Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 27 27. Kemampuan Baru


__ADS_3

Batari Mahadewi terperanjat melihat perubahan bentuk kuku di tangan dan kakinya. Kini kukunya berbentuk lebih ramping dengan ujung meruncing. Ia meraba kukunya dan ia merasakan bahwa kukunya berubah menjadi logam berwarna keemasan.


Ia tak percaya akan perubahan tubuhnya, lalu ia menggoreskan kukunya perlahan di sebuah meja kecil dalam ruangannya. Meja berbahan besi itu tergores sepeti sayatan pedang yang sangat tajam. Lalu ia mencoba menggoreskan kuku itu ke kulitnya. Ternyata kulitnya kebal dengan ketajaman kuku barunya.


Batari Mahadewi sangat bingung. ‘Bagaimana aku harus menyembunyikan kuku ini…mungkin aku bisa menyamarkan warnanya dengan pewarna kayu…tapi bagaimana dengan ujung kuku yang runcing ini?’ Ia pun belum menyerah, ia mengambil pisau kecil dan mencoba menyayat ujung kukunya. Yang terjadi adalah bukan kukunya yang tersayat, melainkan pisau itulah yang terpotong.


‘Kalau sudah seperti ini, apakah aku masih manusia? Jangan-jangan aku adalah siluman…oh tidak…ah…jangan berfikir yang bukan-bukan…setidaknya aku tak kehilangan kesadaranku…’ Batari Mahadewi mencoba menenangkan diri.


Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba tidur kembali. Batari Mahadewi tak pernah tahu bahwa syair yang ia baca adalah mantra yang menjadi jalan bagi dirinya dan burung merak emas di taman belakang.


Keesokan paginya, Balai Kota digemparkan dengan berita kematian burung merak emas. Burung itu tak lagi berwarna emas, melainkan burung merak hijau biasa yang telah kehilangan nyawanya.


Batari Mahadewi tak pernah menceritakan mimpi yang ia alami kepada siapapun dan ia sedikit menyesal karena telah bertemu dengan burung merak itu. ‘Ah…barangkali ini sudah takdir.’ Adipati Jalak Kuning terlihat muram karena burung merak emas yang ia banggakan kini telah mati. Suasana hatinya sangat buruk, terlebih karena ia mendapatkan burung istimewa itu dari hal yang istimewa pula.


Sebelum adipati mendapatkan burung merak emas itu, ia bermimpi bertemu dengan seorang gadis cantik yang menitipkan sebutir telur berwarna emas. Gadis itu mengatakan bahwa telur itu akan menetas dan menjadi burung yang cantik.


Namun pada saatnya nanti, burung itu akan kembali kepada takdirnya. Keesokan paginya, setelah mimpinya yang aneh semalam, Adipati menemukan seekor burung merak berwarna emas sedang asik mencari makan di taman belakang. Sejak itu ia memeliharanya.


Hanya saja, Adipati telah melupakan mimpinya bertemu dengan seorang gadis yang menitipkan sebutir telur emas padanya. Ia terlanjur menganggap burung merak emas itu adalah miliknya dan ia sangat tidak siap ketika burung itu mati. Begitulah.


Setelah suasana gempar itu, semua kembali pada kesibukannya masing-masing. Jalu dan Niken belum menyadari perubahan pada Batari Mahadewi karena semua tampak seperti biasanya dan Batari Mahadewi selalu menyembunyikan kukunya.


Ia ingin segera bergegas keluar Balai Kota, membeli baju berlengan panjang dan sarung tangan untuk menyembunyikan kukunya. Sudah pasti kuku itu akan menjadi perhatian banyak orang.


“Selamat pagi nona cantik, semalam kamu tidur seperti orang mati.” Sapa Jalu yang sedari semalam belum sempat berbicara apapun dengan Batari Mahadewi. “Apakah adik punya berita bagus?” Tanya Jalu.


“Tidak terlalu. Hmm…aku akan bercerita nanti. Sekarang aku benar-benar ada perlu dan harus pergi ke luar Balai Kota.” Kata Batari Mahadewi sedikit gugup karena ia tak ingin Jalu melihat kukunya. “Sampai ketemu nanti kakak.” Lalu Batari Mahadewi buru-buru pergi.


“Aneh sekali dengan adik. Tak biasanya ia seperti itu. Apakah kemarin ia baik-baik saja dengan penyamarannya yang seperti itu?” Kata Niken.


“Entahlah. Sepertinya memang ada yang aneh. Tapi sebaiknya kita tunggu saja.”


Tak lama kemudian Galuh datang membawa makanan dan buah-buahan. Ia bersikap sangat manis kepada Jalu. Niken yang tak ingin melihat pemandangan mengesalkan itu pamit pergi ke perpustakaan dan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


“Sayang sekali burung merak itu mati pagi ini.” Kata Jalu bingung mencari topik pembicaraan.


“Iya Raden. Sangat disayangkan burung itu tak berumur panjang. Itu merupakan burung kesayangan ayahku. Kalian beruntung masih sempat melihatnya kemarin.” Kata Galuh.


“Mungkin ada baiknya hari ini aku menunda membicarakan sesuatu kepada paman mengingat suasana hatinya pasti buruk saat ini.” Kata Jalu.


“Sebaiknya demikian. Sejak tadi ia murung dan menyendiri.” Kata Galuh. “Apakah Raden akan tinggal lama di sini?” tanya Galuh penasaran.


“Ini masih belum pasti. Mungkin akan sedikit lama.” Kata Jalu.


“Syukurlah kalau begitu.” Kata Galuh keceplosan.


“Memangnya ada apa, Adik?” tanya Jalu.


“E…tidak apa-apa. Saya hanya senang Raden Jalu, nona Niken dan nona Batari Mahadewi tinggal di sini. Saya jadi ada teman ngobrol.” Jawab Galuh. “Raden, silahkan dimakan makanan yan saya bawakan tadi. Saya memasaknya sendiri.” Kata Galuh malu-malu. “Saya akan mengantar juga makanan ini untuk nona Niken diperpustakaan.” Sambungnya.


“E…sebaiknya jangan. Biarkan saja dia di sana, nanti kalau dia lapar pasti akan ke sini.” Kata Jalu. Ia merasa bukan hal baik jika Niken dan Galuh bertemu. Sejak kemarin sore sebelum mereka berdua menyamar, Niken terlihat berubah dan tampak tidak senang dengan kedatangan Galuh. Jalu merasa serba salah, di satu sisi ia tak mungkin menghindari Galuh tanpa alasan. Di sisi lain, ia tak ingin Niken kesal padanya.


Setelah selesai menemani Jalu sarapan, Galuh pamit pergi ke ruangannya. Ia tak ingin mengganggu Jalu karena ia tahu salah satu alasan Jalu tinggal di sana karena ada hal penting yang harus ia kerjakan.


“Kau tak ingin mencicipi makanan ini?” tanya Jalu.


“Kakak makan saja sendiri. Aku hanya ingin makan buah-buahan ini.” Kata Niken sedikit ketus.


“Adik marah padaku?” Pancing Jalu.


“Tidak.” Jawab Niken sekenanya.


Batari Mahadewi datang dengan pakaian barunya yang sebenarnya tampak aneh, yakni pakaian berlengan panjang yang agak kebesaran sehingga menutupi seluruh tangannya karena ukurannya yang juga terlalu panjang.


“Apakah adik ingin menyamar lagi?” tanya Niken heran.


“Tidak. Sejak kemarin aku berpakaian berbeda, sekarang aku ingin mencoba penampilan baru.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Tapi bukankah baju itu telalu besar untukmu?” Niken masih penasaran.


“Aku sengaja memilih ini.” Jawab Batari Mahadewi.


“Kau yakin ingin memakainya?” Niken masih memburu Batari Mahadewi dengan pertanyaan. “Dan…astaga. Kau juga memakai sarung tangan …kurasa selera pakaian adik buruk sekali hari ini.” Sambung Niken.


“Hahaha…entahlah, aku menyukainya.” Batari Mahadewi masih mencoba beralasan.


“Kalau seperti ini, mana ada laki-laki yang melirikmu, adik.” Gurau Niken.


“Itulah kenapa aku memilih pakaian ini. Ternyata menjadi sorotan mata banyak laki-laki tak terlalu menyenangkan. Aku sudah membuktikannya kemarin.” Kata Batari Mahadewi akhirnya bisa lolos dari pertanyaan-pertanyaan Niken.


Terbukti setelah itu Niken tak menanyai lagi soal pakaiannya.


“Adik berjanji akan menceritakan sesuatu.” Kata Jalu, “Hal menarik apa yang akan kau ceritakan?”


“Aku bertemu pendekar Matahari, satu-satunya pewaris ke 5 Ilmu Matahari yang terkenal itu.” Kata Batari Mahadewi.


“Beliau ada di sini? Bagaimana adik menemukannya?” Jalu penasaran karena selama ini ia hanya mendengar ceritanya saja dari gurunya.


“Ya, beliau ada di sini. Namanya Ki Sura. Aku tidak tahu kenapa sekarang ini ia menjaga perpustakaan kota. Kurasa ia menyembunyikan dirinya dari dunia persilatan dengan menyamar sebagai penjaga perpustakaan.” Kata Batari Mahadewi.


“Pendekar itu sudah lama sekali menghilang. Berbeda dengan guru kita yang meskipun mengundurkan diri dari dunia persilatan, tapi siapapun yang ingin bertemu maka bisa menemuinya di padepokan.” Kata Niken.


“Tapi bagaimana ia membocorkan rahasianya padamu?” Tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.


“Aku belum bercerita kepada kakak. Pada hari pertama aku di perpustakaan itu, aku menemukan aksara rahasia yang disembunyikan dalam sebuah naskah tua. Aku membacanya dan secara tidak sengaja aku telah mempelajari jurus-jurus ilmu matahari. Siapapun yang mempelajari ilmu ini, akan memancarkan aura yang khas dan dengan itu maka beliau berbicara padaku.” Kata Batari Mahadewi.


“Apakah beliau mengetahui keberadaan Kelelawar Hitam?” Tanya Jalu.


“Beliau bilang kalau kita tak perlu mencari mereka. Kita hanya butuh bersiap saja menunggu mereka menampakkan diri.” Kata Batari Mahadewi. “bagaimana dengan kakak, apakah kakak mendapatkan sesuatu?”


“Kami menemukan sebuah gedung tua. Kami tak dapat petunjuk apapun sebetulnya, tapi aku punya firasat gedung itu menyembunyikan sesuatu.” Kata Jalu.

__ADS_1


“Sebaiknya kita memang harus menunggu.” Kata Niken.


__ADS_2