
Jalu dan Niken merasa was-was ketika mereka berdua melihat adiknya itu berjalan sendirian mendekati Panglima Kera Api dan pasukannya. Sementara, para pendekar dan tetua pendekar di wilayah barat masih bertanya-tanya, siapakah sosok perempuan luar biasa itu. Namun mereka masih tak yakin, dan tentu saja merasa sangat tak yakin bahwa tak mungkin sehebat-hebatnya seorang pendekar memiliki keberanian melawan pasukan pendekar kerajaan hitam sebanyak itu.
“Kau! Berani-beraninya mencampuri urusan kami!” kata panglima Kera Api yang telah mengetahui bahwa perempuan cantik berkostum aneh di depannya itu telah menumbangkan ribuan anak buahnya.
“Justru aku yang heran denganmu. Kenapa kau berani-beraninya datang ke pulau kami hanya dengan segelintir orang saja? Kalian pikir kalian ini orang-orang yang tak bisa dikalahkan? Aku beri kalian pilihan, pergi meninggalkan pulau ini atau bertarung denganku!” tantang Batari Mahadewi sambil menyunggingkan taringnya yang membuat senyum cantiknya terlihat menakutkan, bahkan oleh para pendekar hitam sekalipun.
Panglima Kera Api berada pada pilihan yang sangat sulit. Melihat kemampuan Batari Mahadewi, ia tahu kalau ia tak akan menang. Namun menyuruh seluruh prajuritnya untuk mengeroyok gadis itu juga merupakan hal yang memalukan. Mundur dan meninggalkan pulau Mahabhumi? Ia akan kehilangan nyawa di tangan ratu Ogha karena sudah jelas ratu itu menyuruh untuk menunggunya datang sebelum bergerak menyerang.
Maka, pilihannya adalah mati secara jantan. Ia menantang gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Aku akan bertarung denganmu!” panglima Kera Api menyanggupi tantangan Batari Mahadewi.
“Baiklah, ayo kita mulai saja. Kau cukup jantan untuk menjadi pemimpin pasukanmu itu.” kata Batari Mahadewi.
Panglima Kera Api memancarkan energinya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya memancarkan api yang membara. Ukuran tubuhnya juga membesar tiga kali lipat dari sebelumnya. Panglima itu menjadi monster api besar yang menakutkan.
Dengan kecepatan tinggi, Panglima Kera Api melontarkan serangan-serangan api ke arah tubuh Batari Mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu sama sekali tak menghindari ataupun menangkis serangan itu. Ia sengaja melakukannya untuk menjatuhkan mental para pasukan kerajaan hitam lainnya. Pukulan-pukulan api itu meledak seketika saat membentur tubuh Batari Mahadewi. Asap hitam mengepul dan sesaat menutupi tubuh perempuan sakti itu. Para penonton sangat tegang melihat pertarungan tersebut; mereka mengira Batari Mahadewi tak bisa menghindari kecepatan serangan api yang dilontarkan oleh Panglima Kera Api dan mereka mengira bahwa gadis pemberani itu telah hangus ketika bola-bola api dalam jumlah banyak itu menghantam tubuhnya.
__ADS_1
Namun ketika angin telah menyibak asap hitam itu, mereka lebih terkejut lagi ketika melihat Batari Mahadewi masih dalam kondisi baik-baik saja, tanpa goresan sedikitpun di tubuhnya. Jangankan hanya api semacam itu, sambaran petir ratu Halilintar saja tak membuat tubuhnya hancur.
Panglima Kera Api begitu terkejut setelah menyadari bahwa serangannya sama sekali tak mempan. ‘Bagaimana bisa…’ batin panglima itu.
Tak mau melakukan hal yang sama, Panglima Kera Api menggunakan ilmu sihirnya untuk menciptakan puluhan monster besar yang mengepung Batari Mahadewi. Monster-monster itu bukanlah ilusi; mereka berasal dari reruntuhan bangunan yang berubah menjadi makhluk bertubuh besar dengan aneka bentuk. Semuanya memancarkan energi jahat yang kuat serta aroma racun yang menyengat.
Makhluk-makhluk itu langsung menyerang Batari Mahadewi yang sedari tadi belum bergerak. Gadis jelmaan pusaka dewa itu dengan mudahnya menghancurkan tubuh tiap monster yang mendekat dengan sekali pukulan. Satu per satu para monster itu hancur dan kembali ke wujud asalnya, yakni puing-puing bangunan.
Hal itu membuat Panglima Kera Api merasa kesal. Seharusnya, dengan sihirnya itu, tiap monster yang ia ciptakan bisa membunuh puluhan pendekar wilayah barat. Namun kenyataannya, monster-monster itu hanya terlihat seperti mainan rusak yang hancur dalam sekali sentuh.
Tiba-tiba Batari Mahadewi menghilang dari pandangan dan dalam sekejab telah ada persis di depan panglima Kera Api. Ia tak ingin pemimpin pasukan kerajaan hitam itu berbuat nekad dan membahayakan keselamatan para pendekar wilayah barat yang saat itu sedang menonton pertarungan. Gadis cantik itu mengayunkan tinjunya ke arah perut sang panglima dan seketika panglima Kera Api itu menjerit kesakitan lalu ambruk ke tanah. Tubuhnya dalam sekejab telah kembali ke wujud semula.
“Siapa perempuan itu?” tanya Ki Samba, salah satu tetua pendekar aliran putih di wilayah barat.
“Aku juga baru kali ini melihatnya, dan mengetahui kekuatan seperti itu.” jawab Nyi Prada yang sedari tadi berdiri di sebelahnya.
“Sepertinya pendekar itu datang dari wilayah timur.” Kata Ki Samba.
__ADS_1
“Tak kusangka wilayah timur bisa melahirkan pendekar muda hebat seperti itu. Tapi yang membuatku sangsi, bentuk tubuhnya bukan bentuk tubuh manusia. Ia seperti siluman dengan paras cantik.” Kata Nyi Prada.
“Mungkin pendekar itu mendapatkan kekuatan dari siluman putih atau semacam itu. Seperti kekuatan yang didapatkan para pendekar Naga. Tapi gadis itu jauh lebih kuat, seolah ia adalah dewa yang menjelma menjadi manusia.” Kata Ki Samba.
Setelah berhasil melumpuhkan panglima Kera Api dengan cara yang sangat mudah, seketika Batari Mahadewi menjadi bahan perbincangan seluruh kalangan.
Para pendekar aliran hitam menjadi kebingungan setelah pemimpin mereka telah kehilangan kekuatan. Mereka tak tahu harus berbuat apa karena biasanya mereka akan bergerak jika diperintahkan. Sementara, pemimpin mereka bahkan sudah tak tahu lagi caranya memerintah.
Maka, para pendekar hitam yang tersisa hanya mengandalkan insting mereka; menyerang Batari Mahadewi dengan ganas dan beramai-ramai.
Batari Mahadewi melesat dengan kecepatan kilat. Tubuhnya tak telihat mata dan satu per satu para pasukan kerajaan hitam itu tumbang. Para pasukan mengerikan itu tak tahu dimana musuhnya berada. Pergerakan Batari Mahadewi terlalu cepat. Gadis itu memberikan pukulan di tiap-tiap kepala lawannya untuk melenyapkan kekuatan mereka.
Namun karena jumlah pasukan itu terlalu banyak, butuh banyak waktu untuk melumpuhkannya satu per satu. Sementara, para pasukan yang mulai frustasi karena tak bisa menyentuh Batari Mahadewi yang terus menerus bergerak secepat kilat itu akhirnya mencari pelampiasan dengan menyerang para pendekar lain yang sedang menonton. Kekacauan kembali terjadi.
Batari Mahadewi tak ingin membiarkan hal itu berlarut-larut. Maka ia menggunakan kekuatan es yang ia miliki untuk membekukan udara di sekitar seluruh pasukan kerajaan hitam itu. Para pasukan kerajaan hitam itu ikut membeku seketika. Hal yang barus saja dilakukan Batari Mahadewi tentu saja mencengangkan semua orang; mereka baru tahu bahwa ternyata pendekar cantik itu juga memiliki kemampuan untuk membekukan udara dengan cakupan yang sangat luas.
Beberapa pasukan hitam yang lolos dari serangan es itu menjadi bahan bulan-bulanan dari para pendekar lainnya yang sedang menyaksikan pertarungan itu. Sementara, Batari Mahadewi bisa dengan leluasa melumpuhkan kekuatan para prajurit kerajaan hitam yang membeku itu. Hanya ada segelintir pendekar kerajaan hitam yang berotak lumayan cerdas yang memilih untuk melarikan diri secepatnya. Mereka kembali ke Catrawana dan selanjutnya ke Catrabhumi untuk mengabarkan kekalahan pasukan kerajaan hitam Tirayamani; mereka telah dikalahkan oleh satu orang saja yang tak mereka kenali.
__ADS_1