
Leo melihat Criztine yang menangis, dia pun menghampiri Criztine...
"Kenapa kamu menangis?" tanya Leo dengan mengusap air mata criztine.
"Sebenarnya apa yang terjadi Le? kenapa Risa menanyakan hubungan ku dengan suami ku sendiri..." lirih Criztine.
"Begini Criz, Risa mengalami amnesia ringan. ada beberapa hal yang tidak dia ingat, dia hanya bisa mengingat sebagian saja dari masa lalunya. kamu yang sabar ya!" jelas Leo.
Criztine semakin sakit dengan semua kenyataan ini...
"Masalah apa lagi ini? kenapa seolah tuhan semakin mendekatkan mereka dan membuat aku semakin tersisih. aku punya hak atas suami ku tapi kenapa dia malah merawat Isa tanpa persetujuan dari aku." Criztine menangis di bahu Leo.
"Kamu yang sabar. masih ada aku disini yang akan selalu menjaga kamu, jangan menangis lagi aku tidak mengijinkan air matamu menetes kembali hanya untuk seorang lelaki seperti dia..." ucap Leo dengan mencoba menenangkan Criztine.
Entah alasan apa yang di gunakan Revaldi agar bisa keluar dari ruangan.
__ADS_1
Dia melihat sang istri yang bersandar di bahu lelaki lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan kekasih Criztine...
"Ikut dengan ku...." Revaldi menarik lengan Criztine dengan sangat keras.
"Lepas, kamu menyakiti aku..." maki Criztine.
Namun Revaldi tak mengindahkan semua rintihan Criztine, di karenakan dia sudah terbakar api cemburu...
Revaldi menarik Criztine hingga ke dalam mobil...
Criztine gemetar dengan perlakuan sang suami yang membuat dirinya ketakutan.
"Maaf, bukan maksud ku untuk bersikap kasar kepada mu sayang, aku hanya ingin menjelaskan semua kesalah pahaman di antara kita..." Revaldi meraih wajah Criztine dan mencium bibir indahnya.
Criztine hanya terdiam dengan apa yang saat ini Revaldi perbuat pada dirinya, dia hanya mampu menangis menahan rasa sakit di dalam hati...
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis? aku mohon maaf. aku tidak sengaja bertemu dengan dia di sana karna saat itu dia tengah mencari ponakannya yang juga berada di toilet itu...lalu aku tidak sengaja menjatuhkan ponsel Risa, aku juga hanya sekedar meminta maaf padanya hanya itu saja sayang. tolong percayalah pada ku...aku sangat mencintai kamu Criztine.!" Revaldi memeluk erat tubuh sang istri.
"Apa aku harus mempercayai kamu mas? sudah terlalu banyak kamu menyakiti diriku dan kamu lagi dan lagi meminta maaf dengan kesalahan yang sama...pergilah, kembali pada kekasih mu itu..." cetus Criztine dengan melepaskan pelukan Revaldi.
"Tidak sayang, dia bukan siapa-siapa ku lagi. dan kamu adalah cinta terakhirku juga istri ku...aku minta tolong jangan membuat aku tersiksa dengan semua ini. melihat kondisi Risa saat ini, aku tidak mungkin meninggalkan dia begitu saja. kamu tau bukan? keluarganya tidak ada di sini dan yang dia ingat hanya aku dan juga sebagian dari masa lalunya. mohon pengertian kamu sayang...!" pinta Revaldi dengan mengusap kepala criztine.
Diam dan terpaku yang bisa di lakukan Criztine saat ini.
Entah keputusan macam apa yang akan dia ambil, dia takut jika harus kembali menelan semua luka dari Revaldi
namun di dalam hati kecilnya, dia merasa yakin dengan ucapan Revaldi yang baru saja dia dengar...
"Terserah kamu mas, aku mau pulang." Criztine pun keluar dari mobil Revaldi dan mengarah ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Seharusnya kamu menghubungi pihak keluarganya, biar dia di rawat dan bukan kamu yang di wajibkan untuk menemani dan merawat dia. kamu punya tanggung jawab pada diriku dan juga perusahaan. tapi kamu tidak berpikir sejauh itu mas...kamu terlalu mementingkan perasaan Isa ketimbang perasaan istri mu sendiri..." ucap Criztine dalam hati.
__ADS_1
Dia pun meminta pak supir untuk mengantarkan dirinya pulang.