HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 213


__ADS_3

" Apa salahnya jika saya berkunjung ke rumah calon menantu saya? Bagaimana kabar kamu nak? lama kita tidak bertatap muka." Hendarman menjulurkan tangan padanya.


Leo menjabat tangannya..." Saya baik Paman. Bagaimana dengan Paman dan keluarga?."


Hendarman membuang nafas.." Yah...seperti yang kamu lihat sekarang."


" Nak, Dimas. Bolehkan saya ajak dia pergi sebentar? ada sesuatu yang ingin saya sampaikan padanya."


Dimas mempersilahkan keduanya, tapi sebelum itu, Dia menatap wajah Leo...


" Apa kamu keberatan sob?." Tanya Dimas.


Leo masih enggan untuk berdekatan dengan Hendarman, tapi dia tidak mau terlihat egois di hadapan sahabatnya, Sebab rasa sakitnya telah membatu...


Beberapa saat Leo mencoba diam sejenak, Entah apa yang dia pikirkan saat ini, setelah beberapa menit berpikir, kini Leo berdiri lalu mengiyakan ajakan dari Hendarman.


Leo yang tadinya ingin bertemu dengan Dimas, merasa kesal karena dia harus menunda pembicaraan tentang sesuatu hal dengan Dimas.


Sebenarnya apa yang ingin dia katakan padaku, setelah semua yang terjadi...

__ADS_1


Apakah dia masih ingin membujuk ku dan mengancam ku?


Tatapan mata Leo memperlihatkan kecurigaan mendalam....


" Kenapa kamu melihat ku seperti itu? apa kamu takut jika saya menyakiti kamu? Tenang saja, saya sudah mengikhlaskan kamu untuk tidak menjadi menjadi menantu saya..." Senyum di bibir Hendarman melebar.


" Saya tidak berpikir seperti itu Paman, anda terlalu sensitif..."


" Kita duduk di sana..." Hendarman menunjuk sebuah kolam ikan di sebelah rumah Dimas.


Tidak tau apa yang hendak di bicarakan oleh Hendarman, Leo pun mengikutinya.


Leo tercengang melihat dan mendengar semua itu, sekali pun dalam hidupnya, tidak pernah membayangkan seorang kaya seperti Hendarman menundukkan wajah di hadapannya. Merendahkan harga diri demi menebus kesalahannya....


" Anda tidak perlu merendahkan harga diri anda, Paman. Saya sudah memaafkan anda beserta putri anda." Jelas Leo sembari melihat banyaknya ikan di kolam itu.


Hendarman merasa sangat malu atas kelakuannya di masa lalu, akan tetapi semua yang dia lakukan semata hanya untuk membahagiakan putri satu-satunya itu.


" Nak, Leo...."

__ADS_1


" Iya, Paman."


Mereka saling menatap satu dengan yang lainnya. " Apakah saya beserta keluarga bisa bertemu dengan gadis yang dulunya kami sakiti?."


Leo mengeryitkan dahi..." Criztine...?."


" Iya, Benar. Saya ingin memohon maaf padanya, karena selama ini Gea kerap kali menyakitinya, bahkan karena ulah anak saya, dia sampai harus kehilangan orang yang dia sayangi."


" Mungkin untuk saat ini Anda masih belum bisa bertemu dengan dia, sebab saat ini dia sudah pindah ke Eropa. Di sana dia menemukan kebahagiaannya, serta kedamaian yang layak untuknya." Jelas Leo sembari mengingat wajah manis gadis kecilnya itu.


" Paman tau? bagaimana sakitnya Criztine ketika dia harus kehilangan Ayahnya? dia sangat depresi, di saat dia hamil muda seperti itu, dia harus mengalami benturan mental dan siksaan terus menerus dari kalian. Dan setelah dia menemukan jalan hidupnya, lagi-lagi kalian ingin menghantamnya dengan keras...?." Jelas Leo dengan nada geram.


" Tidak! bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin meminta maaf langsung padanya..." ucap Hendarman.


" Sudahlah, Paman. Sebaiknya jangan ganggu dia lagi. Biarkan dia hidup bahagia di sana..." Segera Leo bangkit dari duduknya.


" Kami salah. Sebagai orang tua, kami merasa gagal. Tidak sepantasnya kami mendukung anak kami dalam kekeliruan, namun semua telah terjadi. Sungguh semua karena kami telah gagal mendidik Gea..." pertahanan Hendarman tumbang di hadapan Leo. Air matanya mengalir deras menyesali segala yang terjadi.


Tapi waktu tidak akan pernah berputar ke kiri, meski sejarah dapat kembali terulang, tapi waktu masih akan tetap berjalan.

__ADS_1


__ADS_2