebur menjadi satu dengan siluman itu.
__ADS_1
Kini dengan perubahan wujud dan kekuatannya, ia sangat yakin bisa mengalahkan dua musuh bebuyutannya itu sekaligus.
Namun pendekar Rubah Iblis itu juga cukup gusar sebab ia baru saja menyadari bahwa semua rekan-rekannya telah tumbang dan tinggallah ia seorang diri di sana. Ia berfikir, seharusnya rencananya berjalan mulus. Ia dan para pendekar hitam lainnya akan bisa menumpas sebagian besar dari pendekar aliran putih di kota Batu Belah pada hari itu juga.
Tidak banyak yang menyadari bahwa satu-satunya orang yang melumpuhkan para pendekar hitam itu adalah Batari Mahadewi yang kini masih mengobati orang-orang secepat yang ia bisa. Setidaknya ada seratus pendekar yang sedang sekarat dan membutuhkan pertolongan dengan cepat.
Begitu Batari Mahadewi yang dibantu dengan para pendekar lainnya berhasil menyelamatkan siapa saja yang terkena serangan beracun dari para pendekar hitam, pendekar Rubah Iblis masih bertarung dengan ganas melawan kedua lawan bebuyutannya itu.
Pendekar setengah siluman itu semakin mendesak kedua lawannya. Satu hal yang tidak disadari oleh pendekar Tongkat Dewa dan Pedang Emas, pendekar Rubah Iblis itu diam-diam menyerap energi dari lawan-lawannya. Ia semakin menguat, sementara lawannya semakin kehabisan tenaga.
‘Ini sungguh tidak bagus, jika aku tak ikut campur, kedua guru itu akan terbunuh!’ batin Batari Mahadewi.
Beberapa pendekar sakti lainnya telah mendahului Batari Mahadewi untuk membantu pendekar Tongkat Dewa dan Pedang Emas. Sebagian besar dari mereka adalah anggota dua perguruan besar itu. tentu saja, mereka tak mau sang guru terbunuh oleh monster siluman itu.
Dari serangan bertubi-tubi yang dihujamkan ke arah pendekar Rubah Iblis, serangan-serangan itu belum bisa membuat monster itu menunjukkan tanda-tanda akan kalah. Sebaliknya, ia menjadi semakin kuat.
‘Siluman rubah itu memiliki kemampuan istimewa untuk menyerap tenaga lawan secara diam-diam,’ batin gadis jelmaan pusaka dewa yang sedari tadi mengamati cara bertarung sang pendekar setengah siluman itu.
Tanpa menunggu jatuhnya korban baru, Batari Mahadewi melesat dan menghujamkan sebuah pukulan tepat di dada sang pendekar setengah siluman itu. Tubuh besar monster itu terpental jauh lalu jatuh dengan bunyi dentuman yang cukup menggelegar. Semua orang terkejut dengan serangan Batari Mahadewi yang muncul tiba-tiba itu. Siapa gadis misterius ini? Mereka bertanya-tanya.
Monster besar itu bangkit. Meski ia mendapat pukulan yang menyakitkan, ia sekaligus mendapatkan kekuatan. Ini sedikit menyulitkan. Batari Mahadewi sudah menduganya dan tak akan cukup mudah untuk menaklukkan siluman yang sebenarnya lemah itu.
__ADS_1