HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Pagi itu Olive merasa sangat letih. Merasa tak punya tenaga, bahkan kakinya terasa lemas. Perlahan ia berusaha mata terbuka, melawan rasa letihnya. Ketika ia terbangun, di lihatnya sang suami yang sudah tidak di sampingnya "Mas..." Seraya bangkit dengan melilitkan selimut di badan. Ketika ia hendak turun ranjang, di lihatnya susu kunyit di atas meja beserta beberapa lembar roti tawar kumpit dengan selai kesukaan Olive, Selai coklat karamel "Pak Dokter sweet banget"Senyumnya melebar. Ketika hendak meraih gagang cangkir, matanya tertuju pada sebuah lipatan kertas "Apa ini.." Lembaran kertas putih terselip di bawah cawan "Isinya tipis..." Seraya membolak balikkan amplop, mengibaskan amplop putih itu. Olive pun menyobek amplop putih itu, di dalamnya terdapat secarik kertas "Apa ini..." Mengambil secarik kertas, Ia pun membacanya (Tadi malam sungguh menyenangkan. Andai waktu masih panjang, Mas mau minta lagi. Sayangnya, mas di kejar waktu. Maaf ya, mas tidak membangunkan kamu. Mas tidak tega membangunkan kamu sayangku. Satu lagi mas mengijinkan kamu bekerja di kantor dengan syarat tidak boleh terlalu capek. Mas mencintai kamu sayang. Love yuo honey.) Disertai gambang hati. Tentunya Olive tersenyum sendiri "Love you too, Dokter" Mencium erat lembaran tersebut.


"Suamiku paling bisa membuat ku tersipu malu." Ucap Olive seraya memeluk surat itu.


Tak lama kemudian, di lihatnya jam sudah pukal 07:30 waktu setempat. Segera ia berlari menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi lalu menyiapkan baju kerjanya.


Ting...


Nada pesan di ponselnya berbunyi "Aduh ganggu saja. Siapa sih..." Segera ia memakai sepatu lalu tangannya meraih pinsen "Mas Damar" Suaminya mengirim pesan singkat (Sebelum berangkat ke kantor jangan lupa sarapan di habiskan. Sengaja mas buatkan susu kunyit dan roti tawar untukmu. Di habiskan ya, sayangku) Tak lupa ada gambar senyum dan hati mengakhiri kaliman pesan tersebut.


Perhatian Damar membuat Olive bahagia. Dengan senang hati ia meminum dan makan sarapan sampai habis. Olive melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya "Aduh sudah jam segini. Lebih baik aku berangkat sekarang..." Segera Olive berlari kecil menuruni anak tangga.


"Non, hati hati nanti terjatuh" Tutur Bi Inah yang kala itu sedang membersihkan ruang tamu.


"Saya telat mbok. Berangkat dulu, ya..." Dengan satu tangan memegang tas berisikan file dan satu tangan memegang roti.

__ADS_1


"Telat? memangnya Non Olive mau kemana?"


"Mulai hari ini saya kerja mbok. Saya pergi dulu, ya. Dah mbok Inah..." Seraya melebarkan senyum.


"Habiskan dulu sarapannya non baru berangkat.."


Olive menelan roti yang dia kunyah "Gak sempet mbok. Nanti siang tidak usah masak, saya makan siang si kantor" Ketika Olive membuka pintu mobil, tiba tiba teringat sesuatu, Ia terdiam sejenak "Emm...Satu lagi mbok, nanti kalau ada paket tolong di terima ya"


Mbok Inah mengangguk "Baik, Non. Hati hati di jalan. Semangat"


Tak berapa lama Olive berangkat kerja mengendarai mobil.


"Halo, meeting hari ini bisa di tunda setengah jam lagi tidak? soalnya saya baru mau jalan" Ucapnya pada seseorang di telepon. Di jam seperti sekarang pasti jalan padat dan harus memakan waktu panjang.


"Oh ya sudah kalau begitu. Saya segera kesana." Dengan laju kendaraan di percepat sebab, rapat tidak bisa di tunda. Saat ini perusahaan suaminya atau lebih tepatnya perusahaan ayah mertua, akan kedatangan para infestor terkaya yang hendak menyuntikkan dana besar di perusahaan tersebut.

__ADS_1


Beruntung Olive punya pengalaman dalam bidang bisnis. Jadi, dia tidak perlu pusing mengatasi para petinggi.


"Aduh, gimana nih. Jalan padat sekali" Ucap Olive seraya mengehentakkan jemari pada stir kemudi. Di lihatnya rambu rambu lalu lintas "Lampu merah, lagi" Olive semakin cemas mangingat waktunya tinggal satu jam. Jalan menuju kantor terbikang lumayan memakan waktu.


Setelah beberapa saat semua kendaraan mulai melaju kembali. Sama halnya dengan Olive. Ketika jalan mulai agak longgar, segera tancap gas.


"Pak, tolong parkirkan mobil saya. Saya sedang buru buru" Ucapnya pada seorang tukang parkir depan kantor suaminya.


"Baik, buk."


Olive menyerahkan kunci mobil lalu berlari kecil memasuki kantor "Rapatnya sudah mulai?" Tanya Olive pada salah seorang karyawan.


"Baru saja mereka memasuki ruangan." jawabnya santun.


"Oke, makasih" Dengan sigap Olive menuju ruang kerja suaminya, meletakkan tas lalu membawa file penting tersebut.

__ADS_1


Oh iya, sebelumnya Damar telah meminta keponakannya untuk membantu Olive menghadapi para klien penting tersebut. Ruangan yang dulunya di pakai oleh keponakan telah berganti nama Olivia Sunandar. Meski begitu, sang keponakan masih berada di kantor tersebut, untuk memastikan kondisi Olive. Rasa cinta Damar terhadapnya begitu mendalam sampai tak ingin istrinya kelelahan.


__ADS_2