
Nyi Lohita mempersilahkan Batari Mahadewi untuk menyentuh selendangnya. Gadis jelmaan pusaka dewa itu memperhatikan baik-baik, merasaka semua teksturnya, meneliti bahannya, menakar kekuatannya serta menelisik kelemahannya. Selendang kain itu bukanlah selendang biasa, melainkan selendang kain yang dipintal dari rambut siluman naga laut. Kekuatan dari selendang itu tak terlalu bagus, mengingat bahan utamanya hanyalah rambut siluman naga laut, tanpa dilapisi dengan kekuatan mustika apapun.
Sehingga, Selendang itu hanya akan menjadi senjata luar biasa apabila Nyi Lohita saja yang menggunakannya, sebab selendang itu dipintal oleh Nyi Lohita sendiri, sebagaimana Batari Mahadewi menciptakan pedang Berlian Hitam dari tanah liat.
“Apakah bibi tidak keberatan untuk menjunjukkan kepada saya bagimana menggunakan selendang ini sebagai senjata?” tanya Batari Mahadewi.
“Dengan senang hati, nona.” Nyi Lohita berjalan menuju ke halaman. Batari Mahadewi mengikutinya, lalu memperhatikan dengan seksama bagaimana pendekar Selendang Merah itu menautkan kekuatannya pada selendangnya.
Selendang itu menari dengan indah seiring dengan gerakan jurus-jurus Nyi Lohita. Yang menakjubkan, selendang itu bisa memanjang, berkelebat melilit beberapa pohon pada jarak yang jauh, lalu pada puncaknya, selendang itu seolah bisa melipat-gandakan jumlahnya, terus bergerak seperti sehelai kain yang telah disisipi kekuatan sihir, tampak hidup dan bisa menerjang segala sesuatu yang menjadi sasarannya.
Itu hanyalah sebagian kecil dari jurus selendang merah yang diciptakan oleh Nyi Lohita.
“Luar biasa, bibi! Bagaimana bibi bisa mengendalikan selendang itu seolah-olah bernyawa?” tanya Batari Mahadewi.
“Kesatuan antara pendekar dengan senjata pusaka miliknya itu adalah hal mutlak. Tanpa itu, senjata pusaka hanyalah benda mati. Jika sudah menyatu, senjata pusaka bukan hanya alat bantu untuk bertarung, tapi adalah bagian dari tubuh kita sendiri,” jawab Nyi Lohita.
“Jika saya bisa menciptakan selendang pusaka yang memiliki kekuatan lebih besar dari yang bibi miliki, apakah bibi bisa menggunakannya sebaik tadi?” tanya Batari Mahadewi.
“Selendang ini aku ciptakan sendiri dan sudah menjadi bagian dari diriku. Jika aku memiliki selendang baru, maka aku harus berlatih kembali,” jawab Nyi Lohita.
“Baiklah, bibi, saya akan berusaha membuatnya untuk bibi. Tetapi saya belum bisa menjanjikan bahwa saya akan berhasil. Untuk itu, bolehkan saya minta beberapa helai rambut bibi?” tanya Batari Mahadewi.
“Hahaha, aku tahu apa yang kau pikirkan nona, kau hebat. Baiklah, bawalah beberapa helai rambutku,” kata Nyi Lohita.
Setelah itu Batari Mahadewi pamit dan mengatakan bahwa dalam beberapa hari kedepan ia akan datang lagi untuk menemui Nyi Lohita. Gadis jelmaan pusaka dewa itu melesat ke arah kota pesisir. Dari jauh, mata indahnya sudah bisa melihat Nala yang sedang duduk menunggunya. Gadis itu penasaran, apa yang terjadi semalam yang membuat Nala harus turun tangan. Ia hanya bisa merasakan energi kekasihnya yang sedang bertarung dengan energi asing khas milik siluman.
“Dari kemarin kau menungguku di sini?” tanya Batari mahadewi setelah ia tiba di tempat Nala duduk sendiri. Nala sengaja memilih tempat yang sepi setelah Ki Janggut meninggalkan beberapa buntalan berisi berbagai macam makanan. Bapak-bapak itu sebenarnya ingin memberikan sekantong emas. Namun Nala meminta makanan saja sebagai imbalan sekaligus sebagai cara untuk menghormati lelaki itu.
__ADS_1
“Tidak juga, aku sempat jalan-jalan di sekitar sini,” jawab Nala sambil tersenyum.
“Jadi dengan makhluk apa kau bertarung semalam?” tanya Batari Mahadewi.
“Kau mengetahuinya?” tanya Nala.
“Aku bisa merasakan pancaran kekuatanmu,” jawab Batari Mahadewi.
“Siluman gurita menyerang penduduk sekitar sini. Entah kenapa. Aku mendapatkan satu mustika dan buntalan makanan ini. Pasti kau lapar, kan!” kata Nala.
“Tidak terlalu, tadi di sana aku sempat sarapan. Tenang saja, nanti aku akan menghabiskannya. Sekarang yang akan kita lakukan adalah mencari rambut siluman naga laut. Di mana kita bisa menemukannya?” tanya Batari Mahadewi.
“Untuk apa?” tanya Nala.
“Membuat selendang pusaka. Kau yang akan membuatnya,” kata Batari Mahadewi.
“Aku? Bagaimana caranya membuat selendang?!” gerutu Nala.
“Berarti kita akan membunuh lagi seekor siluman naga, kan?” kata Nala.
“Tidak juga, entahlah. Jika kau bisa memintanya baik-baik, maka kau tak perlu membunuhnya,” kata Batari Mahadewi.
“Baiklah, kita coba saja. Ayo kita telusuri lautan ini, siapa tahu kita bisa menemukan seekor naga laut yang tinggal tak jauh dari wilayah ini. Gunakan mata saktimu, Tari!” kata Nala.
“Baiklah, ayo kita pergi!” Batari Mahadewi dan Nala melesat ke angkasa secepatnya agar kepergian mereka tak disadari oleh siapapun yang ada di sana. Setelah membumbung jauh di angkasa, barulah keduanya bergerak dan memantau laut dengan kecepatan lambat.
Keduanya menyusuri lautan itu dalam waktu yang cukup lama dan belum menemukan tanda-tanda tempat yang dihuni oleh siluman naga laut.
__ADS_1
“Menemukan siluman naga laut ternyata tak semudah menemukan siluman naga api!” kata Nala.
“Hahaha, lautan yang seluas ini, tentu sulit menemukannya. Sedari tadi aku belum melihat adanya gunung api di bawah laut. Jika kita telah menemukannya, aku yakin di sana kita bisa menemukan siluman naga laut,” kata Batari Mahadewi.
Mereka berdua melanjutkan lagi pencarian. Ketika hari sudah agak sore, barulah Batari Mahadewi melihat sebuah gunung api besar di bawah laut.
“Berhenti, Nala! kita menemukannya!” Batari mahadewi memperhatikan dengan seksama dengan mata api miliknya. Ia juga membuka seluruh inderanya. Gadis itu menangkap pancaran hawa siluman yang cukup kuat yang tersembunyi di dasar laut. “Seharusnya, siluman naga ini berumur lebih dari sepuluh ribu tahun. Akan sedikit sulit untuk menghadapinya. Dan cukup sulit untuk membangunkan tidurnya!” kata Batari Mahadewi.
“Di mana letak persisnya?” tanya Nala.
“Tepat di bawah kita,” jawab Batari Mahadewi.
“Gunakan kekuatanmu untuk menciptakan pusaran angin. Jika kau bisa menyibak air laut ini, dia pasti akan terganggu dan keluar dengan sendirinya,” kata Nala.
Batari Mahadewi menuruti kata-kata Nala. Ia mengeluarkan energi yang cukup besar untuk menciptakan sebuah angin tornado. Dalam sekejap, pusaran angin itu perlahan membawa naik air laut hingga membumbung tinggi ke angkasa.
Tak hanya udara di atas yang terus berpusar dengan kecepatan tinggi, air laut yang menjadi porosnya juga ikut berpusar, seolah menjadi sumur raksasa di bawah laut. Hari yang cerah itu tiba-tiba hujan. Tak hanya hujan air laut, namun juga hujan binatang laut yang ikut terangkat ke atas dan terlempar entah kemana.
Dugaan Nala benar, sosok siluman naga laut itu terbangun dan mulai marah. Ia menggerakkan air laut dan menghujamkannya ke angkasa menjadi pilar air yang menembus awan, membubarkan pusaran angin yang diciptakan oleh Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi dan Nala terpental cukup jauh ketika mendapatkan serangan mendadak dari bawah laut itu. Kekuatan siluman naga laut yang usianya lebih dari sepulu ribu tahun itu lebih besar dari yang mereka kira.
Sosok naga besar berwarna biru itu melesat ke angkasa. Tubuhnya sangatlah besar dan apabila ia melingkarkan seluruh tubuhnya, maka ukurannya setara dengan empat kali luas pulau Perawan.
“Nala, kita benar-benar mencari masalah!” kata Batari Mahadewi.
“Kita hanya perlu beberapa helai rambutnya, bukan?” tanya Nala.
__ADS_1
“Ya, jadi kita tak perlu bertarung hingga membunuhnya. Kita cabut rambutnya lalu kita pergi,” kata Batari Mahadewi.
“Kurasa ia tak akan membiarkan kita lari. Jadi, sekalinya kita bertarung, kita harus menyelesaikannya. Tunggu sebentar, Tari, di kepalanya ada tanda yang sama dengan milikku!” Nala merasa sedikit lega meski ia tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.