HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Malam itu Gilang keluar dari sebuah club malam bersama Kenzo dan Rio. Mereka berdua membantu Gilang keluar dari club malam tersebut.


"Kalian mau bawa saya kemana?" Ucap Gilang dengan sempoyongan. Saat ini Gilang kehilangan kesadaran karena banyak minum wine.


"Jangan banyak omong bicara, ikut saja" Kesal Rio sambil melempar Tubuh Gilang ke dalam mobil.


"Pelan dikit napa, kasian tu anak orang." Protes Kenzo.


"Masa bodoh, lah. Siapa suruh minum begitu banyak" Rio segera duduk di kursi pengemudi karena mereka datang dengan mobil Rio.


"Gue nyetir, lo jaga dia."Titah Rio membagi tugas.


Mereka pun segera meluncur ke rumah Gilang. Malam semakin larut di tambah hujan masih belum reda, suara gemuruh petir menyambar membuat mereka ketakutan. Kilatan cahaya ternampak jelas sampai Rio memutuskan untuk menepi sejanak.


"Gue nggak berani lanjut, Ken. Petirnya kenceng banget"Sambil menoleh bangku belakang di mana Gilang tertidur di pangkuang Kenzo. Melihat pemandangan itu membuat Rio tahan tawa dengan menutup mututnya dengan satu tangan.


"Kenapa lo?" ucap Kenzo.


"Nggak, kalian cocok banget kaya romi dan romo....hahaha" Di saat genting seperti ini Rio masih bisa melempar banyolan pada sahabatnya itu.


"Gila, lo. Di pikirnya gue apaan" Merasa risih atas banyolan Rio, Kenzo pun membantu Gilang duduk hingga terlepas dari pangkuannya. Dengan kondisi tidak sadarkan diri, mambuat Gilang terhuyung sebab Kenzo mendorong tubuhnya memojok sampai kepalanya bersandar pada kaca mobil.


"Olive, Olive...." Lirih Gilang.


Kedua sahabatnya menatap ke arah Gilang.


Kenzo menggeleng kepela "Gila nih orang. Dalam kondisi nggak sadar saja yang di sebut masih wanita itu" mengetuk kening Gilang pelan "Dasar bodoh. Kenapa harus mengejar angin jika hujan saja tak mampu di genggam."


Rio memicingkan kedua matanya "Maksudnya?"


Kenzo menarik nafas panjang lalu membuanganya dengan perlahan "Dia itu nggak bisa miliki cinta Olive kenapa harus mengejarnya. Sudah jelas dong dia akan sangat tersakiti. Bodohnya lagi dia sampe berbuat nekat sama Olive." Mengingat Gilang berkata pada mereka jika dia telah meniduri Olive beberapa kali saat mereka di villa. Gilang bicara semuanya kepada mereka berdua karena dirinya telah di kuasai oleh minuman keras.


Rio melirik wajah Gilang yang terus mnerus memanggil Olive. Sebenarnya dia merasa kesal sekali sama Gilang, sudah tau cintanya terlarang masih saja di terjang. Kalau sudah terluka baru merintih kesakitan.


"Gue juga nggak abis pikir sama dia, apa sih yang dia cari dari Olive? sampai dia jungkir balik mendapatkan dia. Kalau di lihat dari wajah sih, Olive mamang cantik. Tapi, gue rasa bini dia jauh lebih cantik kuar dalam" Ucap Rio.

__ADS_1


"Kalau masalah cantik sih gue juga nggak tau cantik siapa. Lo tau sendiri bini dia itu pake cadar, seluruh badan tertutup. Sesekali bertemu saja dia nggak mau natap gue. Dia terus menunduk, macam takut kena dosa gitu" Jelas Kenzo.


Duar...


"Astaga,gue kira apaan" Rio terkejut saat petir terdengar kencang.


"Itu tandanya Tuhan minta kita buat stop ghibahin bidarainya. Mending kita diam deh" Kenzo menutup tirai kaca mobil supaya kilat petir tidak terlihat jelas di mata.


"Rio melihat mencongdongkan wajah ke depan melihat jalanan di genangi air.


"Kayanya banjir, nih Ken. Duh gimana kalau kita kejebak di sini"


Hujan tak kunjung henti di tambah petir semakin ribut dan air pun meluap ke tepian. Maklum, kito padat penduduk seperti itu pasti akan rawan banjir jika sedang turun hujan lebat.


Drttttt...


"Hpnya bunyi" Kenzo meraih ponsel yang ada si saku celana samping.


"Angkat aja" Titah Rio sambil melihat layar ponsel tertera nama Mami. Mereka tau jika yang menelrpon adalah ibu kandung Gilang.


"Ya sudah biarkan saja. Gue juga nggak mau berhadapan sama Mr arogan itu"


"Kalau gitu kita segea bawa dia pulang saja. Kalau sampe kita nggak bawa dia pulang bisa bisa Om Raka nyusulin kita, bisa panjang ceritanya" Kenzo membenarkan posisi kepala Gilang yangvkala itu hendak menyandar di bahunya.


"Lo yakin mau jalan lagi? soalnya petirnya serem abis" Gelegar petir maih terdengar.


"Takut mana sama Om Raka? kita bisa di cincang nanti. Dah gue yang bawa mobil. Minggir Lo" Kenzo mengusir Rio dari stir kemudi.


"Gila, lo. Gue nggak mau keluar. Takut basah"


"Nggak usah keluar. Lo pindah aja, gua langsung ke depan" Setelah Rio berpindang, Kenzo pun mulai mengendarai mobil menuju rumah Gilang.


Tak berapa lama sampailah mereka di depan pintu gerbang. Setelah membunyikan klakson mobil berkali kali, akhirnya pintu terbuka.


Mereka berdua langsung membuka pintu mobil kemudian menghampiri Gilang yang terbaring di bangku belakang. Setalah itu, mereka memapah tubuh Gilang masuk, di tekan bel rumah. Tak berapa lama pintu terbuka, mereka membawa Gilang masuk ke dalam rumah. Di sana sudah ada Lily dan Raka yang duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Gilang....kenapa ini?" Lily segera bangkut melihat putranya lemas di papah kedua sahabatnya.


"Tenang, Tante. Dia cuma kebanyakan minum doang." Ucap Rio.


"Minum? kalian ini masih saja belum berubah." Benar saja, Raka mulai marah kepada mereka.


"Tan, kita pamit dulu ya" Di serahkan tubuh Gilang pad Lily lalu mereka kabur, rakut di maku Raka.


"Hey, kalian mau kemana? berhenti" Teriak Raka seraya hendak mengajarnya


"Sudahlah, mas. Nggak usah urus mereka. Sekarang bantu aku bawa dia naik ke kamar"


"Iya, sayang."


Mereka berdua mamapah tubuh Gilang sambil manaiki anak tangga. Tubuh lemas Gilang semakin memberatkan mereka berdua.


"Mas, ketuk pintu dulu takutnya Alisya sudah tidur"


Tok tok...


"Nak, buka pintunya."


Mendengar pintu kamar di ketuk, segera Alisya meraih cadar di atas meja lalu memakainya, setelah itu ia membuka pintu kamar.


"Mas Gilang..." Alisya terkejut melihat suaminya di papah kedua orang tuanya.


"Mas Gilang kenapa, Mi?" Tany Alisya sambil menyentuh lemgan ibu mertuanya.


"Kamu tenang dulu, nak. Biarkan dia istirahat sejenak" Meletakkan tubuh putranya di atas ranjang sambil menyelimuti.


"Suami kamu masih dalam kondisi mabuk. Biarkan dia istirahat sejenak. Kami turun dulu" Raka menggenggam tangan Lily memberinya kode supaya lekas pergi dari sana, karena Raka tidak ingin menyita waktu lebih lama lagi.


"Iya, Pi. Alisya akan merawat mas Gilang"


Setelah mereka pergi, Alisya menatap wajah suaminya sambil duduk di tepi ranjang. Si lepasnya cadar dan kerudung di kepala.

__ADS_1


__ADS_2