Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 242 Ujian Dari Perguruan Mutiara Naga


__ADS_3

Para penjaga itu saling berpandangan dengan rekannya sendiri setelah mendengar jawaban Batari Mahadewi.


“Sekali lagi kami katakan, nona, bahwa hanya pendekar berilmu tinggi yang bisa bertemu dengan guru besar. Mohon maaf, bukannya nona pantas atau tidak, tapi jika nona ingin belajar di sini, tak perlu memohon langsung kepada guru besar, tapi bisa bertemu dengan para wakil guru yang ada di sini.” Jawab pendekar itu.


“Oh, baiklah kalau begitu. Sebetulnya, kedatanganku kemari bukan untuk belajar beladiri, tapi untuk bertemu dengan guru besar. Bagaimana caranya agar aku bisa menunjukkan bahwa aku berilmu tinggi dan bisa bertemu dengan guru besar?” tanya Batari Mahadewi.


“Nona yakin?” tanya penjaga itu.


“Ya, tentu saja, selama kedatangan saya tidak menyinggung siapapun, karena kedatanganku ke sini bukan untuk mencari masalah, melainkan hanya untuk bertemu guru besar saja,” jawab Batari Mahadewi.


“Jika begitu, jangan merasa keberatan kalau kami menguji nona terlebih dahulu,” kata pendekar itu.


“Suatu kehormatan bagiku,” kata Batari Mahadewi.


Dua dari beberapa pendekar penjaga itu mengajak Batari Mahadewi memasuki pelataran latihan dan meminta gadis cantik itu untuk menunggu sebentar.


Tak lama kemudian, dua pendekar itu datang mengiringi seorang pendekar pendekar muda berotot kekar sebagai lawan tanding Batari Mahadewi. Pemuda itu adalah salah satu murid muda terbaik di perguruan Mutiara Naga.


Namun Batari Mahadewi memang tak berniat mempermalukan siapapun di sana. Ia akan mencoba untuk terlihat wajar dalam pertarungan.


“Nona, seperti yang kami katakan tadi, apabila nona berhasil mengimbangi atau mungkin mengalahkan Dirandra, maka kami akan mengantarkan nona kepada guru kami,” kata pendekar itu.


“Baik, paman. Saya akan melakukan yang terbaik,” kata Batari Mahadewi.


“Nama saya Dirandra, nona. Suatu kehormatan bisa bertanding dengan nona,” kata Dirandra.


“Saya Batari Mahadewi, suatu kehormatan bisa bertarung denganmu,” balas gadis jelmaan pusaka dewa itu.


Dirandra memancarkan seluruh energinya. Tubuhnya dibalut dengan cahaya kehijauan. Ia adalah pendekar yang telah menguasai banyak jurus perguruan Mutiara Naga, serta memiliki beberapa jurus utama yang diturunkan langsung oleh sang guru, pendekar Angin Utara.


Batari Mahadewi hanya memasang kuda-kuda biasa dan mengeluarkan energi seperlunya saja. “Silahkan memulai,” ucap Batari Mahadewi datar.


Diandra melesat dan melepaskan berbagai variasi jurus yang cantik sekaligus mematikan. Meski ia melawan seorang perempuan, ia tak segan-segan menyerang dengan kekuatan penuh.

__ADS_1


Batari Mahadewi hanya menghindar dari serangan cepat yang terus menerus mengarah kepadanya. Gerakan cepat dari Dirandra hanya terlihat lambat di mata gadis jelmaan pusaka dewa itu. Oleh karena itulah, secepat dan sekuat apapun Dirandra menyerang, pukulan-pukulannya hanya mengenai angin saja.


Pemuda itu sedikit kesal karena pukulannya hanya makan angin dan tak pernah sekalipun ditangkis oleh Batari Mahadewi.


“Kenapa kau hanya menghindar dan tak membalas seranganku?” kata Dirandra.


“Karena kau belum sungguh-sungguh,” jawab Batari Mahadewi sedikit menghibur lawannya itu.


“Baik, aku tak akan sungkan.” Dirandra menciptakan sebuah pedang energi berwarna hijau di tangan kanannya. Pemuda itu berniat menggunakan jurus-jurus pamungkasnya.


Dirandra menggempur Batari Mahadewi dengan jurus pedang naga delapan mata angin. Rangkaian jurus itu menghasilkan pukulan energi yang tak memberikan celah kepada lawannya untuk menghindar.


Apa boleh buat, Batari Mahadewi terpaksa berpura-pura menahan serangan itu dengan kedua tangannya. Tiap-tiap sabetan cahaya yang melesat ke pertahanan gadis jelmaan pusaka dewa itu menciptakan dentuman yang lumayan kencang.


Diam-diam, pendekar Angin Utara memperhatikan pertarungan muridnya itu melawan Batari Mahadewi. Kakek tua itu tahu benar bahwa Batari Mahadewi sama sekali tak bersungguh-sungguh untuk menghadapi Dirandra.


Namun pendekar Angin Utara itu tetap membiarkan pertarungan itu berlangsung. Ia ingin menguji sejauh mana kemampuan muridnya itu untuk bertanding dengan pendekar asing.


Dirandra tak bisa menahan rasa terkejut ketika Batari Mahadewi masih terlihat baik-baik saja. Bahkan wajah gadis itu masih memancarkan ketenangan yang menyejukkan, meski yang dirasakan oleh Dirandra adalah teror.


Batari Mahadewi hanya takut jika ia terlalu berlebihan menggunakan pukulannya. Oleh karenanya, ia memilih untuk terus menghindar. Sungguh repot menjadi orang yang terlalu kuat.


“Aku hanya akan menyerangmu satu kali, jika kau bisa melepaskan diri, aku mengaku kalah,” kata Batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu lalu memadatkan udara di sekitar Dirandra dan membuat tubuh pendekar muda itu sama sekali tak bisa bergerak. Dirandra mengeluarkan seluruh energinya untuk lepas dari jeratan serangan Batari Mahadewi, namun hasilnya sia-sia saja. Pemuda itu semakin lemah karena menghabiskan seluruh energinya untuk melepaskan diri.


“Aku menyerah,” pekik Dirandra. Lehernya terasa tercekik. Batari Mahadewi menghentikan serangannya. Beberapa pendekar yang menyaksikan pertarungan itu masih belum bisa mempercayai kemenangan gadis cantik itu.


“Bagimana, paman, dengan hasil seperti ini, apakah aku diizinkan untuk bertemu guru besar?” tanya Batari Mahadewi.


“Sejujurnya, aku berharap untuk melihat yang lebih dari itu. Jika tak keberatan, maukan nona bertarung denganku?” seorang pendekar senior yang sedari tadi menyaksikan pertarungan Batari Mahadewi begitu penasaran dan ingin melihat seberapa kuat gadis dari Mahabhumi itu bertarung dengan sungguh-sungguh.


“Tetapi bukankah ini menyalahi kesepakatan, paman? Tujuanku ke sini bukanlah untuk bertarung. Kalau begitu, aku mohon maaf. Aku memilih untuk mundur. Terimakasih atas kesempatan ini.” kata Batari Mahadewi. Murid Ki Gading Putih itu berjalan menuju gerbang keluar untuk meninggalkan perguruan itu. Ia tahu bahwa pendekar Angin Utara sedari tadi telah memperhatikannya.

__ADS_1


Para pendekar Mutiara Naga ragu-ragu untuk menahan gadis cantik itu. Mereka juga malu karena telah melanggar kesepakatan. Mereka berharap, sang guru tak melihat kejadian itu. Tetapi dugaan mereka semua salah. Ketika Batari Mahadewi telah pergi, sang guru besar melesat untuk menemui para muridnya.


“Kalian beruntung masih hidup saat ini. Kalian mau menantang pendekar itu? Aku sendiri tak akan sanggup untuk mengalahkannya. Jangan ulangi kesalahan semacam ini lagi!” sang guru itu terlihat sedikit kesal, ia lalu melesat pergi meninggalkan mereka semua yang tertunduk malu.


Batari Mahadewi tahu, sang guru besar itu sebentar lagi akan datang menemuinya. Gadis sakti itu berjalan pelan dan masih belum jauh dari perguruan Mutiara Naga. Ketika ia melihat ada kedai tak jauh dari tempatnya berdiri, gadis cantik itu memutuskan untuk pergi ke sana.


Kedai itu cukup ramai. Banyak prajurit dan pendekar yang sedang berada di sana. Ketika Batari Mahadewi memasuki kedai, banyak mata lelaki yang terarah padanya. Alasannya satu saja, ia adalah gadis cantik yang sedang sendirian.


Para lelaki itu tak tahan untuk tak mencari perhatian Batari Mahadewi. Dengan tololnya, mereka bersiul-siul, dan sesekali mengucapkan rayuan murahan. Beruntunglah mereka, Batari Mahadewi bukanlah orang yang mudah marah. Ia maklum dengan ketidaktahuan orang-orang itu.


Pelayan datang. Ia cukup gesit untuk menanyakan pesanan sebelum tamu cantiknya itu pergi. “Nona, adakah yang bisa kubantu?” tanya pelayan itu.


“Aku pesan minuman hangat saja, paman.” Gadis jelmaan pusaka dewa itu sedang tak berminat untuk makan. Lama-lama ia risih juga mendengar ocehan para lelaki yang ada di kedai itu yang membuat selera makannya hilang.


“Nona cantik, kau sendirian saja? dengan senang hati aku akan menemanimu jika nona mau,” kata seorang pemuda yang tampaknya merupakan orang terpandang diantara kerumunan orang-orang bodoh itu.


“Tidak, terimakasih. Sebentar lagi akan ada seseorang yang datang kemari,” jawab Batari Mahadewi singkat.


“Oh begitukah? Apakah kira-kira orang itu berani melawanku jika aku merayu nona?” pemuda itu masih mencoba peruntungannya dengan cara yang sungguh norak.


“Mungkin,” jawab batari Mahadewi.


“Apakah aku mengenal orang itu?” tanya pemuda itu sedikit kesal dengan sikap Batari Mahadewi yang dingin dan berani. Padahal, pemuda itu berharap gadis cantik di depannya itu gelisah dengan ancamannya yang diucapkan secara tak langsung.


“Ya, mungkin kau kenal, atau pernah mendengar namanya,” jawab Batari Mahadewi.


“Oh, siapa dia?” tanya pemuda itu penasaran.


“Seseorang yang membuatmu bungkam,” jawab Batari Mahadewi.


“Hahaha, aku sungguh tertarik untuk melawannya!” kata lelaki itu dengan sombongnya. Memang di kedai itu, ia bisa dibilang satu-satunya pendekar yang terhebat, atau merasa paling hebat lebih tepatnya.


“Apakah kau memiliki ilmu setinggi pendekar Angin Utara?” tanya Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Hahahaha, ya, tidak masalah, hahaha!” hanya pemuda itu yang tertawa. Semua orang di kedai diam sambil menundukkan kepala. “Panggilah pendekar itu, aku akan melawannya demi kamu, nona!” lelaki itu masih belum sadar apa yang sedang terjadi. Ia masih tertawa karena menganggap Batari Mahadewi hanya omong kosong.


Pendekar Angin Utara sudah berdiri di belakang lelaki itu. Batari Mahadewi hanya tertawa kecil membayangkan peristiwa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2