
Hari menjelang sore. Setelah mengalahkan Jasil, maka Nala, Jalu, Niken dan Vidyana melanjutkan perburuan mencari para pendekar Tirayamani yang masih tercecer di berbagai tempat. Lagi-lagi utusan sang ratu Ogha itu gagal menjalankan misi.
Keempat pendekar itu beristirahat di sebuah padang rumput dengan sungai yang membentang panjang.
“Ada baiknya kita bermalam di sini saja. Sesekali kita perlu bersantai,” kata Jalu.
“Kakak benar. Lagipula, orang-orang Tirayamani mungkin hanya tersisa segelintir saja. Mereka pasti tak akan banyak berulah.” Kata Nala
“Mungkin berita pembantaian pasukan itu juga telah menyebar luas dan dengan sendirinya akan meredam aksi para pendekar hitam Swargadwipa yang baru-baru ini mulai ramai diperbincangkan,” kata Niken.
“Mestinya mereka tak akan berani berulah setelah tahu bahwa tindakan mereka itu sia-sia saja,” kata Jalu.
“Aku tak mengkhawatirkan hal itu. Tapi sejujurnya aku mencemaskan kedatangan ratu kegelapan yang pasti akan membawa banyak manusia iblis,” kata Nala. Lelaki itu menceritakan kengerian dari makhluk-makhluk iblis yang telah bebas di pulau-pulau lain ketika ia dan Batari Mahadewi melewatinya.
“Kalau begitu, apakah mungkin kita bisa menang melawan pasukan iblis itu? Bahkan kau kesulitan melawan dua makhluk itu, Nala,” kata Vidyana.
“Hanya satu saja yang bisa kita andalkan. Tari! Sayangnya, kekuatan terbesarnya masih terkunci di dalam tubuhnya. Untuk saat ini, jika gadis itu belum bisa membuka kekuatan tersembunyi miliknya, sudah pasti kita akan sangat kesulitan untuk melawan para pasukan iblis itu,” kata Nala.
“Nala, bolehkah kami bertanya sesuatu?” Jalu berniat menanyakan pertanyaan yang sedikit usil setelah Nala menyebut nama Tari.
“Pertanyaan apa, kak Jalu?” tanya Nala.
“Tentang adik kami. Kalian berdua sudah sepuluh tahun di dunia tiga rembulan. Kini usia kalian sudah lebih dari delapan belas tahun. Menurutmu…” Jalu menghentikan kata-katanya. Semua orang menunggu. “Apakah menurutmu, adik kami itu cantik?” tanya Jalu. Ia berusaha keras menahan tawa. Niken mencubitnya. Sementara Vidyana juga sangat penasaran karena sang kakak itu curiga adiknya telah jatuh cinta.
“Ya, dia cantik,” jawab Nala. Pemuda gagah itu tahu bahwa ia sedang dijebak.
“Sebagai kakaknya aku ingin tahu, apakah kau pernah menggodanya?” sekali lagi Jalu sangat iseng. Ia sangat senang menjahili orang-orang yang dekat dengannya.
“Hmm…aku tak paham. Menggodanya?” tanya Nala. Wajahnya berubah sedikit merah.
“Ayolah, Nala. Kau lelaki normal. Dengan gadis secantik itu bersamamu dalam kurun waktu yang cukup lama, apakah kau tak berniat untuk memilikinya?” kata Jalu. Niken terbatuk-batuk mendengar kata-kata itu, sementara Vidyana memasang tampang serius untuk memperhatikan jawaban adiknya itu.
“Hahaha…ya, aku hanya berfikir apakah aku layak…aku hanya…seperti ini...dan...dia sangat istimewa,” Nala salah tingkah.
“Jadi kau mencintainya?” tanya Jalu langsung pada poinnya. Ia tahu Nala telah memberikan jawaban tak langsung. Sungguh jebakan yang sempurna.
“Aku…aku hanya…” Nala tak bisa menjawabnya.
“Jika kau mencintainya, maka katakan saja padanya. Kami berdua mendukungmu!” kata Jalu.
“Aku juga mendukungmu, Nala. Aku tak pernah melihat kamu sangat bersemangat ketika bercerita tentang gadis itu,” kata Vidyana.
__ADS_1
“Tapi…aku…Ah…bagaimana jika Tari hanya menganggapku sebagai saudara, sebagai teman seperjalanan?” tanya Nala.
“Kau bisa, Nala. Katakan saja isi hatimu sebelum kau menyesal!” kata Jalu.
Tiba-tiba Nala berdiri dan memandang jauh ke arah langit. Ada energi kuat yang sedang melintas di angkasa. Ia kenal baik siapa pemilik energi itu.
“Kakak, aku akan pergi sebentar. Jangan kemana-mana, aku akan kembali ke sini,” kata Nala singkat. Ia langsung melesat ke angkasa mengejar sosok yang sedang melintas di angkasa dengan kecepatan tinggi itu.
“Hahaha, dia selalu seperti itu kalau malu,” kata Vidyana.
*****
Keduanya bertemu di angkasa. Ya, mereka berdua. Manusia super tak bersayap yang sama-sama disiksa rindu yang menuntut untuk bertemu.
Jantung Batari Mahadewi berdegub kencang. Entah kenapa. Demikian pula dengan Nala. Mereka saling menatap dan perlahan mendekat. Tak ada kata-kata. Tetapi ada batas yang belum sepenuhnya runtuh. Merobohkan batas itu sama sulitnya dengan berhadapan melawan makhluk iblis.
Keduanya sangat dekat. Hanya berbicara dengan senyuman. Rasa senang yang tertahan memaksa untuk diledakkan. Nala membeku. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Yang pasti, sosok itulah yang paling ia nantikan.
Batari Mahadewi tahu, lelaki itu selalu canggung dan belum pernah menyentuhnya dalam situasi semacam itu. Maka gadis jelmaan pusaka dewa itu mendahului memeluk tubuh lelaki gagah yang ia rindukan itu. Semakin erat dan tak mau ia lepaskan. Nala mengusap rambut gadis cantik yang tengah memeluknya itu. Jantungnya berdegub kencang ketika tubuhnya merasakan rasa hangat dari tubuh gadis yang selalu menghantui pikirannya itu.
“Kau pergi lama sekali, Tari,” bisik Nala.
“Kau merindukanku?” tanya Batari Mahadewi sambil tak melepaskan pelukannya.
Batari Mahadewi melepaskan pelukannya. Ia menatap Nala. Jantungnya serasa ingin lepas. Ia malu sekaligus bahagia. Wajahnya merah merona. Ia berharap Nala menciumnya saat itu juga. Tapi, ah sudahlah, lelaki itu memang!
“Aku merindukanmu, Nala,” kata Batari Mahadewi. Entah kenapa Nala sangat senang mendengarkan kata-kata itu. Hal paling menyenangkan seumur hidup yang baru kali ini ia rasakan. Setidaknya, ada hal yang telah terjawab yang selama ini membuatnya gundah.
Keduanya masih malu-malu kucing. Lucu sekali. Bertatapan lama seperti dua orang bodoh yang dimabuk asmara untuk pertama kalinya.
Nala mendekatkan wajahnya ke wajah gadis canti itu, lalu perlahan mencium bibir Batari Mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu menyambut ciuman Nala. Tanpa latihan, tanpa pengalaman apapun, hal itu terjadi begitu saja. Ciuman di angkasa. Tak ada yang melihatnya. Ciuman yang sangat lama dengan sensasi aneh yang membuat bulu kuduk meremang, yang membuat tubuh serasa dialiri sengatan listrik, yang membuat jantung kedua insan itu berdenyut dengan tak semestinya.
“Kau tahu apa artinya ini, Nala?” tanya Batari Mahadewi.
“Artinya?” tanya Nala. Ya tuhan, ampunilah ketidaktahuan lelaki yang sangat beruntung itu! Batari Mahadewi merasa kesal sekaligus geli melihat tingkah Nala itu.
“Kita berciuman. Artinya kau adalah lelakiku dan aku milikmu,” kata Batari Mahadewi.
“Kalau itu aku sudah tahu!” jawab Nala ketus.
“Ada lagi yang lain yang belum kau tahu,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Nala.
“Kau tahu resiko menjadi lelakiku?” tanya Batari Mahadewi.
“Tidak,” jawab Nala.
“Jika kau meninggalkanku dan pergi dengan perempuan lain, aku akan membunuhmu,” Kata Batari Mahadewi sambil tertawa. Tentu resiko yang dimaksud olehnya bukanlah itu. Namun hal yang benar-benar serius andai saja suatu hari mereka harus dipisahkan oleh kematian dalam sebuah pertarungan.
“Hahaha, kau tak akan membunuhku, Tari. Aku tak tertarik dengan siapapun kecuali dirimu,” kata Nala.
“Benarkah?” goda Batari Mahadewi.
“Kapan aku berbohong kepadamu?” kata Nala. Ia kesal jika kejujurannya diragukan.
“Lalu bagaimana jika ada perempuan yang lebih cantik dari aku datang dan menggodamu?” kata Batari Mahadewi.
“Ketika aku mencari kakakku, aku bertemu dengan siluman ular merah. Ia cantik dan berusaha menggodaku…” belum selesai Nala bercerita, Batari Mahadewi memotongnya.
“Apa yang kalian lakukan?!” kata gadis cantik yang tiba-tiba menjadi galak itu.
“Tidak ada. Ia mengajakku ke istananya dan…” Sebuah tinju keras mendarat di perut Nala.
“Kenapa kau memukulku! Aku belum selesai bercerita!” Nala merintih kesakitan. Lumayan lah, pukulan gadis galak barusan itu bisa membunuh seekor T-Rex. Ini salah satu resiko menjadi pasangan seorang gadis terkuat di dunia satu rembulan. Siap-siap saja, Nala. Setelah ini kau tak akan bisa bebas!
“Hanya untuk menandaimu. Bahwa kau lelakiku,” kata Batari Mahadewi tertawa puas, “Lanjutkan ceritamu!”
“Kau akan memukulku lagi!” sahut Nala.
“Tidak akan. Aku berjanji,” kata Batari Mahadewi
“Aku mau ke istananya karena di sana ada kolam sakti yang bisa menunjukkan keberadaan kakakku. Setelah itu aku pergi!” kata Nala. Tentu saja, Nala tak menceritakan yang ia tahu tentang masa lalunya dari siluman ular merah yang cantik dan menggoda itu. Bisa berbahaya!
“Bagus. Aku selalu percaya padamu, bahkan sebelum hari ini! Tapi kenapa kau tak mau tergoda? Bukankah matamu sudah mau copot ketika dulu kau melihat manusia setengah ikan yang telanjang di pulau kecil itu!” kata Batari Mahadewi menggoda Nala.
“Ayo kita cari tempat lain untuk bercerita lebih banyak,” kata Nala. Bagaimanapun, rasanya kurang nyaman dan lepas ketika harus melayang di angkasa.
“Kemana?” tanya Batari Mahadewi.
“Ke tempat yang menyenangkan. Asal tak melayang di angkasa seperti ini,” kata Nala.
“Bagaimana dengan ketiga kakak kita yang masih di bawah itu?” tanya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Biarkan saja. Aku sudah berpesan agar mereka menunggu,” kata Nala. Batari Mahadewi tertawa kecil lalu kedua insan itu melesat dengan kecepatan kilat dan berhenti di sebuah puncak gunung yang sepi, memandang senja yang sebentar lagi pudar dan berganti malam.
...Oh, adakah yang cemburu dengan pasangan baru itu? Apa yang akan mereka lakukan di atas gunung? Oh....