Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 112 Bertemu Sang Pengembara 7 Dunia


__ADS_3

Matahari pagi telah terbit. Segala sesuatu terlihat jauh lebih jelas. Batari Mahadewi dan Nala takjub dengan pemandangan yang mereka lihat. Semua tanaman dan hewan yang mereka saksikan sangat jauh berbeda dengan dunia asal mereka. Semua berukuran tiga kali lipat dan berwarna lebih cerah.


“Ayo kita telusuri dunia ini. Aku penasaran, apakah ada makhluk semacam manusia di dunia ini. Jika ada, apakah mereka juga berukuran raksasa!.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, aku juga ingin tahu.” Kata Nala.


Keduanya berjalan menyusuri padang rumput yang luas, meninggalkan bangkai harimau berkepala tiga dan dua lubang menganga tempat keduanya jatuh di dunia asing itu. Rerumputan di dataran itu setinggi lutut mereka berdua.


“Kita seperti makhluk kecil di dunia ini.” Kata Nala.


“Pantas saja aku bisa menyerap energi dan memulihkan diriku dengan sangat cepat.” Kata Batari mahadewi.


“Akupun juga demikian.” Balas Nala.


“Bagaimana jika kita terbang saja? Dari atas, kita bisa lebih mudah memantau segala sesuatu di dunia ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau benar.” Jawab Nala.


Keduanya melompat ke angkasa dan melayang di udara. keduanya tak menemukan apa yang mereka harapkan. Dunia itu terasa sangat luas dan yang terbentang di bawah hanyalah hutan, bukit, dataran rumput, sungai, laut, danau, dan mereka belum menemukan satupun yang mereka sebut sebagai semacam pemukiman manusia.


“Ah, kita benar-benar terjebak di sini.” Kata Nala.


“Ayo kita jelajahi lebih jauh lagi. Di sana ada gunung, coba kita lihat ada apa di balik gunung itu.” Kata batari mahadewi.


Keduanya melesat cepat ke arah gunung yang sangat tinggi dengan puncak yang berwarna putih. Gunung itu sangat tinggi hingga menembus langit. Sesampainya di puncak, mereka bisa melihat awan-awan bergerak perlahan di bawah.


“Puncak gunung ini adalah es. Dan sepertinya tak ada apa-apa di bawah sana.” Kata Nala.


“Tunggu sebentar, aku bisa merasakan sesuatu.” kata Batari Mahadewi. Gadis kecil itu memandang di suatu titik, jauh dari hadapannya. “Di arah sana, kau bisa merasakannya?” tanya Batari Mahadewi.


“Jangkauanku belum sejauh itu. Tapi ayo kita ke sana saja.” Kata Nala. Keduanya melesat cepat ke arah yang di tunjuk oleh Batari Mahadewi. Sesampainya di sana, mereka menemukan sebuah kuil batu kecil yang didalamnya ada sebuah goa yang sempit. Lebih mirip seperti sarang beruang. Dari dalam goa itu, terpancar sebuah energi besar. Keduanya menduga, di dalam goa itu ada seseorang, atau semacam seseorang, atau makhluk yang sedang bertapa.


“Kita tunggu di sini saja.” Kata Batari Mahadewi pelan. Nala menurut. Mereka masing-masing duduk di bongkahan bebatuan yang tertata rapi dengan beberapa pahatan gambar mozaik di permukaannya. Batari Mahadewi dan Nala mengisi energi mereka dengan menyerap energi melimpah yang terpancar dari tempat itu.


Selang beberapa saat kemudian, sosok aneh muncul dari dalam goa. Sosok itu bertubuh kakek tua dengan rambut dan jenggot panjang yang telah memutih. Hanya saja, tubuh kakek itu hanya seukuran ayam jago. Batari Mahadewi dan Nala cukup kaget dengan penamilan sosok kakek tua itu. Keduanya tak menyangka, pancaran energi yang besar dari dalam goa itu ternyata milik seorang kakek-kakek yang bertubuh kecil.

__ADS_1


“Kalian datang dari dunia satu rembulan, bukan?” tanya kakek itu.


“Ya, kakek, hanya ada satu rembulan di dunia tempat kami berasal. Kami sedang mencari cara untuk kembali ke sana.” Kata Batari Mahadewi langsung pada pokok permasalahan.


“Kalian terlalu lemah untuk bisa kembali ke sana. Kalian bisa sampai di sini, karena energi kalian bisa membuka pintu dunia tiga rembulan dari dunia kalian. Sementara di sini, kalian harus lebih kuat lagi untuk bisa membuka pintu langit dan kembali ke dunia kalian, atau ke dunia rembulan yang lain. Dunia kalian merupakan dunia terlemah, sehingga dengan tenaga yang kalian miliki, kalian bisa membuka pintu langit di sana dengan mudah dan datang ke sini.” Kata kakek itu menjelaskan.


“Kami tak berniat membuka. Tiba-tiba saja ada lubang di langit dan menghisap kami berdua dan kami ada di sini.” Kata Nala.


“Bagus lah kalau begitu.” Kata kakek itu.


“Maksud kakek?” tanya Batari Mahadewi.


“Kalian bukan manusia, lalu apa alasan kalian di sana?” kata kakek kecil itu.


“Kami tak mengerti maksud kakek.” Kata Nala. Batari Mahadewi mengangguk menyetujui Nala.


“kalian sungguh tak tahu siapa kalian?” tanya kakek itu.


“Kami tak tahu, kek.” Jawab Batari mahadewi.


“Bagaimana kakek bisa mengetahui siapa kami, dan perbedaan waktu di dunia ini dan di dunia kami? Siapakah kakek ini sebenarnya?” tanya Batari Mahadewi.


“Aku Aluta, pengelana 7 dunia. Selama puluhan ribu tahun aku telah hidup di berbagai dunia. Dan akhirnya aku di sini. Tentu aku melihat banyak hal yang belum pernah kalian lihat. Jadi mudah saja mengetahui siapa kalian.” Kata Aluta, sang kakek kecil itu.


“Kalau begitu, kakek bisa bantu kami membukakan gerbang langit agar kami bisa kembali pulang?” tanya Batari Mahadewi.


“Bisa saja. Tapi siapa yang membuka gerbang, maka dialah yang bisa melewatinya. Kalian harus membukanya sendiri.” Kata Aluta.


“Lalu apa yang harus kami lakukan, kakek?” tanya Batari Mahadewi.


“Sudah kukatakan tadi, kalian harus bertambah kuat.” Kata Aluta.


“Bagaimana caranya?” tanya Batari Mahadewi.


“Kalian membutuhkan sumber kekuatan. Ada banyak di sini. Masalahnya, kalian harus membuka kekuatan yang terkunci dalam tubuh kalian. Hmm…kurasa kalian akan lama berada di sini. Paling tidak 10 tahun atau lebih. Itu sama halnya kalian meninggalkan dunia kalian selama setahun. Jadi kalian tak akan terlalu banyak ketinggalan perkembangan di dunia kalian. Bersabarlah.” Kata Aluta.

__ADS_1


Aluta mendekati Batari Mahadewi, lalu memegang tangan gadis itu dengan tangan mungilnya. Batari Mahadewi merasakan ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya. Ia tak menyangka makhluk mungil itu memiliki energi yang luar biasa besar, yang kini telah memaksa masuk dan membuat sekujur tubuhnya terasa sangat dingin.


Kakek itu masuk ke dalam alam pikiran Batari Mahadewi dan mengatakan sesuatu padanya. “Temanmu ini memiliki kekuatan yang berbahaya jika ia bisa membuka semua kunci energi dalam tubuhnya. Ia akan menjadi berbahaya jika berada dalam jalur yang salah. Namun, jika kau bisa mengendalikannya, kau akan sangat terbantu dengan kehadirannya. Aku tak berhak ikut campur dalam urusan kalian, tapi aku hanya bisa memberikan petunjuk yang harus kau jalani sendiri.”


Aluta melepaskan tangan Batari Mahadewi, lalu kakek mungil itu menoleh ke arah Nala, lalu melakukan hal yang sama. “Kau memiliki kekuatan yang luar biasa dan kau bisa merasakannya setelah berhasil membuka kekuatan yang terkunci dalam tubuhmu. Aku tak tahu kau akan menjadi malapetaka dunia atau justru sebaliknya. Kini kau dilahirkan kembali dalam wujud yang berbeda dan mungkin akan memiliki jalan hidup yang berbeda dengan kehidupanmu sebelumnya. Kau sepenuhnya yang akan memilih jalanmu.”


Aluta tersenyum kepada dua bocah yang ada di hadapannya itu. “Dunia di sini sangat luas. Kalian akan menemukan hal menakjubkan ketika nanti akan menjelajahi dunia di sini. Yang kalian perlukan agar bisa kembali ke dunia kalian adalah dengan melatih diri kalian serta menyerap sebanyak mungkin mustika alam yang ada di sini. Pergilah, dan kembalilah ke sini jika kalian butuh nasehatku.”


Aluta menghilang dari pandangan mata Batari Mahadewi dan Nala. Kedua bocah itu hanya bisa berpandangan sejenak, lalu sibuk memikirkan perkataan kakek tua itu sewaktu kakek itu merasuk dalam pikiran mereka.


“Kita jalani saja terlebih dahulu.” Kata Batari Mahaewi.


“Ya, kita tak punya pilihan lain.” Kata Nala.


Kedua bocah itu kembali melanjutkan petualangan mereka. Kali ini, keduanya memilih untuk berjalan kaki agar bisa lebih dekat merasakan sumber-sumber energi dari mustika alam yang tersembunyi di dunia itu.


“Kurasa hutan itu bisa menjadi tujuan pertama kita.” Kata Batari mahadewi sambil menunjuk hutan luas yang terhampar di hadapan mereka.


“Ayo kita ke sana.” Kata Nala.


Belum sampai keduanya menginjakkan kaki di tepi hutan, tiba-tiba kaki Batari Mahadewi terjerat sesuatu yang tiba-tiba muncul dari tanah dan menarik Batari Mahadewi hingga separuh tubuhnya masuk ke dalam tanah.


Nala berusaha menolong Batari Mahadewi dengan mencoba mengendalikan tanah di dunia itu. Usahanya berhasil, Nala bisa menyibak tanah di sekeliling tubuh Batari Mahadewi, dan membuat sosok menyeramkan itu mulai terlihat dari dalam tanah.


**#### **


Batari Mahadewi punya teman pertama di Noveltoon. Ia adalah seseorang yang pertama baca, yang pertama nge like, dan yang pertama kasih komentar di novel PBM. Dari chapter ke chapter, ia selalu menyempatkan diri berkomentar dan memberikan banyak dukungan melalui komentarnya itu.


Sahabat pertama Batari itu adalah Novita Budi Lestari, seorang perempuan cantik yang ternyata tak hanya telaten nulis komentar di tiap chapter PBM yang ia baca, namun diam-diam ia juga menulis novelnya sendiri. Sekarang, novelnya yang berjudul AMBERLEY itu sudah ada 24 chapter dan akan bertambah setiap hari. Doi sedang semangat sekali.


Novelnya bagus dan aku adalah pembaca pertamanya (bangga). Jarang-jarang aku baca romance. Tapi secara kualitas tulisan, teknik penulisan, dan detail cerita serta alurnya, tak hanya membuat novel karya Novita enak dibaca, namun juga layak dijadikan refrensi buat nulis.


Secara garis besar, Amberley adalah seorang gadis remaja yang telah ditinggalkan ibunya sewaktu ia masih anak-anak. Gadis itu tumbuh menjadi seorang yang pendiam dan tertutup. Ia sedikit berubah ketika sudah menjalani masa kuliah. Mula-mula Amberley harus berurusan dengan Giandra, seorang cowok nomor satu di kampusnya yang membuat hidup Amberley penuh dengan kesialan. Namun, kesialan-kesialan itu pada akhirnya justru bisa membuat Amberley berdamai dengan masa lalunya, dan….


Dan teman-teman sebaiknya tak boleh melewatkan kisah selengkapnya di Amberley ya. Top recommended novel versiku. Aku juga pengen minta bantuan teman-teman buat kasih support ke Amberley dengan like dan komentar pada setiap chapternya, dan berikan Vote agar Author Novita selalu semangat menuliskan cerita hebat dalam novelnya.

__ADS_1


Thanks teman-teman. Terimakasih masih mengikuti PBM dan memberikan berbagai bentuk dukungan. GBU.


__ADS_2