
Ponsel Gilang berdering terus menerus, jam mulai menunjukkan pukul sebelas malam waktu setempat.Tapi, Gilang masih termenung di tempat itu tanpa adanya seorang teman atau pun pasangan. Suara kebisingan taman mulai meredup, hanya tinggal beberapa orang saja.
"Malam ini terasa membosankan" Seraya bangkit lalu berjalan menuju parkiran.
"Anak jaman sekarang" Ketika melintas di semak semak terlihat dua orang muda mudi tengah bercumbu di balik lebatnya pepohonan yang tidak terlalu tinggi, Gilang menggeleng kepala. Langkah kaki mulai di percepat.
Entah rasa risih atau cemburu pada mereka, intinya perasaan Gilang sulit tuk di ungkapkan.
"Kak, tunggu" Seseorang menepuk pundak Gilang, membuatnya berbalik seketika "Iya, ada apa?"
Seorang pemuda menyodorkan sebuah dompet hitam "Dompet kakak terjatuh di sana"menunjuk sebuah bangku, di mana tadi tempat Gilang berada. "Dari tadi saya panggil, tapi kakak tidak menoleh" Tututnya kembali.
"Astaga, saya tadi mengdengar ada yang teriak, saya pikir bukan saya yang di panggil" Gilang pun mengambil dompet tersebut "Terima kasih, ya" Seraya membuka dompet handak mengambil lembarang uang.
"Apakah ada yang hilang, kak?"
Gilang pun mengambil dua lembar uang kertas bernilai dua ratus ribu rupiah. ketika ia hendak memberikan uang kepada pemuda tersebut, sang pemuda menolak. "Tidak kak, terima kasih. Saya tidak bisa menerima ini"
Gilang mengernyit lalu mengambil lagi dua lembar uang yang sama "Ini cukup"
Pemuda itu tersenyum "Saya menolak bukan karena uangnya kurang. Tapi, saya menolak karena saya mengembalikan dompet kakak tanpa pamrih. Jika kakak ingin memberi uang, lebih baik kakak berikan pada orang yang lebih membutuhkan"
Ucapan pemuda itu membuat hati Gilang tersentuh "Kalau begitu berapa usia kamu?"
"Usia saya 17 tahun, kak"
__ADS_1
"Kenapa kamu berada si taman di jam seperti ini? bukankah tidak baik keluar malam bagi anak sekolah" Ucap Gilang dengan menatap mata pemuda itu.
Senyuman pemuda itu mengembang "Saya sudah tidak sekolah kak. Saya hanya taman sekolah menengah pertama,itu saja saya mendaoat beasiswa. Dan sekarang saya sedang bekerja kak..."
"Bekerja?"
"Iya, kak. Saya berjualan minyak wangi, dari pagi belum ada yang terjual"
"Coba saya lihat"
Wajah pemuda itu terlihat sumringah. Pemuda itu pun mengambil tas berisikan parfum "Kakak bisa lihat lihat dulu, parfum ini cocok buat istri kakak." Pemuda itu mengeluarkan beberapa merk parfum "Yang ini agak mahal tapi bisa di pastikan aromanya harum tapi tidak menusuk hidung kak. Wangi buah."
Gilang terdiam, mengingat Alisya. Seorang wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
"Baiklah, karena kamu telah menolang saya. Jadi saya ambil tiga buah parfum yang paling mahal" Gilang mengeluarkan beberapa uang
"Terima kasih, kak. Semoga kakak dan istri senantiasa bahagia dan langgeng sampai kaki nini"
Deg...
Sesaat Gilang terdiam.Memikirkan apakah pernikahan itu akan sama seperti yang pemuda itu katakan, ataukah berakhir sebelum mendayung.
"Kak, kak..."
Lamunan Gilang pecah "Eh, iya. Makasih" Gilang pun tidak mau basa basi, segera ia pergi dari tempat itu menuju parkiran.
__ADS_1
Sesampainya di dalam mobil, Gilang kembali terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Setelah beberapa saat kembali ponselnya berdering. Di tataplah layar ponsel itu "Apa mereka tidak ada kerjaan sampai meneleponku belasan kali, bahkan semua orang ikut menghubungi" Di genggamlah ponsel tersebut lalu mematikan daya "Lebih baik aku pulang saja."
Di sisi lain ada Alisya tengah duduk di depan rumah, menunggu kepulangan suaminya. Dengan panik ia mondar mandir bagaikan setrika.
"Ya Allah, mas Gilang ada di mana" Tatapan mata Alisya tidak lepas dari pintu gerbang yang masih tertutup rapat.
"Non, lebih baik istirahat dulu. Nanti biar bibi yang bukakan pintu buat Tuan Gilang. Kasian Non dari tadi kecapean nunggu Tuan pulang." Sang asisten rumah tangga menemani istri majikannya dengan setia. Meski lelah, kantuk, di tahan demi kewajibannya.
"Tidak, bi. Biqr saya tunggu mas Gilang. Bibi istirahat saja dulu. Kasihan bibi seharian bekerja." Tutur Alisya lembut.
"Tidak, Non. Biar saya temani Non Alisya di sini"
Alisya menyentuh lengan sang asisten rumah tangga itu "Bibi cepat masuk dan isturahat. Ini perintah, mengerti"
"Tapi non...."
"Bibi tenang saja. Sekarang bibi masuk, biar saya tunggu suami saya pulang. Itu kewajiban istri terhadap suami. Kewajiban bibi sekarang sdalah istirahat biqr besok badan jadi sehat dan kuat"
"Baiklah non kalau begitu bibi masuk dulu ya, non"
Alisya mengangguk "Selamat istirahat"
Setelah beberapa saat Alisya masih cemas, melihat ke arah pintu gerbang. Masih belum ada tanda tanda kepulangan suaminya "Kenapa masih belum pulang juga" Hatinya semakin gelisah kala melihat jam di layar ponselnya. Jam menunjukkan pukul dua belas malam.
Alisya memuruskan menelepon suaminya, namun ponselnya tidak aktif. Dia mencoba mengirim pesan tapi tidak ada respon sama sekali. Kegelisahan Alisya semakin meningkat "Ya, Allah. Lingdungi suami hamba di manapun dia berada"
__ADS_1