
Ketika Batari Mahadewi berjalan pelan menuju rumahnya, meninggalkan persemayaman damai sang ibu, ia merasakan pancaran tenaga yang tak asing datang mendekat. Ia dongakkan kepalanya ke atas dan di sana ia melihat Nala yang menggendong sang guru dan juga saudara-saudaranya terbang di belakangnya. Mereka langsung menuju ke padepokan.
Batari Mahadewi langsung teringat bahwa gurunya sedang terluka parah. Ia ingin tahu bagaimana kabar sang guru, lalu dalam satu kedipan mata, perempuan pusaka dewa itu telah ada di padepokan. Semua saudara seperguruannya telah berkumpul di pendopo, dan sang guru telah terbaring di sana.
“Tari, maaf, aku tak bisa menyelamatkan kakek Gading,” ujar Nala. Belum selesai ia berkabung dengan kepergian sang ibu, kini ia menyaksikan kematian sang guru. Semua murid ki Gading menampakkan raut wajah yang suram, dengan mata basah. Buyung tampak sangat terpukul, bagaimanapun juga ia dibesarkan oleh sang guru sejak ia masih kecil. Baginya, sang guru layaknya orang tuanya sendiri.
Air mata Batari Mahadewi kembali meleleh. Ia berjalan mendekat ke jenazah sang guru, lalu duduk bersimpuh di sana.
“Bagaimana dengan ibumu, Tari?” tanya Jalu.
“Ibuku juga telah tiada, sesaat setelah aku datang,” ucapnya dengan suara bergetar.
Niken, Anjani, dan Vidyana memberi pelukan belasungkawa kepada sang pusaka dewa itu. tak hanya mereka saja yang berduka. Bisa dikatakan semua perguruan telah berduka atas meninggalnya saudara-saudari mereka, atau juga guru mereka.
Murid-murid ki Gading Putih menguburkan sang guru di dalam goa Hati Suci, tempat yang paling disenangi sang guru ketika ia masih hidup.
****
Keesokan harinya, dengan sedikit kesedihan yang masih tersisa, murid-murid Ki Gading Putih berembug di pendopo.
“Apa selanjutnya yang akan kau lakukan, Tari?” Buyung bertanya. Semua tahu bahwa masalah terkait dengan kehadiran bangsa raksasa itu hanya Tari dan Nala yang bisa menyelesaikannya.
“Aku akan memastikan para raksasa itu enyah dari pulau ini, hari ini juga. Aku akan pergi dengan Nala,” jawab Batari Mahadewi.
“Tetapi Tari, tak ingatkah kau pesan raja dewa?” Nala mengingatkan bahwa sementara sang raja dewa tak ada, Batari Mahadewi tak boleh gegabah melakukan sesuatu.
“Menurutmu, apakah Kalapati akan muncul lagi jika aku mengenyahkan mereka dari wilayah ini?” tanya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Sudah pasti demikian, sebaiknya kita tunggu saja datangnya raja dewa itu. Pastinya ia punya rencana. Lagipula, raksasa itu tak akan berani bergerak ke barat dalam waktu dekat,” kata Nala.
“Baiklah kalau begitu. Lalu apa rencana kak Buyung selanjutnya?” tanya Batari Mahadewi.
“Setelah guru tiada, padepokan ini tak boleh ditinggalkan begitu saja. Ini adalah rumah kita bersama. Yang pasti, aku akan selalu berada di sini. Aku tak akan memaksa kalian tinggal di sini, namun jangan lupakan rumah ini. Apabila kalian memiliki rencana masa depan masing-masing, maka jalanilah, tetapi sempatkanlah pulang dan menengok makam guru kita,” kata Buyung.
Semua sependapat dengan Buyung. Semua memang berhak menjalani kehidupan masing-masing.
“Hari ini aku dan Niken akan pergi ke kota Dhyana, menengok ayah dan ibuku, serta mengabarkan berita duka ini kepada paduka raja,” kata Jalu.
“Ah, aku sampai melupakan hal ini. Ya, tentu saja kau harus memberitahu paduka. Bagaimanapun juga, guru adalah paman dari paduka, meski tak banyak yang tahu soal ini,” kata Buyung. Semua yang ada di sana, kecuali Buyung dan Jalu, cukup kaget dengan hal itu. Bahkan mereka juga tak tahu bahwa Ki Gading Putih adalah paman dari Srengenge Ireng.
Pada hari itu juga, Jalu dan Niken berangkat ke kota Dhyana. Sedangkan yang lain masih tinggal di padepokan. Mereka akan berada di sana selama keadaan masih serba membingungkan.
****
“Cepat sekali kau kembali!” kata Kalapati.
“Sehari di sini sama dengan sepuluh tahun di sana. Susah payah aku menciptakan benda ini dengan dibantu oleh raja dewa di sana,” kata raja dewa. Ia segera menuju ke kolam suci, menenggelamkan mustika itu di sana.
Seribu warna terpancar dari kolam itu dan seketika segala hal yang ada di dunia khayangan kembali seperti dulu sebelum bangsa raksasa datang. Tak hanya itu, kristal emas di altar Samudra dengan sendirinya kembali utuh dan bekerja sebagaimana mestinya.
“Selesai sudah. Mustika seribu warna telah menjadi satu dengan dunia kita. Yang ini tak akan pernah rusak dan tak akan pernah bisa diambil oleh siapapun. Meski kita semua musnah, kekuatan dari kolam suci ini akan tetap menjadi daya hidup yang tak akan penah habis, kecuali matahari padam,” kata raja dewa.
“Ini artinya…” Kalapati belum selesai bicara, raja dewa memotongnya.
“Artinya, aku sudah tak perlu menjaga dan memperbaharui sumber kekuatan khayangan ini. Bahkan, sumber energi khayangan ini juga merupakan sumber kekuatan dunia tengah dan bawah,” kata raja dewa tenang.
__ADS_1
“Raja dewa, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?” tanya Kalapati.
“Apa yang ingin kau ketahui? Aku akan memberitahukannya kepadamu,” kata raja dewa.
“Di mana para dewa saat ini berada?” tanya Kalapati.
“Dewa yang tersisa bersembunyi di suatu tempat yang bernama altar Samudra. Kau pernah mendengarnya?” tanya raja dewa.
“Apa yang mereka lakukan di sana?” tanya Kalapati.
“Ketahuilah, setiap makhluk memiliki tugasnya, demikian pula para dewa. Siapa yang mengatur angin jika bukan dewa angin? Siapa yang mengatur laut jika bukan dewa laut? Banyak hal yang harus di lakukan para dewa sesuai dengan tugas mereka masing-masing untuk menjaga dunia ini. Aku memang menjadi raja yang memerintahkan mereka semua, namun aku tak memiliki kuasa atas takdir mereka. Aku tak bisa mengatur hujan, mengatur bumi, dan sebagainya. Merekalah yang mampu melakukan tugasnya,” kata raja dewa.
“Apakah mereka akan kembali ke khayangan?” tanya Kalapati.
“Entahlah, lagipula aku sudah lama tak berdiri sebagai raja. Mereka tahu apa yang seharusnya mereka lakukan,” kata raja dewa. “Kalapati, ada hal yang kau harus tahu, kelak memang akan ada yang menantangmu, karena semestinya kau tak tinggal di sini. Ini adalah takdir dari sang maha tunggal. Aku ataupun kau tak bisa menolaknya!”
“Maksudmu manusia berkekuatan dewa yang sempat bertemu denganku itu?” tanya Kalapati.
“Namanya Sang Hyang Maharuna Dewi Sakti. Dia adalah salah satu yang datang untuk melawanmu,” kata raja dewa.
“Hmm, menarik sekali. Aku memang rindu bertarung. Di sini sangat membosankan sekali! Katakan padaku, di mana saat ini dia berada!” kata Kalapati.
“Dia ada di dunia tengah, entah dimana.”
“Bukankah bola kristal yang kau berikan padaku seharusnya bisa menemukan keberadaannya?” tanya Kalapati.
“Tentu saja, asalkan dia menampakkan diri di wilayah yang bisa terlihat dalam bola itu. Tetapi bagaimana kau memantaunya? Dia ada dalam salah satu dari sekian juta peristiwa di dunia tengah. Tunggu saja ada peristiwa besar, kau pasti akan menemukannya!” kata raja dewa.
__ADS_1
Kalapati masih berfikir bahwa raja dewa sedang ada di pihaknya. Raja dewa memang bicara jujur, tetapi apa yang ia katakan itu juga tak akan sepenuhnya dipahami oleh Kalapati. Lagipula, sang raja dewa sudah memiliki rencana apabila sewaktu-waktu Kalapati turun ke dunia dan bertarung melawan sang pusaka dewa.