Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 198 Kepanikan


__ADS_3

Kerajaan Catrabhumi sudah pasti sangat panik dengan kedatangan para pasukan ratu Ogha, terlebih ketika pasukan itu membiarkan salah satu prajurit yang bertugas di pelabuhan untuk tetap hidup dan mengirimkan pesan langsung ke kerajaan; sebuah pesan yang dengan jelas meminta agar kerajaan Catrabhumi tunduk tanpa perlawanan.


Awalnya, pihak kerajaan Catrabhumi yang dirajai oleh Sri Maharaja Talawangsa tidak percaya dengan berita itu. Bagaimanapun juga, kabar kebenaran atas keberadaan kerajaan Tirayamani masih bias antara nyata atau hanya dongeng, sebab tak seorangpun benar-benar tahu dimana letak kerajaan itu, meski nama dan kengerian atas kerajaan itu sering dibicarakan dari mulut ke mulut.


Beberapa pulau yang sudah menjadi sasaran serangan pasukan ratu Ogha sebenarnya sudah mengirimkan kabar tentang pergerakan kerajaan hitam itu ke berbagai wilayah lain. Hanya saja, kabar tersebut tak pernah dianggap serius.


Setelah memastikan kebenaran bahwa pelabuhan barat telah dikuasai oleh para pasukan dari kerajaan hitam Tirayamani, Sri Maharaja Talawangsa akhirnya mengutus beberapa pendekar khusus untuk mengabarkan berita buruk yang menimpa kerajaannya kepada kerajaan-kerajaan sekutunya. Raja Talawangsa tak bisa berbuat banyak. Sekalipun ia mengerahkan semua prajuritnya untuk menyerang sejumlah pasukan yang tak lebih dari seratus ribu orang itu, sudah pasti semua pasukannya akan tewas dengan mudah.


Jangankan para prajurit biasa, para pendekar dari kerajaan Catrabhumi pun lebih memilih untuk tidak bertarung dengan para prajurit ratu Ogha yang masing-masing dari mereka adalah para pendekar sakti yang berkekuatan siluman dan iblis.


Adapun cara untuk menghadapi para pasukan kerajaan hitam Tirayamani adalah dengan mengerahkan para pendekar hebat yang ada di Mahabhumi. Masalahnya, saat ini kekuatan para pendekar di Mahabhumi terpecah menjadi dua kubu, yakni kubu barat dan timur.


Peperangan yang diinisiasi oleh Swargabhumi bagaimanapun juga membuat hubungan antar pendekar dari dua wilayah besar itu merenggang.


Berita yang disampaikan oleh kerajaan Catrabhumi kepada kerajaan-kerajaan sekutunya tentu membuat gempar dan gaduh. Semua panik dan semua merasa tidak siap untuk menghadapi kedatangan kerajaan dongeng itu. Kepanikan tak hanya dialami di dalam kerajaan, namun juga para tetua perguruan silat yang ada di barat. Cepat atau lembat, keberadaan para pendekar di semua wilayah Mahabhumi akan terancam.


Aliansi kerajaan-kerajaan di wilayah barat mau tak mau harus mengalihkan perhatian untuk bertahan dari serangan pasukan kerajaan hitam Tirayamani. Semua pendekar aliran putih diutamakan untuk menjadi pasukan garda depan. Sementara para pendekar aliran hitam mendadak hilang; mereka menunggu kesempatan yang paling tepat untuk bergabung dengan pasukan ratu Ogha dengan alasan yang realistis sekaligus idealis; mencari selamat sekaligus mewujudkan cita-cita untuk mendirikan kembali kejayaan aliran hitam yang di masa lalu sempat berkibar.


Butuh waktu lama untuk membuat pertahanan di wilayah barat. Jarak yang harus ditempuh dari Swargabhumi menuju Catrabhumi membutuhkan waktu dua bulan perjalanan dengan kuda. Jalan terbaik yang harus di pilih adalah memusatkan kekuatan di tengah-tengah, yakni di kerajaan Swargawana.

__ADS_1


Artinya, seluruh kekuatan di kerajaan Catrabhumi dan Catrawana harus bergerak ke timur, sementara kerajaan Swargabhumi dan Swargaranu harus ke barat. Kekuatan lima kerajaan itu akan berpusat di Swargawana. Dengan demikian, mereka semua bisa memangkas waktu sebelum semua kekuatan kerajaan hitam Tirayamani datang di ujung barat pulau Mahabhumi.


Dari kelima kerajaan itu, Catrabhumi dan Catrawana mengalami nasib paling sial. Mereka harus meninggalkan kerajaan sebab tak bisa mengelak bahwa kedatangan pasukan kerajaan hitam Tirayamani merupakan ancaman yang benar-benar serius.


Berita pemusatan kekuatan kerajaan-kerajaan barat yang disebabkan oleh datangnya pasukan ratu Ogha pada akhirnya terdengar juga di wilayah timur. Para pasukan mata-mata Swargadwipa memberikan laporan kepada Mahapatih Siung Macan Kumbang. Reaksinya sama saja, berita itu juga menggemparkan Swargadwipa dan dengan segera Maharaja Srengenge Ireng mengabarkan hal itu kepada kerajaan-kerajaan timur lainnya.


Apabila seluruh kerajaan di Mahabhumi bersatu, barangkali ada peluang untuk bertahan dari serangan ratu Ogha. Hanya saja, baik pihak barat ataupun pihak timur sama-sama enggan untuk menjalin kerjasama meskipun mereka menyadari bahwa satu-satunya jalan terbaik untuk selamat adalah dengan bersatu; menumpuk seluruh kekuatan di wilayah barat untuk membendung serangan dari pasukan kerajaan Tirayamani.


Di ruang rahasia kerajaan Swargadwipa, Mahapatih Siung Macan Kumbang kembali berbicara empat mata dengan Sri Maharaja Srengenge Ireng.


“Apakah paman patih punya pemikiran tentang hal ini?” tanya sang raja.


“Hal ini benar-benar persoalan sulit, paduka. Jika benar seperti yang diceritakan, yakni tentang kengerian para pendekar di negri Tirayamani, maka berapapun banyak prajurit yang kita miliki tak akan sanggup menghadapi para pasukan itu. Bahkan, hamba seorang diri pun hanya bisa melawan satu prajurit mereka. Jadi, hanya dengan mengerahkan para pendekar saja untuk bisa melawan pasukan itu.” Jawab sang patih.


“Sejujurnya, iya, paduka. Itulah satu-satunya jalan yang mungkin kita tempuh, lagipula yang akan bergerak ke sana hanyalah para pasukan pendekar, bukan pasukan militer yang kita miliki. Sangat tidak menguntungkan jika membawa pasukan dalam jumlah besar ke wilayah barat, terlebih perang antara timur dan barat belum ada titik temunya.” Jawab sang patih.


“Bisa kupertimbangkan soal itu, tapi jika harus mengerahkan pasukan militer kita, aku tak menyetujuinya. Sudah pasti Swargabhumi akan menikam dari belakang. Segara Biru memiliki dendam pribadi denganku. Hanya itulah alasan ia mengobarkan perang sebenarnya. Namun demikian, sekalipun aku menyetujui usul paman patih, belum tentu kerajaan sekutu kita sependapat. Maksudku mengundang paman berbicara disini adalah untuk membicarakan kemungkinan menang yang kita miliki jika kita menciptakan benteng pertahanan di sini untuk menahan laju pergerakan pasukan Tirayamani ke wilayah timur.” Kata sang raja.


“Hamba kurang tahu angka pastinya, namun jika semua pendekar di wilayah Mahabhumi bagian timur dikumpulkan, dan hanya jika kerajaan Matahmabhumi ikut berpartisipasi, bisa jadi kita memiliki dua ratus atau tiga ratus ribu pendekar dari perguruan aliran putih. Yang bisa kita andalkan, maksud hamba adalah yang benar-benar memiliki kesaktian tinggi, mungkin hanya kurang dari seratus ribu pendekar. Di wilayah barat angkanya juga tak akan jauh berbeda.” Kata sang patih.

__ADS_1


“Kita belum tahu pasti jumlah kekuatan pasukan Tirayamani. Mungkinkah pulau itu dihuni oleh lebih dari dua ratus ribu pendekar?” tanya sang raja.


“Bisa jadi lebih, paduka. Hamba tidak tahu, tapi semua penduduk di sana adalah pendekar, dan semua adalah pasukan kerajaan Tirayamani.” Jawab sang patih.


“Seandainya mereka menghadapi kerajaan-kerajaan barat terlebih dahulu sebelum sampai ke wilayah sini, apakah menurutmu kekuatan mereka bisa berkurang lebih dari setengah?” tanya sang raja.


“Hamba juga belum bisa memastikan, paduka. Hamba benar-benar tidak tahu seberapa kuat mereka itu. tapi yang bisa hamba pastikan adalah semua pendekar aliran hitam di Mahabhumi sudah tentu akan bergabung dengan pasukan Tirayamani. Artinya, kekuatan mereka akan bertambah. Jika para pendekar pulau Neraka ikut menggabungkan diri, maka semakin sulit situasi yang akan kita hadapi. Untuk menghadapi tiga ribu pendekar aliran hitam yang menyerang kerajaan waktu itu saja sudah sangat sulit, apalagi jika lebih besar dari itu. Hamba khawatir kita tak bisa bertahan, paduka.” Kata sang patih.


“Menurut paman patih, apa yang mereka inginkan?” tanya sang raja.


“Sudah pasti kekuasaan dan sumber daya, paduka. Mahabhumi jauh lebih kaya jika dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Hamba berfikir, untuk bisa memahami persoalan ini jauh lebih baik lagi, kita membutuhkan wawasan dari para tetua pendekar seperti Ki Gading Putih, Guru Agrapana, Ki Elang Langit, Ki Cakra Jagad, dan pendekar-pendekar lainnya yang telah punya nama besar di wilayah timur.” Kata sang patih.


“Ya, sudah pasti demikian. Dalam waktu dekat aku akan bertemu dengan kakek Agrapana. Untuk sementara waktu, paman patih cari saja sebanyak mungkin berita tentang kondisi di kerajaan-kerajaan barat serta kekuatan musuh yang ada di sana jika memungkinkan.” Kata sang raja.


“Baik paduka, segera akan hamba laksanakan.” Jawab sang patih. Setelah pertemuan itu selesai dan Mahapatih Siung Macan Kumbang pamit, Sri Maharaja Srengenge Ireng tak mau membuang waktu lama. Tanpa sepengetahuan siapapun, ia melesat ke angkasa dan terbang untuk bertemu dengan Agrapana, sosok dari masa lalu yang masih hidup dan sudah lama sekali tak ia kunjungi.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2