
Seperti yang telah diperkirakan, membujuk Moro adalah pekerjaan mudah. Begitu melihat Bail dan Ila, maka Moro tak punya pilihan lain. Ia langsung setuju sejak awal Mambacha menjelaskan maksud kedatangannya.
Namun perjalanan mengumpulkan kekuatan tidak selalu mulus. Batari Mahadewi dan Nala juga melintas melewati pulau Campayana. Keduanya bisa dengan mudah menangkap kehadiran iblis di pulau itu. Tak hanya satu yang mereka sadari, melainkan segerombolan.
“Nala, berhenti dulu,” kata Batari Mahadewi. “Dari arah sana, ada enam atau tujuh iblis berkekuatan besar. Apakah kita sanggup melawan mereka?”
“Jika bukan kita, maka siapa lagi. Kita temui saja mereka. Setidaknya, kita akan tahu apa yang sedang mereka lakukan!” ujar Nala.
“Kalau begitu ayo kita ke sana!” ajak Batari Mahadewi.
Kehadiran keduanya yang begitu tiba-tiba tentunya mengejutkan Mambacha beserta rekan-rekannya. Terlebih, saat mereka mengenali salah satu sosok dari kedua orang yang baru saja datang itu.
Sejenak, kedua belah pihak itu diam saling memandang, saling menakar kekuatan. Para makhluk iblis yakin bahwa pemuda itu adalah jelmaan pangeran kegelapan. Namun mereka tak habis pikir, kenapa ia bersama perempuan yang memancarkan kekuatan milik para dewa.
“Mambacha…bukankah itu…” Bail tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya sekalipun ia adalah iblis.
“Benar. Dia adalah yang kita cari. Jangan gegabah. Ada yang aneh,” kata Mambacha. Ia berjalan mendekat ke arah Nala dan Batari Mahadewi yang sedari tadi memasang sikap waspada.
“Siapa namamu, anak muda?” Mambacha mencoba untuk menguji ingatan Nala.
“Kenapa kau tak memberi hormat padaku!” Nala mencoba memainkan perannya sebagai pangeran kegelapan. Mambacha menjadi semakin ragu-ragu.
“Memberi hormat padamu? Hahahaha…” Mambacha masih gigih mencoba mengatasi situasi itu. hanya dia iblis yang bisa berbuat seperti itu.
“Apakah kau belum pulih sehingga tak bisa mengenaliku?! Seharusnya sang ratu yang membangkitkanmu. Di mana dia sekarang?” Kali ini pertanyaan Nala telah membuat Mambacha dan para iblis lainnya harus berlutut memberi hormat.
“Maafkan kami, pangeran!” ujar para iblis itu.
__ADS_1
“Berdirilah. Ceritakan padaku apa yang saat ini sedang kalian kerjakan?” tanya Nala.
“Kami sedang menghimpun kekuatan untuk menemukan keberadaan pangeran. Tapi kami tak mengira bahwa pangeran sudah lahir kembali. Tetapi, siapakah sosok nona cantik itu, pangeran?” Mambacha berpura-pura.
“Dia gadis dewa yang membangkitkanku. Seharusnya kau bisa mengenali kekuatannya, bukan?! Sementara, kita akan bekerjasama dengan para dewa untuk melawan bangsa raksasa!” kata Nala. Ia merasa yang ia katakan sudah tepat. Sayang sekali, justru kata-kata itu membuat Mambacha kembali yakin bahwa jiwa kegelapan masih terkunci dalam tubuh pemuda di depannya itu.
“Jadi kita akan bekerja sama dengan dewa, pangeran? Kenapa hanya ada satu saja?” kini Mambacha kembali menguasai situasi. Permainan sandiwara sedang berlangsung.
“Dewa yang lain telah gugur. Kalian juga tak tahu tentang hal ini?” tanya Nala.
“Maafkan kami, pangeran. Kami baru saja bangkit dan pulih. Tak banyak yang kami tahu tentang perkembangan yang sedang terjadi. Kenapa pangeran tak segera menemui sang ratu?” tanya Mambacha.
“Aku sedang mencarinya. Kupikir kalian tahu dan oleh karena itu aku datang ke sini!” kata Nala.
“Sayang sekali, saat ini sang ratu bersama beberapa dari kami sedang menuju ke pulau Saramantha, jauh di wilayah timur untuk membangkitkan pasukan di wilayah sana. Sementara, kami bertugas menghimpun kekuatan di wilayah ini. Sang ratu berpesan, kami harus melakukan tugas ini secepatnya, pangeran.” Mambacha berharap usahanya kali ini berhasil.
Mambacha merasa sedang dalam situasi yang serba tidak menguntungkan. Jika tidak menggunakan cara halus seperti itu, maka ia dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan Batari Mahadewi yang sudah pasti akan di bantu oleh Nala. Di sisi lain, mereka tak boleh membuat Nala mati sebab di dalam tubuhnya tersimpan jiwa kegelapan.
Membawa Batari Mahadewi dan Nala menuju ke Tirayamani juga bukan hal menguntungkan, sebab gadis itu bisa saja langsung membunuh sang ratu. Jika hal itu terjadi, semua usaha akan gagal total. Mambacha hampir tidak bisa berfikir jernih. Maka yang terlintas, untuk sementara waktu adalah membuat Batari Mahadewi dan Nala menjauhi wilayah Tirayamani. Yang penting, Mambacha sudah tahu bahwa Pangeran Kegelapan telah bangkit. Hanya butuh menyusun rencana yang benar-benar matang untuk membangkitkan jiwa kegelapan dalam tubuh Nala.
Sementara itu, Nala tak tahu siapa Mambacha dan apa yang sudah terjadi diantara mereka. Yang Nala tahu, Mambacha dan rekan-rekannya itu adalah makhluk iblis berbahaya yang sedang percaya dengan kata-katanya.
Tujuan Nala dan Batari Mahadewi adalah untuk membunuh sang ratu sebelum ratu itu membebaskan lebih banyak makhluk iblis. Maka, setelah Mambacha mengatakan bahwa sang ratu sedang berada di pulau Saramantha, pilihan terbaik yang ada dalam benak Nala adalah segera menyusul sang ratu dan menumpasnya.
“Jika sang ratu sudah berpesan demikian, maka lakukan tugasmu. Biar aku saja yang menemui sang ratu dan menjelaskan semua rencanaku,” kata Nala.
“Baik pangeran, kalau begitu kami akan segera melanjutkan perjalanan.” Mambacha mundur. Ia memberi isyarat kepada teman-temannya agar mengikuti dirinya.
__ADS_1
Para makhluk iblis itu segera melesat pergi. Mereka menuju ke pulau Tirayamani dan mengabarkan kepada sang ratu tentang kejadian yang baru saja mereka temui itu.
Sementara, Nala dan Batari Mahadewi masih di sana, memandang para makhluk iblis itu terbang jauh.
“Bagaimana menurutmu, Tari?” tanya Nala.
“Kenapa kali ini terasa sangat mudah. Di antara tujuh makhluk iblis tadi, ada satu yang tak memiliki tanda yang sama denganmu. Lalu ada satu yang di dalam tubuhnya tersimpan ratusan pasukan iblis. aku merasa sedikit lega, sebenarnya. Jika tadi kita bertarung dengan mereka semua, tentu akan menjadi pertarungan yang sangat sulit. Setidaknya, saat ini kita bisa memperkirakan bagaimana kekuatan lawan-lawan kita itu, Nala.” kata Batari Mahadewi.
“Ya, aku juga merasa kali ini terlalu mudah. Apakah menurutmu mereka mempercayai apa yang aku katakan? Tanya Nala.
“Jika dilihat dari sikap mereka, sepertinya mereka percaya. Namun kita tak benar-benar tahu bukan. Dan apakah kau yakin bahwa ratu kegelapan ada di pulau Saramantha? Bahkan kita tak tahu di mana pulau itu berada!” kata Batari Mahadewi.
Keduanya benar-benar bingung dan belum tahu akan mengambil keputusan yang mana. Jika mereka pergi ke Tirayamani, sementara yang dikatakan oleh makhluk iblis itu benar, maka keduanya telah memberikan kesempatan bagi sang ratu untuk membebaskan lebih banyak lagi makhluk iblis. Namun jika ternyata iblis itu berbohong, artinya mereka sedang kembali ke Tirayamani dan melaporkan apa yang baru saja terjadi kepada sang ratu.
“Ini pilihan sulit, Tari. Aku benar-benar tak bisa mengambil keputusan!” kata Nala.
“Apakah kau pernah mencari tahu sesuatu dengan cara menghitung ruas daun? Tentu ini hanya main-main. Aku sering melakukannya ketika masih kecil,” kata Batari Mahadewi.
“Maksudmu?” Nala tak mengerti.
“Seperti ini,” Batari Mahadewi mengambil selembar daun kering. “Kita hitung jumlah ruas daunnya. Jika ganjil kita pergi ke Tirayamani. Namun jika genap, kita akan pergi ke Saramantha. Bagaimana menurumu?”
“Baiklah. Kita hitung saja. Apapun hasilnya, tak masalah. Yang jelas, kita akan tahu permainan apa yang sedang berlangsung saat ini. Sebab pertemuan tadi terlalu janggal. Aku tahu, makhluk itu di awal pertemuan sedang berpura-pura tak mengenaliku. Padahal, setiap makhluk iblis akan mengenaliku bahkan di jarak yang jauh,” Kata Nala.
“Kita juga tak bis mengambil kesimpulan atas hal itu. Siapa tahu ia memang sedang mengujimu dan ingin tahu, apakah kesadaranmu sudah kembali atau belum. Sikap yang sama seperti yang dilakukan oleh siluman Naga Laut dan beberapa iblis yang telah kita lumpuhkan sebelum kita ada di sini,” kata Batari Mahadewi.
“Sudahlah, kita hitung saja ruas daun ini!” Nala dan Batari Mahadewi akhirnya mulai menghitung ruas daun kering itu. Hasilnya adalah genap. Artinya, mereka harus pergi ke pulau Saramantha yang entah di mana letaknya. Yang pasti, ke arah timur sepeti yang telah ditunjukkan oleh Mambacha, iblis bermulut licin itu.
__ADS_1