
Setelah Batari Mahadewi melenyapkan energi hitam sekaligus ilmu hitam dari pendekar Siluman Buaya, ia berjalan perlahan ke arah Ki Bangun Jiwa. Batari Mahadewi meletakkan kedua telapak tangannya ke dada sosok tua yang menahan sakit itu dan menyerap seluruh racun sekaligus mengalirkan energi untuk memulihkan kekuatan dari Ki Bangun Jiwa.
Sesaat kemudian, kondisi tubuh Ki Bangun Jiwa sudah pulih total. Kulitnya tak lagi membiru dan nafasnya sudah tak lagi terputus-putus. Ia sangat heran dengan kemampuan Batari Mahadewi dan ia lebih heran lagi ketika melihat tangan gadis itu yang tak biasa, namun ia enggan untuk menanyakannya karena takut akan menyinggung perasaan gadis kecil yang telah menolongnya itu.
“Terimakasih, nona muda. Kalau boleh tahu, siapakah namamu?” tanya Ki Bangun Jiwa.
“Saya Batari Mahadewi, paman. Saya murid Ki Gading Putih dari padepokan Cemara Seribu.” Kata Batari Mahadewi, “Sebaiknya paman beristirahat saja. Biarkan kami yang muda-muda ini yang menyelesaikan masalah ini.” Lanjut Batari mahadewi. Ia kemudian beranjak meninggalkan Ki Bangun Jiwa yang masih duduk bersila di tempatnya.
Batari Mahadewi mendekat ke pertarungan kedua kakak seperguruannya. Selagi Batari Mahadewi berurusan dengan pendekar Siluman Buaya, Jalu dan Niken telah melumpuhkan lebih banyak lagi pendekar aliran hitam. Demikian pula dengan ke tujuh murid pilihan Ki Cakra Jagad dan seluruh murid perguruan tongkat sakti. Mayat berserakan di tanah. Para pendekar aliraan hitam telah semakin terdesak. Yang tersisa adalah merek yang memiliki kemampuan terbaik dari yang lainnya. Namun demikian, mereka sudah tak memiliki kesempatan untuk menang.
“Tolong hentikan.” Kata Batari Mahadewi dengan nada pelan, namun suaranya terdengar sangat jelas dan mengintimidasi semua orang yang ada dalam pertempuran itu sehingga tanpa harus diulang, semua pendekar menghentikan pertarungan dan menoleh ke arah Batari Mahadewi.
“Pemimpin kalian sudah menyerah. Sebaiknya kalian segera pergi meninggalkan tempat ini dan bawa serta pimpinan kalian yang tergeletak di tanah itu sebelum aku berubah pikiran.” Kata Batari Mahadewi. Seharusnya, gadis kecil itu bukan siapa-siapa di sana. Namun entah kenapa, tak ada seorangpun yang protes dengan apa yang baru saja ia katakan.
Tak seorangpun, kecuali Ki Bangun Jiwa, yang memperhatikan dengan seksama cara Batari Mahadewi melumpuhkan pendekar Siluman Buaya. Sehingga, ketika mengetahui pendekar Siluman Buaya telah tergeletak di tanah dalam keadaan tak berdaya, barulah semua orang di sana menyadari bahwa gadis kecil di hadapan mereka adalah sosok yang mengerikan.
__ADS_1
Tanpa di suruh lagi, beberapa pendekar aliran hitam yang tersisa beranjak menemui pemimpin mereka, lalu kemudian membopong pendekar yang telah kehilangan kekuatannya itu pergi meninggalkan perguruan Tongkat Sakti. Sungguh kekalahan yang menyakitkan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
“Tiakkah berbahaya melepaskan mereka semua pergi, adik?” tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.
“Aku tak bisa menjamin bahwa mereka tak akan melakukan keonaran lagi. Tapi dalam waktu dekat, mereka tak akan berbuat keonaran. Selebihnya, mereka akan mengabarkan hal buruk yang mereka hadapi, jauh lebih buruk dari yang sebenarnya untuk menutupi kegagalan mereka. Setidaknya, hal itu bisa menurunkan semangat lawan dalam jumlah yang besar.” Kata Batari Mahadewi.
Ketiga murid Ki Gading Putih yang bertarung dengan cara yang tak lazim itu membuat semua orang menaruh hormat. Bagaimanapun juga, ketiga pendekar muda itu masing-masing memiliki jurus legendaris yang mematikan.
#####
Jauh di bagian utara Swargadwipa, ketiga murid lain dari Ki Gading Putih, yakni Anjani, Cendana, dan Buyung telah bersiap untuk kembali ke padepokan Cemara Seribu setelah ketiganya selesai dalam tugas yang mereka emban. Wilayah utara itu merupakan wilayah pertama yang menjadi sasaran dari kelompok aliran hitam.
Rencana itu tak sepenuhnya berhasil. Meski kelompok ular hitam merupakan kelompok besar dengan jumlah anggota yang sangat banyak, ditambah lagi kekuatan pendekar Ular Hitam yang hampir mendekati kekuatan pendekar legendaris, namun kedatangan ketiga murid pertama Ki Gading Putih telah merusak rencana mereka.
Harimau Merah mengatur ulang strateginya dengan mengundang lebih banyak pendekar aliran hitam dari berbagai wilayah ketika ia tahu bahwa kelompok Ular Hitam akan segera hancur. selebihnya, Harimau Merah menentukan langkahnya dengan sangat hati-hati dan sistematis.
__ADS_1
Anjani, Cendana, dan Buyung bukanlah remaja seperti Jalu dan Niken. Ketiga murid pertama Ki Gading Putih itu merupakan pendekar yang telah matang baik dari segi umur ataupun ilmu yang mereka kuasai. Ketiganya berumur sekitar tiga puluh tahunan dan masing-masing memiliki ilmu yang unik.
Anjani yang memiliki karakter tubuh air, ia bisa menggunakan air sebagai senjata utamanya. Pada level puncak dari pendekar dengan karakter tubuh seperti itu, maka pendekar itu bisa menghentikan aliran darah lawannya dalam sekali serangan. Hanya butuh beberapa tahun lagi, seiring dengan perkembangan latihannya, maka Anjani bisa mencapai level puncak dari rangkaian kesaktiannya.
Sementara itu, Cendana memiliki karakter tubuh Besi. Ia tak hanya bisa menaklukkan segala jenis logam, namun ia juga memiliki daging dan tulang sekeras besi ketika ia memancarkan energinya. Meski demikian, ia memiliki kecepatan yang tinggi sehingga tubuhnya itu sendiri sudah seperti senjata yang berbahaya.
Lain dengan Anjani dan Cendana, Buyung tak terlalu mahir dalam beladiri. Namun ia memiliki kecerdasan yang jauh melampaui Anjani dan Cendana, terutama dalam hal menyusun atau membaca strategi perang. Satu-satunya jurus yang ia miliki dalam hal beladiri adalah jurus mengendalikan pikiran lawan.
Sayangnya, tingkat energi yang dimiliki Buyung tidaklah banyak sehingga ia hanya bisa sekali saja menggunakan jurusnya untuk menyerang lawan dan selanjutnya ia akan kehabisan tenaga dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Oleh karenanya, ia hanya akan menggunakan jurusnya di saat yang paling genting, saat Anjani dan Cendana kewalahan menghadapi lawannya.
Meski tampak lemah, jika Buyung tak menemani kedua kakak seperguruannya itu, maka Anjani dan Cendana tak akan mampu mengalahkan pendekar Ular Hitam. Pada saat-saat terakhir, sebelum pendekar Ular Hitam mengakhiri hidup Anjani dan Cendana, Buyung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengendalikan pikiran pedekar Ular Hitam.
Dengan demikian, Buyung berhasil membuat pendekar Ular Hitam menggunakan jurus pamungkasnya untuk melukai dirinya sendiri. Bersamaan dengan tewasnya pendekar Ular Hitam karena menelan jurusnya sendiri, Buyung kehilangan kesadarannya. Selama dua minggu lebih ia tak sadarkan diri. Anjani dan Cendana merawatnya hingga pulih kembali.
Kini ketiganya hampir sampai di wilayah tengah kerajaan Swargadwipa. Ketiganya tak menyadari bahwa masalah baru menanti mereka di sana.
__ADS_1
####
Segini dulu ya teman-teman. Semoga update singkat ini bisa menghibur teman-teman. Terimakasih atas segala kesabarannya menanti update setiap hari. Terimakasih juga atas segala bentuk dukungannya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan baik dan bahagia. Amin.