
"Anak anak mama sudah pulang..." Sambut seorang wanita cantik tengah membawa seekor kucing. Setelah melihat Gilang segera ia meletakkan kucing tersebut lalu berlari ke arahnya "Mama rindu nak...."
"Stop, Mam! Cuci tangan dulu, tangan mami kotor...." Gilang pun menghindar dari pelukan mamanya kemudian berjalan menuju ruang tamu.
"Lagian mama sih, tau dia benci kucing masih aja pelihara kucing..." Sambung Amora.
"Sayang, mama kan kesepian nggak ada temennya...makanya kamu sama kakak di sini aja ya" Gea mendekat hendak memeluk putri kecilnya
" No, tangan mama kotor banyak kuman...."
Gea tersenyum tipis kala anak anaknya mempunyai sifat yang sama sampai, menghindar dari pelukannya "kedua anak ini sifatnya sama persis..." Gea pun segera menuju kamar mandi membersihkan diri.
"Kakak mau ngomong apa sih...?" tanya Amora sembari duduk di samping kakaknya
Gilang yang duduk bersandar dengan kepala mendongak ke atas "Semua tentang masa depan ku..."
"What, masa depan..." Tenrunya Amora terkejut kala mendengar kata itu sebab, tidak pernah baginya mendengar Gilang seserius ini bahkan menyebut tentang jodoh saja sudah marah besar "Kakak mau nikah..."
__ADS_1
"Nikah? siapa yang mau menikah?" Tiba tiba saja Gea muncul lalu duduk bersama .
"Dia lah..." Amora menunjuk kakaknya.
"Kalian tidak lagi bercanda kan?" Tegas Gea dengan menatap kedua mata Gilang yang terlihat sedikit berbeda. Pandangan mata Gilang melemah pertanda ada hal yang kurang ia sukai atau paksaan orang lain. "Apa kamu sudah setuju nikah sama Alisya?"
"Bukan! aku mau menikah dengan Olive, sekertaris ku dulu."
" Haaaa...." Ucap Gea dan Amora serempak, sesaat mereka berdua saling melempar pandang.
"Olive yang itu? astaga, yang benar saja kak. Sejak kapan kakak suka sama dia bukankah kakak...." Belum sempat Amora berucap, Gilang telah membungkam mulutnya. "Sekarang mama lupakan perjodohan itu dan sekarang nikahkan aku sama wanita pilihan ku sendiri..."
Mereka bertiga seketika menoleh ke arah suara itu " Papa..." Gea segera bangkit lalu mendekati suaminya. " Kita duduk dulu yuk..." Ajak Gea
Dimas pun duduk dan melihat wajah putranya yang tertunduk "Wanita mana yang ingin kamu nikahi? Alisya itu gadis cantik, sholehah, pintar, dan juga anak dari keluarga terpandang. Kurangnya dia itu apa sampai kamu tidak mau menikah dengannya..." Amarah Dimas meluap sebisanya.
Gea meraih tangan suaminya "Papa kendalikan amarahnya nanti darah tinggi papa kambuh lagi..." Lirihnya.
__ADS_1
"Benar, tu pa. Mending nikah sama kak Alisya dari pada sama wanita itu..." Sambung Amora
"Diam kamu." Maki Gilang. Dalam pandangan mata kedua orang tuanya ia sudah tau bahwa tidak mudah membujuk mereka. Namun, kesalahan memaksanya mengambil tindakan tegas "Aku telah berbuat salah pada wanita itu. Jadi aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku..."
Dimas bangkit dari duduknya "Kesalahan apa yang kamu maksud?" Tetiak Dimas
Gea memberi kode pada Gilang untuk menghenyikan pembicaraan ini untuk menghindari kemarahan Dimas. Namun, Gilang tetap ingin mepertanggung jawabkan perbuatannya "Maafkan Gilang karena kesalahan ini merusak masa depan wanita itu..."
"Jadi kakak sudah...." Amora menggelengkan kepala
"Mama kecewa sama kamu Gilang...." Tiba tiba saja Gea menangis dan berlari menuju kamar. Seorang ibu terpukul saat anaknya melakukan kesalahan, bukan membecinya tapi hanya butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiran.
"Mam...aku bisa jelasin"
"Kamu sudah menyakiti hati mamamu, keterlaluan kamu..." Dimas pun mengejar istrinya.
Gilang merasa sangat bersalah, kakinya lemas
__ADS_1
"Mama nangis gara gara kamu kak..." Amora pun ikut menyusul mamanya.
Kini tinggal Gilang sendiri, ia pun memutuskan pulang.