HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 233


__ADS_3

Malam tiba. Gea berdiri di balkon kamar melihat keindahan malam. Angin berhembus menyibakkan rambut panjangnya. Kesunyian malam terasa mencekam tanpa adanya sosok Dimas dalam kehidupannya mulai sekarang sampai seterusnya.


" Huh...." Terasa berat nafas keluar dari mulutnya, Sesak dan menyakitkan. " Sulit bagiku bertahan di sini."


Drt.....


Ponsel berdering di atas meja samping ranjang, tapi Gea tidak mendengarnya. Lamunannya seolah mematikan semua hal di sekeliling, bahkan semua hal yang ada di depan mata nampak gelap dan hanya tergantikan dengan wajah anak kecil yang memanggil Dimas sebagai Ayah.


Setelah hampir berjam-jam terdiam meniti malam, Gea kembali ke atas ranjang dengan membiarkan jendela kamarnya terbuka.


" Malam ini hanya para bintang yang menemani, dan biarlah malam mendekap ku." Sembari merebahkan tubuh dan meraih ponsel di atas meja.


" Sampai sebanyak ini..." Melihat ada banyak pesan singkat juga panggilan dari Dimas.


" Lebih baik aku memblokir nomornya." Tak tunggu waktu lama Gea memblokir semua nomor yang bersangkutan dengan Dimas, termasuk Ibunda Dimas.


" Maafkan aku..." Air mata mengalir begitu saja bersama dengan penghapusan semua kenangan antara mereka berdua.


Malam semakin larut, namun Gea masih terjaga. Mengenang betapa susahnya mendapatkan hati Dimas serta perjuangan memperbaiki diri dari sifat lamanya. Gea tidak pernah menyesali perubahan, hanya saja merasa kecewa atas perjuangan selama ini.


" Tuhan...jagalah dia(Dimas), berikan yang terbaik untuknya, begitu juga dengan ku." Gea meringkuk di atas ranjang dengan melihat satu foto tersisa di layar ponselnya.

__ADS_1



" Terima kasih, Dimas. Telah menjadikan aku sosok kuat seperti sekarang ini. Dengan kamu, aku rubah sifat buruk ku, Karena kamu aku bisa berjuang menghadapi ego dan amarah dalam diri ini, Karena kamu juga aku bisa belajar arti dari mencintai." Gea merasa tak berdaya atas kehendak Tuhan pada hubungannya. Dengan Mendekap ponsel lalu memejamkan mata.


Kring....


Alarm berdering dengan kencang. Gea meraba mencari ponselnya. " Jam berapa ini.."Perlahan Gea menatap layar ponsel.


" Astaga..." Segera Gea bangun lalu berlari menuju kamar mandi.


" Aww..." Gea terjatuh di kamar mandi.


Setelah berganti pakaian segera Gea pergi ke bandara, tanpa perduli dengan lututnya yang terasa perih.


Sesampainya di bandara Gea menghubungi Abangnya. " Abang dimana?" Dengan mencari sosok lelaki yang sangat dekat dengannya.


" Hai..." Seorang lelaki menepuk pundaknya dari belakang.


" David? kamu..."


" Ya, ini aku. Abang kamu meminta ku datang menggantikan dia." Jelasnya sembari melebarkan senyum.

__ADS_1


Gea masih memegang ponselnya dan membiarkan Abangnya ngoceh di telepon tanpa di dengar olehnya.


" Halo, bang. Tolong jelasin kenapa Abang suruh dia kesini?" Ucapnya dengan nada tinggi. Sebelum Gea mendapatkan jawaban Abangnya sudah lebih dulu mematikan ponsel.


" Kenapa sewot? aku juga bisa melindungi kamu." Dengan merangkul pundak Gea.


" Bukan gitu, tapi..."


" Udah, ah. Anterin ke apartemen dong, capek banget.."


Gea pun membantu membawakan satu koper kecil milik David. Segera mereka beranjak dari Bandara.


" Raka bilang kamu lagi banyak masalah ya, memang masalahnya sebesar apa?" Dengan fokus menyetir David mencoba mencari tau masalah yang menimpa Gea. Dia di kirim ke Indonesia supaya mencegah Gea kabur dari tanggung jawabnya.


" Tidak ada!." Ucapannya tidak sesuai dengan apa yang di rasakan. Jika mengingat semua kejadian itu tentu saja dirinya bagaikan kembali pada waktu yang sama, seperti saat dia bersama Dimas dan juga seorang anak yang tidak lain adalah darah daging Dimas sendiri.


David merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Gea. Dengan sedikit melirik wanita cantik di sampingnya, David mengulurkan tangan untuk menadah air mata jatuh dari mata indahnya.


" Kamu masih sama, Gea."


Gea meraih tangan David lalu di letakan di atas kepalanya. " Kamu pun masih sama. Terima kasih, David." Gea mengusap air matanya lalu melempar senyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2