HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Olive tertidur di pangkuan Gilang. Usapan tangan Gilang di kening membuatnya merasa sedikit nyaman. Karena terlalu lemas ia pun tidak berpikir macam macam. Saat ini yang ada di otaknya adalah ingin segera sampai villa lalu istirahat. Olive memang mabuk udara. Semua di sebabkan rasa tegangnya dan takut akan hal hal yang mengerikan. Di tambah perjalanan mereka menuju Villa sangat jauh, hampir memakan waktu lima jam. Kepalanya berputar, berutnya terasa mengguncang.


"Istrinya hamil pak?" Tanya pak supir taksi sembari melihat dari kaca depan.


"Istri....em iya" Jawab Gilang.


"Kalau istri sedang hamil memang begitu, pak. Dulu istri saya juga begitu kalau lagi ke luar bau parfum pasti muntah. Saya saja sampe bingung takut kenapa kenapa. Eh gak taunya orang nyidam kaya gitu, pak."


Gilang mengernitkan dahi, melihat bagian perut Olive "Apa dia benar hamil" Lirihnya.


"Ibu hamil anak pertama ya, pak?"


"Iya" Tegasnya. Tak berapa lama ponsel Olive berdering. Gilang meraih tas Olive lalu mengambilnya "Ya, halo. Ada apa.." Tanya Gilang pada si penelepon.


Sesaat Gilang terdiam mendengar si penelepon berbicara "Dia sedang tidur, tadi muntah muntah" Tuturnya seraya mengusap kening Olive.

__ADS_1


"Oh, begitu. Kamu tenang saja dia aman bersamaku." Gilang menutup ponsel Olive, baru saja Damar memberi tau Gilang bahwa Olive mabuk udara. Setiap kali melakukan perjalanan pasti akan muntah. Damar juga memberi solusi pada Gilang untuh membuat Olive nyaman. Damar meminta Gilang membelikan teh madu pada istrinya. Gilang merasa lega ternyata Olive tidak hamil, melainkan mabuk udara saja.


"Untuk saja" Senyum di bibir Gilang mengembang.


Cup...


Gilang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Di ciumlah kening Olive "Sungguh hanya kamu yang paling saya cintai" Lirihnya dengan menyibakkan rambut Olive yang berantakan karena posisi tidurnya.


Karena perjalanan masih jauh, badan pun teras lelah, Gilang memutuskan bersandar lalu memejamkan mata. Meski paha terasa pegal tapi dia sangat senang bisa memberi kenyamanan untuk wanita impiannya selama ini. Perlahan Gilang menutup mata.


Segera Gilang terbangun "Astaga saya tertidur"


"Sudah sampai pak"


"Iya, terima kasih. Tolong bawakan koper kami sampai depan pintu"

__ADS_1


Segera pak sopir membawa koper mereka.


"Olive, bangun Kita sudah sampai" Di tepuk pelan pipi Olive. Kepalanya masih terasa pusing, badannya pun lemas "Maaf...." Olive terhenyak kala sadar dia tengah tidur di paha Gilang.


Gilang mengulas senyum "Saya selalu siap untuk kamu"


Olive membuka pintu mobil "Aw...." Tubuhnya terhuyung sebab kepalanya masih terasa pusing.


"Sini saya bantu" Gilang melingkarkan tangan di pinggang Olive "Saya bisa sendiri kok" Olive berusaha melepas tangan Gilang namun, ia kembali terhuyung kala hendak melangkah.


"Jangan bandel kamu" Gilang pun memapah tubuh Olive.


"Kalau begitu saya permisi pak, buk" Setelah menerima uang dari Gilang, pak sopir kemudian pergi.


Kebetulan Villa sudah di bersihkan oleh penjaga Villa tersebut namun, karena hari sudah malam sang penjaga sudah tertidur pulas. Perlahan Gilang membawa Olive masuk. "Kamu duduk di sini dulu, biar saya buatkan teh madu" Gilang bergegas menuju dapur. Karena Villa iru di huni oleh seseorang, jadi perslatan masak atau pun bahan lainnya sudah tersedia. Gilang memasak air lalu menyiapkan teh.

__ADS_1


__ADS_2