
Beberapa hari telah berlalu...
tapi Revaldi sama sekali tidak memberi kabar pada sang istri
Criztine berniat untuk menghubunginya untuk memberi tau bahwa keluarga dari Ibunya berada di rumah.
sudah puluhan kali criz mencoba menghubungi dirinya, tapi tak pernah di hiraukan oleh Revaldi...
Revaldi yang selalu sibuk siang dan malam menemani wanita yang dia cinta, hingga dia melupakan kewajiban dan status dia sebagai suami orang lain.
Criztine tau semua yang di lakukan sang suami selama di luar, tapi dia tak punya banyak keberanian untuk menemui Revaldi...
Leo yang berada disana juga selalu mengirimkan dia Foto kemesraan sang suami dengan mantan kekasihnya...
Criztine hanya bisa menangis dengan apa yang dia lihat, dia berusaha tersenyum di depan semua orang dengan menyembunyikan luka yang tak berdarah dan tak bernanah. tapi sakitnya menusuk hingga ke tulang rusuk!!
Criztine berharap jika suatu saat nanti dia akan mendapat cinta dari Revaldi, meski dia harus berjuang dengan sekuat tenaga...
dan dia harus mengarungi lautan air mata, tapi keyakinan Criztine masih kokoh untuk saat ini.
Saat makan malam berlangsung...
Tasya menatap sang menantu yang terlihat sembab dan wajah yang pucat.
"Criz, kamu sakit nak...?" Tasya mendekati menantunya dengan menyentuh kening Criz
__ADS_1
"Hanya sedikit pusing mami, sebentar lagi pasti sembuh...!" Criz berusaha tersenyum semanis mungkin
"Apakah kakak mau aku pijitin..?" sambung April
"Terima kasih sayang, kakak baik-baik saja...!! Jelas Criztine
Rikardo merasa ada sesuatu yang janggal dengan menantunya malam ini, dia terlihat tidak seceria biasanya, terlihat jelas beban berat yang menimpa dirinya.
sebagai seorang mertua tentunya Rikardo tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anaknya...
"Kamu istirahat saja Criz, biar di temani adik mu...!" ucap Rikardo
Criztine hanya mengangguk dan meraih tangan April untuk pergi bersama dengannya.
"Anak itu benar-benar mewarisi sifat papanya, sedangkal itukah Revaldi melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami?? aku tak menyangka bahwa anak yang aku lahirkan dengan susah payah akan menjadi seorang suami yang seperti ini..." Tasya geram dengan anak lelakinya.
"Dia kan bisa memberi kabar pada istrinya. kalau seperti ini apa dia tau jika istrinya sedang sakit di rumah...?" emosi Tasya meluap
"Mungkin ponsel dia hilang...!"
"Cukup kamu membela dia mas..."maki Tasya
Saat Tasya dan Rikardo berdebat, datanglah Revaldi dengan wajah yang lesu.
"Ayah, mami...."
__ADS_1
Seketika Tasya dan Rikardo menoleh ke arah Revaldi.
"Darimana saja kamu...?" cetus Tasya
"Dari rumah sakit. ada keluarga sahabat ku yang mengalami kecelakaan...!" jelas Revaldi dengan menghempaskan tubuh di sofa.
"Apa teman kamu tidak punya keluarga? kamu itu punya istri yang harus kamu perhatikan. istrimu juga berhak atas dirimu begitu pula sebaliknya... sepenting apa teman mu itu, hingga beberapa hari kamu tidak pulang....!" maki Tasya
"DIA LEBIH PENTING DARI SEGALANNYA..."bentak Revaldi pada maminya.
Plak...
Tamparan keras melayang di pipi Revaldi.
"Mami tak menyangka demi orang lain kami berani berkata kasar pada mami, Ayo mas antarkan aku pulang. biar April disini menemani Criztine..." ucap Tasya dengan berjalan menjauhi Revaldi.
"Revaldi, ayah sangat kecewa padamu..." lirih Rikardo sembari mengejar sang istri.
Revaldi merasa sangat bersalah dengan apa yang baru saja dia lakukan pada ibu kandungnya sendiri.
"Ya tuhan...aku sudah melukai hati mami, aku tidak berniat untuk membentaknya, tapi kenapa mulut ini dengan lancangnya membentak mami..." Revaldi mengacak rambutnya.
Perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya
membuat dia sangat frustasi
__ADS_1
Revaldi pun mencoba menghubungi ayah dan maminya, namun usaha dia tidak berhasil.
Tasya sangat terluka dengan sikap Revaldi, hingga membuat dia menangis di pelukan suaminya.