
Delapan bulan berlalu dengan cepat. Tak ada lagi gangguan dari bangsa iblis. Para raksasa yang tersisa di berbagai penjuru dunia dengan sendirinya pindah ke wilayah kekuasaan Kalahijau. Kini pulau besar itu menjadi satu-satunya tempat bermukimnya kekuasaan bangsa raksasa.
Kehidupan di Mahabhumi telah pulih meski pada akhirnya hanya ada satu kerajaan pusat saja yang menaungin beberapa kerajaan kecil lainnya.
Di padepokan Cemara Seribu, hanya ada Buyung, Vidyana dan Nala saja yang tinggal di sana. Sementara yang lain menjalani takdir mereka masing-masing.
Jalu dan Niken tinggal di kota Dhyana. Mereka membangun sebuah rumah kecil yang sederhana. Niken telah mengandung empat bulan. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu, dan Jalu akan menjadi seorang ayah. Mereka berdua tak mengabarkan kabar bahagia itu, sebab mereka memang ingin memberikan kejutan bagi saudara-saudara seperguruan atas lahirnya seorang anak istimewa yang di dalam tubuhnya telah mengalir darah tubuh api dan tubuh es.
Nala benar-benar ada di ujung rindu. Ia tak tahu apa kabar Batari Mahadewi di khayangan. Satu-satunya hiburan baginya adalah melihat kedekatan Buyung dan kakaknya itu di padepokan.
Nala sering menghabiskan waktunya menyendiri. Tenggelam dalam semedi dengan tubuh yang terbungkus batu yang ia ciptakan sendiri. Semedi itu bukan semata-mata cara dia membunuh rindu, namun Nala mencoba untuk merasakan kekuatan bumi, memantau energi Kalapati yang belakangan ini secara samar-samar sering ia rasakan bersamaan dengan datangnya gempa bumi kecil yang terjadi dalam waktu cukup lama.
Pada hari itu, ketika Buyung dan Vidyana sedang berlatih tanding, sebuah gempa besar terjadi.
“Gempa lagi!” kata Buyung sembari berusaha menjaga keseimbangan agar tubuhnya tak ambruk karena gempa itu. Demikian pula dengan Vidyana.
“Ini yang kedua dalam hari ini dan getarannya terasa cukup kuat,” ujar Vidyana.
“Nala masih menyendiri di dalam batu itu. Seharusnya ia menyadari hal aneh ini, kan?” kata Buyung.
“Tak mungkin ia tak menyadari hal ini. Ah, sungguh kasihan adikku itu. Aku tahu, ia rindu Tari. Meski ia tak pernah mengatakan bahwa ada hubungan cinta antara dirinya dengan Tari, tapi aku yakin mereka berdua memang menjalin hubungan,” kata Vidyana.
“Ya, kurasa memang ada. Mereka memang tak pernah mengatakannya, tetapi menurutku siapapun akan bisa menebak dengan mudah bahwa mereka berdua sedang jatuh cinta,” kata Buyung.
“Kak Buyung, tidakkah sebaiknya kita akhiri saja latihan hari ini?” ujar Vidyana.
“Baiklah, aku akan memasak saja kalau begitu,” kata Buyung.
__ADS_1
“Bukankah hari ini giliranku memasak?” tanya Vidyana.
“Hmm…tapi aku sedang ingin makanan yang enak,” ucap Buyung.
“Jadi selama ini masakanku tidak enak?!”
“Enak…tapi…butuh usaha keras untuk menghabiskan masakanmu!” Buyung tertawa sambil melarikan diri. Vidyana yang kesal itu melempar lelaki itu dengan batu. Keduanya sering tampak kekanak-kanakan jika hanya berdua saja.
Akhirnya mereka memasak berdua. Buyung selalu merasa gagal mengajarkan ilmu memasak kepada Vidyana. Entah apa sebabnya. Bahkan untuk membakar ubi saja, hasilnya selalu hangus. Belum lagi untuk urusan memasak yang bumbunya cukup rumit.
Keduanya menuju ke pendopo dengan membawa beberapa jenis masakan. Meski hanya berdua saja, tetapi mereka selalu makan di sana. Sama seperti dulu ketika padepokan itu masih ramai dengan saudara-saudarinya.
Gempa besar kembali terjadi saat keduanya tengah makan. Gempa itu membuat atap bangunan seperti beras yang sedang ditampi. Andaikan bangunan di Cemara Seribu itu tidak dibangun dengan kokoh, pasti telah ambruk karena goncangan itu.
Begitu gempa selesai, Nala akhirnya menampakkan diri di pendopo.
“Kurasa, sebentar lagi akan ada malapetaka,” kata Nala.
“Maksudmu akan ada serangan lagi ke Mahabhumi?” tanya Buyung.
“Tidak. Aku yakin ini ada kaitannya dengan Kalapati. Para dewa sedang menguncinya di bawah laut. Tak mungkin raksasa itu tidak memberontak saat kekuatannya telah pulih,” kata Nala.
“Ini artinya…jika tak ada dewa yang mampu melawannya, lalu bagaimana dengan nasib kita?” kata Vidyana.
“Sebenarnya raksasa itu hanya tertarik melawan Tari. Tetapi karena para dewa telah ikut campur, kurasa ia akan benar-benar mengamuk kali ini. Mungkin dalam waktu dekat, aku akan pergi ke laut itu untuk memantau keadaan di sana,” kata Nala.
Jika para dewa harus bertarung saat Kalapati berhasil membuka segel yang menahannya di bawah laut itu, Nala tak mau tinggal diam. Bagaimanapun juga, kekuatannya setara dewa. Bahkan setelah ia berhasil menyerap banyak sekali mustika dari para iblis, serta perisai Batari Mahadewi yang melekat di tangan kananya, kekuatan Nala bisa di setarakan dengan gabungan kekuatan beberapa dewa sakti.
__ADS_1
Nala merasa tak tenang. Pada hari itu juga, setelah berpamitan dengan Buyung dan Vidyana, ia melesat kencang menuju ke laut di dekat sebuah pulau kecil yang menjadi tempat pertarungan antara Kalapati dan Batari Mahadewi waktu itu.
Dengan kekuatan barunya itu, Nala tak butuh banyak waktu untuk sampai di tempat itu. Di sana ia melihat pusaran air laut di satu titik. Di tengah-tengah pusaran itu ada lubang besar yang membuat air laut masuk ke dalam lubang itu.
“Apa yang sedang terjadi?” batin Nala. Di sana, angin juga bertiup kencang. Lama kelamaan, tiupan angin itu menjelma menjadi pusaran topan dengan poros di lubang pada lautan itu.
Semakin lama, pusaran angin dan air laut itu semakin bertambah kencang. Nala harus bertahan dengan kekuatannya agar ia tidak tersedot masuk ke dalam pusaran itu.
Cahaya berwarna-warni menyembul dari permukaan laut itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba para dewa secara bersama-sama melesat ke atas, diikuti dengan ledakan besar di bawah permukaan laut itu.
Gempa dahsyat disertai ombak tinggi yang menderu-deru menandai lolosnya Kalapati dari segel yang menguncinya. Makhluk itu merubah tubuhnya menjadi sosok yang sangat besar hingga kepalanya menyentuh langit.
Para dewa berusaha sebisa mungkin untuk menahan Kalapati di sana. Namun apalah daya, dalam satu hentakan tangan Kalapati yang besar itu, para dewa terlempar jauh ke berbagai arah.
Dewa laut, dewa angin, dewa bumi, dewa matahari, dan dewa perang barangkali adalah empat dewa terkuat yang bisa bertahan dari amukan Kalapati. Mereka berlima bekerja sama untuk menyerang makhluk tinggi dan besar itu.
Dewa laut membelit kaki Kalapati dengan air laut, sementra dewa matahari dengan tubuh apinya membakar kepala makhluk itu. Selagi Kalapati sibuk dengan serangan itu, Dewa perang mengayunkan pedang besarnya ke dada Kalapati. Seberkas cahaya keemasan dari ayunan pedang itu melesat dan membentur perut Kalapati dan menciptakan ledakan hebat.
Pulau kecil yang ada di sana tiba-tiba menyembul semakin naik. Dewa bumi menggerakkan pasir, bebatuan dan segala material bumi di sekitar sana untuk membuat sesosok raksasa yang sama besarnya dengan Kalapati. Dewa laut menyatu dengan sosok raksasa yang ia ciptakan, lalu mulai bergerak menyerang Kalapati.
Serangan dahsyat itu memang membuat Kalapati sangat repot. Namun maharaja raksasa itu tak terlihat melemah meski berkali-kali menerima serangan berkekuatan besar.
Sang raja raksasa itu membuka mulutnya lebar-lebar, lalu mengerahkan seberkas sinar berwarna merah dari mulutnya itu. Sinar energi berkekuatan sangat besar itu menghantam raksasa bumi hingga hancur lebur.
Kalapati hanya bisa bergerak lambat dengan tubuh maha besar itu. Maka ia mengubah kembali wujudnya menjadi seukuran manusia. Ia melesat dengan kecepatan cahaya untuk membalas perlakuan para dewa itu padanya.
Nala tak bisa lagi berdiam diri sebagai penonton. Ia merubah wujudnya menjadi manusia es. Ketika dewa laut menggulung raksasa itu dengan ombak, Nala menghempaskan kekuatan dingin yang membuat gulungan air berisi Kalapati itu seketika membeku.
__ADS_1
Dewa perang sekali lagi melesat dan mengayunkan pedang besarnya menghantam gumpalan es itu dan menciptakan ledakan yang sangat besar. Namun demikian, Kalapati masih utuh dan melayang di udara dengan gagahnya. Tanpa takut sedikitpun kepada para dewa yang mengeroyoknya itu. Perhatiannya tertuju pada lengan kanan Nala yang memancarkan kekuatan milik Batari Mahadewi.