
Di Mahatmabhumi, Nala akhirnya melihat kakaknya, Vidyana sang bidadari kematian.
Vidyana diserang oleh lima pendekar hitam. Dua diantaranya adalah pendekar aliran hitam dari pulau neraka yang masih ada di mahabhumi, dan diam-diam menyimpan dendam kepada pendekar perempuan itu. Alasannya adalah, karena Vidyana dianggap tidak mau diajak kerjasama.
“Aku pendekar bebas. Aku juga tak berhutang budi apapun kepada kalian semua. Jadi, kalian tak memiliki alasan kuat untuk memaksaku. Tapi jika kalian hanya ingin bertarung denganku, dengan senang hati. Inilah alasanku menjadi pendekar. Bertarung sampai mati. Apakah kalian melupakan hal itu?” ejek Vidyana kepada kelima musuhnya yang mengepung dirinya itu.
“Setidaknya, jika kau membantu kami pada malam hari itu, maka korban di pihak pendekar hitam tak akan sebanyak itu. Lagipula kau ada di sana pada malam hari itu, bukan?” kata salah satu pendekar yang berasal dari pulau Neraka.
“Apa kau tak melihat pertarungan adikku? Ia hilang. Sudah kewajibanku mencarinya hingga hari ini, bukan menolong kalian semua. Lagipula kalian punya kaki untuk lari, kan?” balas Vidyana.
“Semua pendekar dari pulau Neraka adalah saudara. Kau mengkhianati kami. Kami harus menghukummu.” Kata salah satu pendekar dari pulau Neraka. Ia bahkan tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk mengatakan hal itu.
“Jangan terlalu keras, saudaraku. Semua sudah berlalu. Lagipula taka da gunanya membunuh perempuan itu. Dia lebih berguna jika melayani kita berlima, hahaha!” kata salah satu pendekar itu.
“Cuih! Jangan bermimpi. Aku bahkan tak takut menghadapi kalian berlima. Ayo keluarkan kekuatan kalian semua!” Vidyana lenyap, namun pancaran energinya mengepung kelima pendekar hitam itu. Sesaat kemudian, bebatuan, ranting, kayu, dan dedaunan di sekeliling para pendekar itu bergerak cepat, berkumpul lalu membentuk beberapa monster besar.
“Hah, tipuan murahan seperti ini tak bisa membunuhku!” salah satu pendekar dari pulau neraka mengerahkan kemampuannya untuk menghancurkan monster-monster ciptaan Vidyana. Pertarungan berlangsung sengit dan lama. Vidyana tak bisa terus menerus menggunakan tenaganya untuk mengendalikan monster-monster ciptaannya. Lawannya yang berjumlah lima orang itu terlalu kuat baginya.
“Di situ kau rupanya, hahaha, kau tak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan kami berlima. Ayolah, sebaiknya kau menyerah saja. Serahkan tubuhmu kepada kami, dan percayalah, kami bisa memuaskanmu bergantian! Hahahaha!” kelima pendekar hitam itu tertawa penuh kemenangan. Mata mereka memandang Vidyana, sang bidadari kematian, dengan penuh nafsu.
“Lebih baik aku mati. Ayo bunuh aku!” Vidyana berterak sembari melontarkan berbagai bebatuan dengan sisa-sisa tenaganya kea rah para musuh-musuhnya. Serangan mendadak itu membuat para pendekar hitam itu murka, sebab bagaimanapun juga, bebatuan yang dilontarkan Vidyana telah beberapa kali menghantam wajah mereka.
“Perempuan sialan! Terima ini!” salah satu pendekar yang mengeroyok Vidyana itu melontarkan pukulan energi. Sayang sekali, pukulan energi itu tiba-tiba berbelok arah dan menghantam sebongkah batu besar hingga hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana terbelalak. “Siapa itu?! Beraninya mencampuri urusan kami!”
Nala menampakkan diri. “Kalian tidak malu mengeroyok seorang perempuan seperti ini! Dimana harga diri kalian sebagai pendekar?” bentak Nala.
“Kau boleh membantunya, anak muda. Dan percayalah, hari ini adalah batas terakhir kehidupanmu di dunia ini.” Kata salah satu pendekar itu dengan congkak.
“Tak sadarkah bahwa kalian ini adalah pendekar yang lemah?!” ejek Nala.
“Kurang ajar kau! Terima ini!!!” dua pendekar hitam itu menyerang Nala secara bersama-sama. Sayang sekali, tiba-tiba kaki mereka terjerat sesuatu dan keduanya ambruk. Hal memalukan itu belum selesai, tubuh kedua pendekar itu tiba-tiba ambles ke dalam tanah, seolah tanah tempat mereka berpijak itu memiliki nyawa dan menelan tubuh mereka.
Kedua pendekar itu benar-benar lenyap ditelan bumi yang sesungguhnya. Tiga pendekar lainnya masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Yang pasti, mereka belum menyadari sepenuhnya bahwa Nala yang telah melakukannya.
“Dua temanmu tadi menghilang? Apakah itu jurus sembunyi di dalam tanah adalah jurus andalan yang mereka miliki?” tanya Nala seolah-olah bodoh.
Vidyana masih tertegun memandangi Nala. Ia tak kenal pemuda yang menolongnya itu, namun ia merasa taka sing dengan apa yang baru saja terjadi. Hanya Nala yang mampu membuat tanah seolah tunduk pada perintahnya. “Tak mungkin ia Nala. Pemuda itu bahkan terlihat seumuranku,” batin bidadari pencabut nyawa itu.
“Kurasa hari ini aku memang beruntung. Dewa bumi membantuku menguburkan sampah-sampah seperti kalian. Jika kalian jantan, ayo maju lawan aku!” tantang Nala. Ketiga pendekar hitam itu menyerang Nala dengan pukulan energi yang mereka lakukan bersama-sama. Tiga cahaya energi berkekuatan tinggi menghujam tubuh Nala hingga menciptakan ledakan besar.
Vidyana sangat kaget. Ia tak menyangka bahwa pemuda gagah yang berusaha menolongnya itu tak menghindari serangan itu.
Namun setelah kepulan asap hilang terbawa angin, Nala masih terlihat berdiri di tempatnya semula tanpa luka sedikitpun.
“Inikah kehebatan kalian? Kurasa kalian cocok untuk menjadi petani. Tak perlu waktu lama untuk mencangkul tanah dan menanam tomat,” Nala tertawa mengejek. Ketiga pendekar itu sangat geram, namun mereka juga baru menyadari bahwa lawan dihadapan mereka itu sangatlah sakti.
__ADS_1
Tiga pendekar itu saling berpandangan. Hati mereka ciut. Masih ada kesempatan untuk melarikan diri selagi pemuda itu terlihat tak terlalu ingin bertarung. Dalam tiga kedipan mata, tanpa aba-aba, tiga pendekar itu melarikan diri. Sialnya, mereka terperosok ke dalam tanah. Mereka berteriak minta tolong ketika tanah yang mereka injak itu mulai menelan mereka semua.
Tak lama kemudian, tiga pendekar hitam itu berakhir dengan nasib sama seperti yang dialami oleh dua rekannya yang tenggelam dalam tanah terlebih dahulu.
“Terimakasih, pendekar muda. Apakah kita saling kenal sehingga kau tiba-tiba menolongku?” tanya Vidyana.
“Ya, kakak mengenalku dengan baik. Ini aku, Nala.”
“Apa?! Tidak mungkin…” kata Vidyana. Ia benar-benar sulit mempercayai bahwa dalam waktu kurang dari dua tahun, Nala sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tangguh.
“Panjang sekali ceritanya kakak, dan aku senang bisa bertemu kakak di sini,” Nala kemudian menceritakan segala hal yang ia alami di dunia tiga rembulan. Setelah selesai bercerita, ia juga meminta Vidyana untuk mengikuti jalan yang ia pilih saat ini. Tapi tentunya, bukan hal mudah untuk membuat bidadari kematian yang terlalu kolot itu pindah haluan untuk mendukung para pendekar aliran putih.
“Nala, apa kau lupa, kita adalah pendekar bebas yang tak terikat dengan siapapun!” kata Vidyana.
“Kita melewatkan hal indah jika tetap seperti ini. Aku tak akan mengatakan hal ini jika tak mengalaminya sendiri selama 10 tahun di dunia tiga rembulan,” kata Nala.
“Apa maksudmu dengan hal indah, Nala? dunia pendekar adalah dunia pertarungan. Di sinilah makna kehidupan kita,” kata Vidyana.
“Capaian tertinggi seorang pendekar bukanlah kematian, namun pertarungan untuk mencipakan kehidupan yang lebih baik. Kematian adalah pengorbanan. Di sanalah kita akan menjunjung tinggi harga diri kita sebagai pendekar,” kata Nala.
Nala masih harus berdebat lama dengan kakaknya. Namun akhirnya, Vidyana tak punya pilihan lain selain mengikuti jalan hidup yang telah diyakini oleh adiknya itu. Salah satu hal telah terselesaikan. Hal lain yang harus dilakukan Nala adalah mencari Batari Mahadewi, gadis jelamaan pusaka dewa yang selalu melintas dalam pikirannya.
__ADS_1