
Sesaat setelah Gea membawa Fita keluar, Dimas bergegas mengikuti mereka dari kejauhan.
Hampir setengah jam perjalanan menuju tempat yang ingin di kunjungi mereka...
" Kemana Gea akan membawa Mama..." Dimas keluar dari mobil, lalu mengikuti langkah mereka.
" Sekarang Tante bisa meluapkan sakit hati Tante disini..." Ucap Gea dengan berjalan menuju pesisir pantai.
" Maksud kamu?."
" Dulu aku sering datang ke sini untuk meluapkan amarah, bahkan disini aku merasa sangat bebas. Tante tau? selama hidup, aku tidak pernah mengalami penolakan dari seorang lelaki, tapi ada satu lelaki yang sulit untuk ku dapatkan. Dan ketika amarah ku tidak bisa di bendung, maka hanya tempat ini lah tujuan utama ku...." Jelas Gea.
" Lalu bagaimana cara kamu meluapkan amarah?."
Gea memandang wajah pucat Ibunda Dimas, terlihat jelas kesakitan dan penderitaan di matanya.
Sisa air mata melukiskan noda hitam kehidupan.
" Tante coba sedikit berjalan ke depan..."
Fita pun mengikuti ucapan Gea.
" Sekarang Tante pejamkan mata lalu bayangkan semua luka yang pernah Tante rasakan, setalah itu coba luapkan amarah Tante dengan teriak sekuat mungkin...." ucap Gea sembari melihat hamparan air laut.
Ketika melihat Fita semakin berjalan maju, membuat Dimas keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
" Mama....." Teriak Dimas sembari berlari meraih lengan Fita.
" Gea....apa kamu tidak waras?." Bentak Dimas.
" Aku, aku hanya ingin membantu Tante mengurangi beban di hatinya. Tidak ada sedikit pun niat untuk melukai Mama kamu. sungguh!." jelas Gea.
" Tapi bukan seperti ini caranya. Jika mama tenggelam, apa kamu bisa menyelamatkan mama?." Dimas menggenggam erat pergelangan tangan Gea. " Kamu hanya akan semakin membuat kami susah." Cetus Dimas.
" Dimas..." Lirih Fita.
" Ayo kita pulang Ma..." Dimas segera menggandeng tangan Fita lalu membawanya berjalan menjauh.
" Tolong dengar dulu penjelasan ku." Ucap Gea.
Namun semua ucapannya hanya di anggap angin lalu...
" AKU BENCI HIDUP KU....."
Teriakan Gea sontak menghentikan langkah Dimas...
" Dimas, putra ku. Biarkan mama kesana..." Lirih Fita.
Entah kenapa Dimas merasa sakit ketika mendengar suara Gea saat itu, dia menoleh lalu memandang Gea yang tengah berdiri menatap luasnya lautan...
" Pergilah Ma..." Lirih Dimas.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Fita menghampiri Gea...
" AKU JUGA BENCI DIA." Teriak Fita.
" Tante... bukankah tadi...." Gea terkejut ketika Fita berada di sampingnya.
" Ternyata kamu benar nak! Tante bisa merasakan lega dengan semua ini." Fita tersenyum dengan meraih tangan Gea.
Tanpa ragu, Fita menggenggam erat tangannya lalu mereka saling menatap...
Mereka berdua semakin memper-erat kedekatan mereka, sehingga Dimas melebarkan senyum ketika melihat Fita tersenyum sepenuhnya.
" Kenapa Gea bisa membuat Mama tersenyum bebas seperti itu? apakah Mama merasakan kenyamanan di dekatnya?." Dimas terus mengira-ngira kedekatan keduanya.
Puas melihat Ibundanya tertawa lepas di pantai, kini Dimas berjalan menghampiri mereka...
" Ternyata seru juga ya..." Ucap Dimas tepat di belakang Gea.
Gea menoleh lalu melihat Dimas berdiri tegak di belakangnya.
" Kenapa kamu kesini? bukankah tadi kamu memaki ku?." Kesal Gea sembari berjalan menjauhi Dimas.
" Dimas, kejar dia. Kamu harus bertanggung jawab." Fita mengetuk dahi Dimas.
Dia sangat kesal dengan sifat dingin yang di miliki putranya tersebut.
__ADS_1
Mungkin sudah saatnya Dimas membuka hati untuk wanita lain.
Setelah sekian lama mengalami tekanan batin dan siksaan dunia, kini saatnya Dimas bangkit dan kembali menempuh kehidupan baru dengan semangat baru.