
Riko memeluk Tasya dengan meneteskan air mata...
"Mari kita menikah. akan ku bawa kamu pergi sejauh yang aku bisa..." ucap Riko sembari mencium pundak Tasya dengan rasa bersalah.
namun Tasya tak menghiraukan Riko yang menangis dan memohon kepadanya, dia tak mau ambil pusing karena semua kata yang keluar dari mulut Riko hanya di anggap sebagai angin lalu....
"Aku mohon jangan diam saja...." pinta Riko dengan menatap wajah Tasya.
Tasya tak perduli, dia bergegas menyiapkan obat yang harus dia konsumsi setiap hari.
"Aku ambilin minum ya??" tak lama Riko menyodorkan segelas air putih.
Tasya tak mau menerimanya, dia memilih berjalan sendiri untuk mengambil air minum...
hati Riko sakit mendapat perlakuan Tasya yang mengacuhkan dirinya bahkan tak menganggap keberadaannya....
Tasya kembali dengan membawa segelas air putih di tangan lalu meminum perlahan.
Riko menatap wajah Tasya penuh dengan rasa bersalah dan rasa rindu yang mendalam, namun Tasya tak sedikit pun melirik Riko
betapa hancurnya Riko saat melihat banyaknya obat yang harus dia konsumsi demi bayi di dalam perutnya yang tidak lain adalah anak Riko sendiri.
Tasya pun berbaring kembali dan memejamkan mata, berusaha untuk bersikap acuh pada diri Riko.
dengan perlakuan Riko yang membuat dia muak dan sering kali mengumbar janji palsu...
"Jaga mama ya nak....." Riko yang merasa keberadaannya tidak di ingin kan oleh Tasya
dia memilih pergi dengan meninggalkan usapan lembut di perut Tasya yang mulai membesar...
__ADS_1
hati Tasya sakit, mengingat rasa sakit yang dia rasakan waktu itu dan dia hampir kehilangan anak dalam kandungannya, itu semua di sebab kan oleh ketidak perdulian Riko kepada dirinya....
Tasya pun tertidur
dan entah dari kapan Riko sudah terlelap di samping nya....
di karenakan hari libur, Tasya pun memasak nasi dan sayur untuk dirinya dan sang anak.
dia ingin sekali makan tumis sawi dan jagung muda....
"Kamu ke pingin makan ini ya nak ya...???" dengan tangan Tasya yang mengusap perut nya
Riko yang tak berani menghampiri Tasya hanya bisa melihatnya dari kejauhan karna jika dia mendekat sekarang
pasti Tasya tak akan melanjutkan makannya.....
"Kamu masih lapar ya nak? mau makan lagi ya? nanti kalo mama gendut gimana...?" Tasya berbicara dengaan senyuman manis.
Riko tersenyum bahagia melihat Tasya tersenyum indah
Riko pun berjalan ke arah dimana Tasya sedang membereskan piring dan peralatan dapur yang baru saja dia gunakan.
"Biar aku saja kamu istirahat dulu...!!"
Tasya tak mau berdebat hanya karna masalah sepele
dia memilih ke ruang tamu dan mengusap perut yang mulai membesar.
Tak lama Riko mendekat dan duduk di samping Tasya....
__ADS_1
"Coba biar papa lihat anak papa lagi apa ya???" Riko mengusap perut Tasya dan menciumnya.
"Papa tidak sabar menunggu kelahiran kamu...."lirih Riko.
Tasya hanya melirik dan tak berkata sedikut pun, dia masih diam seribu bahasa.
Riko terus mengusap perut Tasya dengan memandang wajah cantiknya.
"Mau kah kamu menikah dengan ku dan menerima segala kekurangan ku sya...?"
entah itu sebuah lamaran atau hanya sebuah kata-kata manis yang di dalamnya mengandung racun yang mematikan...
Tasya berdiri dan dia masuk ke dalam kamar untuk sekedar merebahkan badan....
dia merasa pegal sekali
Tasya meraih buah di meja kamarnya yang di bawakan Rikardo kemarin
"Awwwwhh....sakit" tangan Tasya terkena pisau.
mendengar Tasya kesakitan membuat Riko berlari...
"Ya ampun Tasya kamu ceroboh sekali, kamu bisa meminta ku untuk mengupas buah itu untuk mu kan...."cetus Riko dengan meraih jari Tasya dan mengobati lukanya.
"Kamu pandai mengobati luka tapi juga pandai membuat luka..." Cetus Tasya.
ucapan Tasya bagaikan panah yang menusuk hati yang membuat dia seolah berhenti bernafas...
Riko hanya bisa terdiam dan memaksakan senyuman di bibirnya, meski hatinya sakit tapi dia sadar perlakuan dia yang membuat Tasya menjadi seperti itu.
__ADS_1