
"Risa, besok kamu berangkat jam berapa?."
"Sekitar pukul 10:30 memang kenapa?." umpan balik kini Risa layangkan pada kekasihnya.
"Berarti masih ada waktu untuk kita sekedar sarapan bareng. aku akan buatkan makanan spesial buat kamu...."ucap Leo.
"Hem, iya." Kembali Risa melahap makanan di hadapannya.
"Tunggu...."
Leo mengusap bibir Risa.
"Kamu makan mie saja bisa belepotan seperti ini? ck, ck." Leo berdecak dengan gelengan kepala.
"Soalnya aku baru kali ini makan mie enak sekali..." Ucap Risa sembari tersenyum tipis.
"Oh iya, kamu itu seorang dokter, lalu kenapa kamu mau makan di pinggir jalan seperti ini?." Heran Risa.
"Lalu apa masalahnya?."
"Memang kamu tidak takut jika makanan ini tidak sesuai standar medis mungkin."
"Tidak semua hal bisa di ukur dari luarnya, mereka yang berjualan di pinggir jalan bukan berarti mereka tidak menjaga kebersihan. dan tidak menjadi jaminan kebersihan bagi mereka yang berdagang di tempat yang tertutup." Jelas Leo sembari meraih segelas teh.
Risa semakin menggila saat mendengar ucapan Leo yang sangat bijaksana, walau pun dia seorang dokter, tapi dia tidak membeda-beda-kan antara yang satu dan yang lain.
__ADS_1
Bahkan Leo tidak merasa risih makan di pinggir jalan, padahal jika dia mau, dia bisa makan di mana saja sesuka hati....
kesederhanaan Leo adalah bukti nyata kebaikan dan ketulusan yang terdapat di dalam diri....
"Setelah ini kamu mau kemana?." Tatapan Leo mengarah pada Risa.
"Disini dulu, aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan kamu." Risa bersandar pada bahu kanan Leo.
"Taukah kamu? selama aku mengenal kamu, baru kali ini aku melihat ketulusan dalam dirimu." Lirih Leo dengan mengusap tangan kekasihnya.
Risa merasa nyaman dengan sentuhan lembut itu, rasa sakit yang pernah dia rasakan seketika sirna dengan datangnya Leo di kehidupannya saat ini.
"Mari ikut denganku.."
"Kemana?."
"Lalu?." heran Risa.
"Kita bisa menghibur diri dengan melihat tingkah lucu dari mereka, ayo bantu aku berdiri." Jelas Leo.
Risa pun berdiri dan membantu kekasihnya, perlahan Risa dan Leo meninggalkan tempat itu, namun sebelum mereka pergi, Leo terlebih dahulu meninggalkan sejumlah uang di bawah mangkuk lalu memanggil sang penjual mie ayam.
"Kaki kamu sakit?." Tanya Risa saat langkah Leo tiba-tiba terhenti.
"Tidak. kamu coba lihat disana..." Leo menunjukkan sebuah hal indah pada Risa.
__ADS_1
Banyaknya gelembung udara dan sorak dari puluhan anak membuat mereka kagum. senyum, canda dan tawa melengkapi keindahan alam sekitar....
"Leo, kita kesana yuk..."
Leo pun mengiyakan ajakan Risa, tak berapa lama mereka menuju tempat yang telah di sepakati....
langkah kaki terasa ringan di kala tatapan mata Leo menuju pada senyum bahagia di bibir kekasihnya.
"Coba kamu lihat anak lelaki di bawah pohon itu, dia sedang asik membaca buku tanpa merespon teman di sebelahnya. sungguh lucu bukan?."
"Iya, nampaknya dia anak yang pandai." Lirih Risa.
"Oh iya, apakah kamu akan sering datang kemari untuk sekedar melepas kesepian dalam dirimu, saat aku pergi nanti?." Lirih Risa dengan menundukkan kepala.
Entah perasaan macam apa yang saat ini menghampiri diri Leo, intinya dia merasa sakit, sesak, dan juga sedikit kecewa.
Semua rasa menjadi satu kesatuan yang menyerang jiwa raga....
"Bisa jadi."
"Leo, sepertinya aku terlalu mencintai kamu walau pun aku sadar di hati kamu masih tersimpan rapat wanita itu." Lirih Risa.
Seketika itu Leo kembali teringat dengan Criztine, gadis manis dengan sejuta karisma dan kebaikan yang ada dalam dirinya.
Namun Leo juga sadar semua kekaguman itu tidak pantas dia rasakan, karena dosa baginya untuk mengagumi istri orang lain.
__ADS_1
"Sudahlah! jangan bahas itu lagi. aku ingin hari ini menjadi hari untuk kita." Leo meraih tangan Risa dengan menatap sendu wajah cantiknya.