
Nala tersenyum senang mendengar ucapan kekasihnya itu. Ada yang tampak lain dari yang ia kenali. Gadis itu terlihat semakin cantik.
“Penampilanmu berubah seperti ini, Tari!” kata Nala.
“Dengan begini, kau tak perlu cemas bibirmu robek oleh taringku! Tidakkah kau ingin memelukku sebentar?”
“Aku maunya lama!” Nala bangkit berdiri, merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
“Hei…hei…ayolah, kalian tidak sungkan padaku!” gerutu raja dewa.
“Maaf kakek, barusan kami melupakanmu,” Nala melepaskan pelukannya.
“Ah, raja dewa, kau mengganggu kesenangan anak muda saja!” gurau Batari Mahadewi.
“Terserah kalian mau melakukan apa, tapi tunggu aku mengatakan sesuatu dulu!” kata raja dewa.
“Apa yang ingin kakek katakan?” Nala masih menyebut sang raja dewa itu dengan sebutan kakek. Sunguh keterlaluan sekali pasangan muda itu.
“Sementara ini, jangan cari masalah dulu. Aku masih memikirkan caranya agar kau bisa membuka kunci kekuatan terakhirmu. Tapi sekarang aku harus benar-benar pergi ke dunia lain, mencari sumber kekuatan untuk memperbaiki kristal emas itu,” kata raja dewa.
“Kemana raja dewa akan mencari penggantinya?” tanya Batari mahadewi.
“Ke dunia tujuh rembulan. Saat ini semua dewa sedang bergantian mengerahkan kekuatannya untuk menjaga agar kekuatan kristal itu tetap menyala. Jadi, seperti yang aku bilang, jangan cari masalah dulu. Aku dan dewa lainnya tak bisa membantu jika hal buruk terjadi!”
“Baik, raja dewa.”
__ADS_1
Sosok raja dewa itu menghilang begitu saja. Entah kapan ia akan kembali.
“Lalu apa yang akan kita lakukan, Tari?” tanya Nala.
“Kembali ke Mahabhumi. Tapi sebelum ke sana, kita di sini dulu. Aku akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan.”
****
Kematian Kalahitam dan Kalajingga, serta bangkitnya kekuatan iblis membuat Kalamerah di Mahatmabhumi tak bisa tinggal diam. Seperti halnya Kalahijau, ia juga tengah mempersiapkan sesuatu. Ia belum tahu kabar terbaru, yakni Kalapati sempat turun ke wilayah Kalahijau untuk memporak-porandakan kekuatan iblis.
Benteng yang dibuat di wilayah timur Swargadwipa telah selesai dibangun dalam bulan-bulan terakhir itu. Sebagian besar manusia yang tinggal di timur telah pindah ke barat. Benteng besar itu sendiri dijaga oleh banyak sekali pendekar serta prajurit gabungan dari semua kerajaan di Mahabhumi.
Keadaan sangat genting, Kalamerah ingin melenyapkan sebagian besar manusia di sana, sebab ia khawatir jika kelak bangsa manusia itu akan berubah menjadi iblis, maka hal itu akan sangat merepotkan bangsa raksasa.
Di sebelah barat benteng, bangsa manusia telah menyiapkan ratusan ribu panah raksasa serta alat pelontar batu, juga jutaan gentong minyak yang akan digunakan untuk membakar para raksasa yang mencoba untuk mendekati benteng.
Pada sore hari itu, Niken mendatangi pos Jalu yang berada tak terlalu jauh dari posnya sendiri. Masing-masing pos berisi satu pendekar tingkat atas, beberapa pendekar dibawahnya, serta para prajurit.
“Ada apa adik mencariku?” tanya Jalu. Mereka duduk berdua di lantai benteng itu. Semua orang tahu, dua pendekar hebat itu adalah pasangan kekasih. Jadi, ketika mereka sedang berduaan, orang-orang yang lain pengertian untuk menjauh.
“Tidak ada. Hanya ingin sejenak bersamamu. Kita tak akan pernah tahu bagaimana nasib kita berdua esok hari,” kata Niken.
“Jangan putus asa begitu, adik. Percayalah, kita tak akan kalah dengan bangsa raksasa itu,” kata Jalu.
“Hahaha, kita sama-sama tahu seberapa kuat tiap-tiap raksasa ksatria yang menjadi prajurit itu kan? Beruntung satu bulan yang lalu kita bisa lolos dari mereka. Kali ini, yang kita hadapi bukan hanya satu. Tapi entahlah…andai adik Tari masih di sini…” Niken menengadahkan kepalanya ke cakrawala.
__ADS_1
“Ingat kataku, adik. Kita tak boleh memaksakan diri. Jika kita terdesak, maka kita hanya perlu lari.”
“Ya, pasti. Kakak juga ya. Jangan sok kuat!” kata Niken. Ia menggenggam erat telapak tangan Jalu, lelaki bertubuh api itu. Jalupun berbuat hal yang sama, seolah tak rela membiarkan gadis itu jauh darinya.
“Jika kau terdesak, kau segera datang ke sini. Jika kita terdesak, kita lari ke utara, di sana ada pos kak Buyung. Setidaknya, di sana kita akan sedikit lebih aman.” Kata Jalu.
“Ya, aku mengerti kakak. Aku kembali ke posku dulu,” kata Niken. Jalu mengecup kening Niken sebelum kekasihnya itu kembali ke posnya.
Tak ada yang berwajah senang di sana. Semua cemas dan takut, tetapi tak boleh menyerah.
Menjelang malam hari, barisan pasukan raksasa itu telah datang. Barisan awal itu adalah pasukan terlemah, yang digunakan untuk menguras persenjataan bangsa manusia. Mereka bergerak, menggetarkan bumi, merobohkan pepohonan dan menciptakan suara yang menakutkan sampai-sampai burung-burung yang telah tidur di pepohonan itu tiba-tiba beterbangan ke segala arah.
“Musuh telah datang!!!! Kerahkan semua senjata!!!!”
Terdengar suara yang bersahut-sahutan, memberi aba-aba untuk melontarkan bebatuan yang telah dilumuri minyak dan dinyalakan api. Begitu pula dengan panah-panah raksasa, serta jutaan anak panah kecil yang semuanya telah dilumuri minyak dan dibakar terlebih dahulu sebelum dilepaskan ke udara.
Dalam sekejap, hutan lebat di sisi timur benteng itu terbakar. Bebatuan api itu menciptakan ledakan-ledakan kecil setiap kali jatuh menghujam bumi. Tak sedikit raksasa yang terluka akibat serangan itu. tiap-tiap panah raksasa, yang benar-benar berukuran besar, sanggup menembus tubuh para raksasa itu apabila tepat sasaran.
Bangsa manusia menang dalam hal jenis persenjataan. Sementara, bangsa raksasa itu murni menggunakan kekuatan dan kebodohan mereka untuk menyerang. Adapun senjata yang mereka miliki hanyalah senjata untuk pertarungan jarak dekat, seperti pedang, palu, gada, tongkat, rantai, dan lain sebagainya.
Sementara belum ada bangsa raksasa yang sanggup untuk sampai di tembok benteng. Mereka bersikeras melawan api yang menghalangi jalan mereka. Sesekali mereka mendapati teman-teman mereka tertimpa batu api. Kadang mereka hanya terluka, namun ada pula yang mati seketika ketika bebatuan itu jatuh di kepala mereka.
Para tetua pendekar seperti Ki Gading Putih dan rekan-rekan sebayanya itu bersiap-siap untuk melesat menuju arena perang saat pasukan raksasa yang lebih tinggi tingkatannya telah datang.
Saat senjata jarak jauh bangsa manusia mulai mereda, barulah ratusan pendekar dari bangsa raksasa melayang dari arah timur, melesat di atas kobaran api hutan itu. Pada saat yang sama, para tetua pendekar dari Mahabhumi menyambut mereka.
__ADS_1
Ki Gading Putih mengerahkan seluruh kekuatannya, mengayunkan pedang pusakanya untuk menebas tubuh lawan-lawannya. Bukan sebuah perkara yang mudah. Meski pedang dan golok pusaka itu sanggup menebas apapun, tetapi bangsa raksasa itu memiliki kemampuan pertahanan yang tidak bisa dibilang buruk.
Selebihnya, bangsa manusia benar-benar harus mengandalkan kecepatan mereka yang bagaimanapun juga jauh lebih unggul dari tubuh raksasa yang besar dan lamban itu. Dengan cara itulah, para tetua pendekar Mahabhumi mencari celah paling tepat untuk mengakhiri nyawa musuh-musuhnya itu.