HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Kala mendengar pintu kamar di tutup, Olive ketakutan. Ia melangkah mundur "Kamu mau ngapain?" Olive mengarahkan senter pada wajah Gilang. Senyum mesum itu membuat Olive ketakutan. "Kamu yang datang padaku, bukan aku yang datang padamu. Jadi, jangan salahkan aku"


Dug...


Langkah kaki Olive terhenti kala badannya terpentok tembok kamar. Ponselnya terjatuh "Gilang, tolong jangan macam macam" Olive menunduk hendak meraih ponsel tersebut. Tapi, Gilang menghentikan tangan Olive sampai ponsel itu belum bisa di raih.


"Menurutlah, maka saya tidak akan menyakitimu secara sengaja"


"Laki laki kurang ajar, tidak tau malu." Olive terus meracau sesuka hati.


Gilang mengacuhkan setiap kata dari mulut wanita itu. Dengan kasar, Gilang meraih kedua pergelangan tangan Olive lalu kedua tangan Olive di tarik ke atas. "Gilang, lepas...." Olive meronta "sadar kamu, jangan keterlaluan"


Awalnya Gilang hanya ingin mengerjai Olive saja, sebab ia kesal mendengar percakapan antara Olive dengan suaminya. Namun, setelah melihat geliat tubuh Olive saat itu, Hasrat Gilang yang tadinya tertahan kini memuncak kembali "Salah kamu sendiri membuatku cemburu" Di ciumlah bibir mungil Olive dengan ganas. Olive meronta dengan mulut tersumpal bibir Gilang.


"Em......." Badannya terus menolak sentuhan setuhan lembut Gilang.


"Jangan lagi membuatku cemburu. Kamu itu milikku selamanya" Segera Olive di bawanya ke atas kasur "Emmmm....."


Setelah tubuh keduanya terhempas di atas kasur, Gilang melakukan hal yang belum pernah di lakukan dengan siapa pun, termasuk dengan istrinya sendiri. Malam itu menjadi awal dari hubungan terlarang keduanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu lakukan ini semua padaku?" Olive meringkuk di balik selimut putih nan tebal. Dia menangis sejadinya. Gilang bersandar pada bahu ranjang dengan santainya. Menghisap rokok seraya bermain ponsel. Ada rasa bersalah di hati Gilang, namun rasa itu kalah besar dengan rasa puasnya. Setelah sekian lama dirinya bisa merasakan hal itu bersama wanita pujaan.


"Kenapa kamu menolak bersamaku, sedangkan aku yang pertama menyentuhmu?" Ucap Gilang.


"Jangan lagi ingat kisah pahit di masa lalu. Sekarang kehidupanku sangat bahagia. Kita tidak mungkin bersatu, tolong mengertilah."


Gilang mematikan rokok di tangan kanannya "Sejak kapan kamu jadi hakim atas kehidupan kita. Jika kamu mau mencoba bersamaku pasti akhirnya akan berbeda" Gilang mendekatkan wajah, hendak usaplah air mata Olive.


"Jangan sentuh saya" Olive menghindar kala Gilang mengarahkan tangan pada pipi kanan Olive. Segera Olive menepis tangan Gilang"Kamu sudah sangat menghancurkan kehidupan saya, sampai penderitaan saya tidak bisa kamu tebus dalam satu malam, bahkan seumur hidup kamu." Kedua tangannya mengikat erat kedua lulut kaki dengan kepala bersandar membelakangi Gilang.


Gilang mengernyit mencoba mencerna perkataan Olive "Maksud kamu apa?"


"Ya, sekarang saya akan jujur sama kamu." Olive berbalik arah melihat Gilang.


"Apa yang terjadi? kenapa kamu menangis"


"Kejadian malam itu membuat saya hamil. Taukah kamu bagaimana sulitnya menerima kenyataan sebagai wanita hamil tanpa suami. Sangat, sangat, sangat sulit. Saya menjadi bahan gunjingan tetangga, sampai harus berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Tidak sampai di situ saja, saya juga tertekan menghadapi kondisi ekonomi sampai untuk memeriksakan kandungan ke Dokter saja, saya tidak sanggup"


"Hamil? Lalu di mana anak kita sekarang" Gilang meraih bahu Olive meminta keterangan dari pernyataan itu. Tatapan Gilang penuh harapan.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis?"


Ketika air mata Olive terus mengalir tanpa henti, isak tangisnya membungkam mulut sampai tak bisa berkata kata. Dengan sigap Gilang memeluknya "Sudahlah jangan menangis lagi (Sambil mengusap lembut kepala Olivr) katakan di mana anak kita sekarang? apa dia laki laki atau dia perempuan?"


Betapa hancur hati seorang wanita mengingat masa lalu penuh haru. Sejak kepergiannya dari kota kelahiran, Olive berjuang siang malam demi mencari sesuap nasi. Hingga suatu ketika ia mengalami pusing dan mual berkepanjangan, lalu dia memeriksakan ke dokter kandungan. Di mana dia bertemu dengan salah satu Dokter yang tidak lain adalah teman Damar. Dokter inilah yang menyatukan keduanya. Kehamilan Olive berjalan sampai bulan ke empat, setelah itu Olive mengalami pendarahan sebab terjatuh ketika sedang berjualan makanan di tepi jalan raya. Untungnya Damar melihatnya lalu membawanya ke rumah sakit. Kejadian itu membuat janin yang di kandung tidak bisa bertahan lebih lama, sampai akhirnya terpaksa Dokter malakukan kuretase. Di saat Olive kehilangan harapan untuk hidup, di situlah mereka mulai saling dekat. Perlahan mereka sering berkomunikasi lalu menjalin sebuah hubungan sehingga berlabuh di pelaminan.


Olive melepaskan diri dari dekapan laki laki tersebut "Anak kita kamu bilang? bukankah kamu tidak menginginkan dia, lalu kenapa kamu mencarinya? kamu yang mengusirku jauh dari kota ini, kamu juga yang membuatnya pergi"


"Pergi?" Di tataplah wajah Olive "Apa maksud kamu..."


Olive menyeka air mata, mengambil nafas dalam "Ya, dia sudah tidak ada. Saya keguguran saat usianya baru empat bulan dalam kandungan. Saya kehilangan anak saya dan kehormatan saya sebagai seorang wanita. Seorang ibu yang berhak mengasuh dan membesarkan anaknya, harus kehilangan sebelum dia di lahirkan. Bahkan saat pemakaman saya hanya sendirian tanpa di dampingi siapa pun, sekali pun ayah dari janin tersebut. Kamu tau bagaimana hancurnya saya kala itu? jika bukan karena Dokter Damar mungkin saya juga sudah ikut bersama anak saya"


Mendengarnya hati Gilang terasa tersayat. Dadanya terasa sakit, sampai nafasnya seolah melamah "Maaf (Seraya memeluk tubuh Olive) saya tidak tau kalau kamu mengalami semua itu. Awalnya saya mencari kamu hendak bertanggung jawab, namun kamu sudah tidak ada. Bertahun tahun saya mencari kamu, tapi tetap tidak ketemu. Saya sangat menyesal" Di kecuplah kepala Olive.


"Penyesalan kamu tidak bisa mengembalikan semuanya..." Olive mendorong tubuh Gilang lalu ia bangkit melingkarkan selimut di badannya. Segera ia memungut pakaiannya di lantai lalu meninggalkan kamar Gilang.


Gilang terpaku, badan kekarnya terlihat seksi tanpa sehelai benang."Ya Tuhan, apa yang telah saya perbuat selama ini" menjambak rambutnya sendiri.


Di sisi lain Olive menghempaskan tubuh di kamarnya "Kamu datang membawa luka lalu kembali mengulang masa" Olive menangis sejadinya. Mata indah itu terlihat sembab karena hampir semalam suntuh dia menangis. Sentuhan demi sentuhan memberika luka yang begitu dalam.

__ADS_1


Drt....


Di sela isak tangisnya terdengar nada dering dari ponsel Olive. Di lihatnya layar ponsel tertera nama suaminya. Damar melakukan panggilan Video call. Olive bingun, kwtkutan, dan juga malu. Dia pun memutuskan untuk tidak menerima panggilan tersebut "Maafkan saya mas. Saya tidak bisa manjaga diri saat jauh dari kamu...." Air matanya kembalu meluap, sampai akhirnya ia tertidur.


__ADS_2