Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 326 Memancing Raksasa


__ADS_3

Sementara itu, di Mahabhumi, bangsa raksasa mulai berulah. Mereka memangsa manusia jika tak menemukan binatang untuk mengenyangkan perut mereka. Hal itu semakin membuat manusia ketakutan dan semakin deras pula gelombang pengungsi yang pindah ke wilayah barat. Tak tanggung-tanggung, mereka rela menempuh perjalanan panjang hingga ke Swargadwipa atau bahkan ke Swargabhumi.


Madyabhumi dan Swargaloka bukan lagi tempat yang aman. Sewaktu-waktu para raksasa itu bisa saja sampai di sana. Sejak kerajaan raksasa di Mahatmabhumi telah berdiri, maka sebagian besar rakyat raksasa itu mulai berpencar mencari wilayah mereka masing-masing. Istana raksasa yang baru itu hanya menjadi tempat bagi Kalamerah beserta para bawahannya.


Maka, dari perkembangan persitiwa datangnya bangsa raksasa itu, akhirnya undangan kerjasama yang diajukan pihak Swargadwipa disetujui oleh semua kerajaan di Mahabhumi. Benteng yang rencananya akan dibangun bukanlah di perbatasan Swargadwipa dengan Sarwgabhumi, melainkan tepi barat Swargaloka.


Alasannya adalah, kota Dhyana akan menjadi satu-satunya tempat di wilayah barat yang akan menjamin keamanan para raja. Kebenaran soal itu tak diragukan lagi. Namun demikian, rencana pembangunan istana Mahabhumi, yang akan di pimpin oleh semua raja yang ada di sana, masih ditangguhkan. Sebab, yang benar-benar dibutuhkan adalah benteng maha besar yang membujur di sepanjang garis utara hingga selatan perbatasan timur Swargadwipa.


Untuk sementara waktu, raja Madyabhumi dan Swargaloka beserta seluruh keluarga mereka akan tinggal di kota Dhyana, tepatnya di kompleks wisma tamu balai kota. Rencananya, dan sebagai ganti sementara istana besar untuk semua raja, akan di bangun wisma-wisma besar di lahan-lahan kosong yang tersedia di sana.


Namun pemindahan itu belum terjadi. Bukan hal mudah untuk memindahkan aset-aset penting kerajaan. Yang penting, tempatnya dipersiapkan terlebih dahulu.


Sementara prioitas utama dari semua kerajaan itu adalah memindahkan para warga ke wilayah barat. Maka sebagian besar pendekar dari seluruh wilayah di tugaskan untuk memberikan pengawalan ketat. Separuh akan ikut mengawal perjalanan itu, dan sisanya menciptakan pertahanan di wilayah timur.


Bukan tak mungkin jika bangsa raksasa yang lapar itu akan tergoda untuk berburu rombongan manusia yang sedang mencari aman itu. Semua murid Ki Gading Putih di tambah Vidyana dan Pradipa, menjalankan tugas untuk berjaga di salah satu tempat di sisi timur. Mereka tak sendiri, berbagai murid dari perguruan beladiri juga melakukan hal yang sama.


Mereka berkelompok, menciptkan pos sendiri-sendiri dari wilayah utara hingga wilayah selatan. Jalu, Niken, Cendana, Buyung, Anjani, Vidyana dan Pradipa berjaga di suatu hutan di wilayah paling timur negri Madyabhumi.

__ADS_1


Suasana lumayan tegang, sebab kabarnya, di pos lain, beberapa raksasa sudah mulai menyerang. Lebih tepatnya, para raksasa yang ingin memburu manusia itu tiba-tiba disegap oleh puluhan pendekar, lalu di bunuh.


Untunglah yang datang saat itu hanyalah para raksasa jelata. Jika mereka adalah raksasa ksatria, maka akan sulit melawannya.


Raksasa ksatria juga memiliki kesaktian layaknya pendekar. Mereka memiliki pancaran energi yang kuat serta berbagai jenis jurus untuk bertarung. Namun, raksasa jelata lainnya itu, mereka hanya bertubuh besar dan kuat, serta tak memiliki semacam kekuatan tenaga dalam dan jurus-jurus maut.


Yang mengesalkan dari para raksasa itu adalah suara mereka sangat keras sewaktu bertarung. Mereka senang sekali berteriak-teriak hingga membuat telinga terasa berdenging.


Di malam hari yan sedikit basah karena gerimis itu, Buyung dan adik-adiknya sedang menyusun suatu rencana.


“Jalu, malam ini kita akan mencoba melakukan apa yang kita rencanakan tadi. Kau terbang ke angkasa dengan tubuh apimu. Jika benar seperti yang dikatakan guru, bangsa raksasa itu akan tertarik dengan cahaya api di malam hari. Dengan kemampuanmu saat ini, kau masih bisa bertahan jikalaupun ada dua raksasa yang menyerangmu. Tetapi, sebelum mereka sempat menyerangmu, kami akan menghabisi mereka dari tempat yang tersembunyi,” kata Buyung.


“Sementara Jalu akan mencoba memancing para raksasa itu, kita berpencar. Tapi jangan terlalu jauh. Yang pasti, Jalu akan berada di atas kita. Mungkin butuh waktu agak lama hingga ada raksasa yang terpancing. Dan ada kemungkinan mereka bahkan tak akan tertarik untuk datang. Hal buruknya dari apa yang akan kita lakukan ini, akan ada lebih dari lima atau enam raksasa yang akan datang kemari. Artinya, masing-masing dari kita akan berhadapan dengan satu raksasa. Semoga saja yang datang bukanlah raksasa golongan ksatria.” Buyung menambahkan.


“Ya, kami mengerti kak Buyung. Tenang saja. Masing-masing dari kita membawa pusaka dari Tari dan Nala. Baju dan pedang pusaka ini lebih dari cukup untuk melindungi kita dari raksasa itu,” ucap Niken.


“Ya. Hanya karena aku sendiri belum pernah bertemu raksasa dan melihat kemampuan mereka, aku jadi berlebihan. Tapi memang tak ada salahnya kita berhati-hati,” ucap Buyung.

__ADS_1


Jalu melesat ke angkasa. Di atas sana, ia merubah wujudnya menjadi manusia api. Kadang ia memancarkan cahaya api biru, merah, kuning, atau jingga dan memain-mainkannya layaknya kembang api.


Apa yang dilakukan oleh Jalu sebenarnya tak menarik pehatian para raksasa saja, namun juga para pendekar lain yang berada di empat jauh. Cahaya warna-warni di angkasa pada malam hari adalah pemandangan langka dan hiburan tersendiri di tengah-tengan situasi yang mencekam.


Keenam murid Ki Gading Putih itu memang berada di salah satu daerah yang sangat rawan. Setidaknya ketika Pradipa melakukan pengintaian pada jarak lima puluh ribu langkah dari tempat mereka berada, Pradipa mendapati segerombolan raksasa sedang mendirikan hunian mereka.


Pradipa sering mendapatkan tugas semacam itu sebab diantara mereka berenam, ilmu meringankan tubuh miliknya bisa dibilang paling bagus. Ia bisa melarikan diri dengan cepat jika situasinya darurat.


Setelah beberapa lama melayang di angkasa dan menciptakan semacam kembang api yang membuat Niken semakin bangga dengan lelakinya itu, yang ditunggu-tunggu ahirnya datang juga. Dua puluh raksasa dari kelas jelata yang penasaran dengan sumber cahaya indah itu.


Meski ukuran mereka rata-rata tiga hingga lima kali ukuran manusia, langkah kaki mereka cukup membuat bumi sedikit bergetar. Mereka berlari cukup kencang dari jarak yang lumayan jauh. Rombongan raksasa itu seperti anak kecil yang ingin berebut kunang-kunang. Mereka berlari menerobos hutan hingga membuat beberapa pohon tumbang.


Bisa dibayangkan bukan, jika mereka ada seratus saja dan berlari bersama-sama, kerusakan seperti apa yang akan terjadi? Jika mereka bukan golongan ksatria, mereka tak bisa terbang. Mereka akan berlari dan menerjang apapun yang ada di depan mereka, kecuali benda-benda besar dan keras. Mereka senang melakukan hal itu, layaknya bermain di taman.


Bagi mereka, menumbangkan pohon-pohon sangat menyenangkan. Mereka tak merasakan sakit, sebab kulit dan otot mereka bisa dibilang lima kali lebih keras dari badak.


Ketika suara teriakan riuh mereka mulai terdengar semakin jelas, Buyung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyabotase pikiran mereka. Hanya sepuluh raksasa saja yang mampu ia kendalikan dengan baik, sisanya terbengong-bengong melihat tingkah rekan mereka yang menjadi aneh.

__ADS_1


Pada saat itulah, murid-murid Ki Gading Putih lainnya mulai menyerang dengan kekuatan penuh.


__ADS_2