
Setelah serarian penuh terdiam diri di dalam kamar, kini Damar bangkit lalu pergi dari rumah. Bersama Kenan ia menuju sebuah hiburang malam yang tidar pernah mereka datangi sebelumnya. Kekacauan dalam diri Damar membuatnya mencari situasi yang berbeda. Setelah mereka memesan meja khusus VIP, datanglah beberapa wanita cantik dengan pakaian seksi. Baju dan rok minim bahan itu membuat Kenan risih. Kali pertamanya melihat gemulai si wanita malam dan rayuan maut mereka. Kenan melihat Damar yang mmtengah duduk sambil memegang segelas wine. Di samping Damar ada sosok wanita cantik sedang menggodanya, tapi dia tidak merespon atau menolaknya. Wanita itu semakin liar dengan melipat kedua kakinya, memperlihatkan paha mulus dan hampir memperlihatkan bagian terlarangnya.
"Minggir kamu..." Melihat si wanita semakin berani, Kenan menyuruhnya pergi lalu di duduk di sebelah Damar.
"Apa lebih baik kita cari tempat lain aja yuk. Di sini banyak sentan, ngeri" Sambil bergidik ngeri melihat para wanita yang semakin liar. Dari cara tatapan mata saja sudah membuat Kenan merinding apa lagi harus berdekatan dengan mereka. Jatuh sudah harga dirinya.
Damar maaih terdiam dengan segelas wine di tangannya. Sesekali gelas di putar ke kiri dak kenan. Entah apa yang saat ini dia pikirkan.
"Hey, kita pergi aja yuk" Kenan menarik lengan Damar, mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Kalau kamu mau pulang silahkan, tapi aku masih mau di sini" Tatapan mata Damar terlihat kosong. Kenan pun hanya bisa menduga duga. Paling dia sedang ada masalah sama istrinya karena baru kemarin Damar bilang kalau dia hendak menyusul sang istri. Meski demikian, Kenan tidak berani mengorek masalah mereka sebelum Damar membuka mulut.
"Mas, boleh saya temani" Datanglah seorang gadis sangat cantik, dengan membawa sebotol wine lagi.
"Saya tambah lagi, ya" Setslah Damar meneguk wine di gelasnya, ai wanita itu dengan berani menuangkan wine yang ia bawa. Kenan semakin geleng kepala.
"Mas ganteng mau juga" Si wanita beralih kepada Kenan dengan mengambilkan gelas yang maaih kosong, sebab Kenan masih ragu dengan minuman keras di depannya itu.
__ADS_1
"Oh, tidak. Nanti saya ambil sendiri" Kenan melonak gelas dari si wanita itu lalu ia membuang pandang.
"Saya boleh duduk?" Si wanita duduk di sebelah kanan Damar sedangkan Kenan di sebelah kiri Damar.
Lemah gemukai si wanita mengusap pundak sampai lengan Damar. Damar masih diam dengan melihat gelas di tangannya.
"Aduh, kalau di lihat doso nggak di lihat sayang" Ucap Kenan kala melihat si wanita itu mempeelihatkan paha mulusnya dengan sesekali mengedipkan mata. Belahan gundukan itu pun teelihat jelas sampai Kenan teridak bisa berhenti menatapnya.
"Astaga, ingat pacar ingat pelaminan" Kenan menggeleng kepala lalu ia mengalihkan pandangan.
Semua orang terkejut mendengar gelas di banting dengan keras.
"Kamu kenapa?" tanya Kenan kala sahabatnya itu membanting gelas di tangannya.
Melihat amarah si pelanggan, para wanita penggoda itu pergi.
Damar menjambak rambutnya sendiri dengan wajah teetunduk, mata terus memandang dengan kosong, dan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Semua wanita itu sama saja" Ucap Damar.
Kenan semakin yakin jika Damar tengah bertengkar dengan istrinya. Amarahnya tidak pernah meluap sebegitunya jika dirinya tidak tersakiti.
"Dia telah menghianatiku. Dia sudah membuatku hancur..." Ucap Damar dengan berderai air mata.
"Ada apa sebenarnya? katakanlah siapa tau dengan kamu bercerita maka bisa mngurangi rasa sakit kamu." Kenan mengusap pundak sahabatnya seraya melihat kesedihan di wajahnya.
Dengan kepala mendongak dan kedua tangan di lipat di atas perut, Damar mencoba membuka mulut "Olive selingkuh"
Bagai petir tanpa hujan. Ucapan Damar mengejutkan Kenan. "Apa? Kamu nggak sedang mabuk, kan?" Tanya Kenan.
"Tidak. Aku bicara yang sebenarnya. Dia telah menghianatiku, dengan tega dia melakukan itu dengan Gilang." Terdengar keputisasaan Damar dari cara dia berkata.
"Astaga, Tuhan. Kok bisa sih wanita sebaik dia selingkuh. Hah...kayanya mustahil" Kenan masih belum percaya atas apa yang dia dengar.
"Kenyataannya adalah dia berselingkuh. Selebihnya hanya Tuhan yang tau" Ucap Damar.
__ADS_1