HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

" Aaaaaa...."


Tiba tiba saja Gilang terkejut mendengar teriakan seorang wanita. Samar samar ia melihat sosok wanita yang tidak asing. Perlahan Gilang membuka mata, kemudian ia tersadar ada Olive di sampingnya tengah berbaring di sampingan dengan menutupi sebagian tubuh menggunakan selimut putih.


" kamu ngapain di kamar saya?" Gilang segera bangkit dari tidurnya.


" Pasti kamu menjebak saya, pasti kamu ingin mencemarkan nama baik saya, dasar wanita murahan." Kecam Gilang seraya merapikan kemeja lalu meraih jas yang tergeletak di lantai.


" Jangan bicara sembarang, saya bukan wanita seperti itu." jelas Olive seraya membela harga dirinya. Ia pun heran kenapa Gilang bisa tidur dengannya, bahkan ia tidak mengingat apa pun. Ketika Olive hendak bangkit, ia tersadar bahwa dirinya hanya menggunakan piyama tipis sehingga kembali mengurungkan niatnya dengan bersembunyi di balik selimut.


" Saya juga tidak tau kenapa bisa seperti ini. Sungguh saya tidak mengingat apa pun." Jelas Olive di balik selimut.


Gilang meremas jasnya seraya mendekatkan diri pada Olive.


" Kamu menjebak saya untuk balas dendam, cara kamu terlalu murahan...." Gilang telah di kuasai egonya.

__ADS_1


" Anda pikir saya sengaja tidur dengan anda? maaf Tuan Gilang Hendarman yang terhormat, saya tidak semurah yang anda pikirkan. Cuci dulu otak anda sebelum menuduh yang bukan bukan. Jika saya ingin membalas dendam kenapa harus saya sendiri menjadi umpan, kenapa tidak saya sewa wanita di luar sana..." Olive berteriak seraya berderai air mata. Suaranya bergema di seluruh ruangan, getar nada bicaranya seolah menjerit kesakitan.


" Aku juga korban. Jadi jangan hakimi saya seburuk itu...." Tanpa sadar Olive turun dari ranjang seolah menantang maut di hadapannya. Seluruh wajah memerah sehingga terpancar jelas amarahnya.


" Astaga ...."Gilang tertegun ketika melihat bagian leher Olive yang penuh dengan tanda merah.


" Kenapa?" Olive merasa ada yang salah pada dirinya. Ia pun berjalan menuju lemari kaca kemudian melihat semua bekas merah di leher.


" Kamu yang telah melakukan semua ini tapi masih menyalahkan saya....." Jari telunjuknya mendarat di depan wajah Gilang " Dasar Lelaki jahat."


" Kamu bisa tulis berapa pun yang kamu mau di sini lalu pergi dari kota ini. Anggap tidak ada yang terjadi antara kita." Gilang pun melangkah pergi.


" Tunggu..." Olive menghampiri Gilang dengan membawa cek tersebut, ia menggenggam erat kertas itu kemudian.


Plakkkkk...

__ADS_1


Tamparan keras di wajah Gilang " Maaf saya bukan wanita seperti itu..." Olive pun menyobek cek itu di depan mata Gilang. Bagi seorang wanita harga diri lebih di atas di bandingkan uang.


" Berani sekali kamu menampar saya...." ucap Gilang dengan nada tinggi. " Saya bisa mematahkan kedua tangan kamu ini, jadi jangan macam macam." Gilang pun memegang kedua tangan Olive dengan sangat erat. Harga diri seorang lelaki jatuh di depan seorang wanita


" Awww....." Keluh Olive ketika Gilang memelintir dengan kuat pergelangan tangannya.


Semakin lama Gilang melihat wajah wanita itu, semakin sulit untuknya mengontrol emosi.


" Gadis sombong seperti kamu menolak uang, jangan belagu kamu..." Tubuh Olive terhempas di lantai. Tanpa sengaja belahan kakinya terlihat dan ada sedikit luka memar, entah apa yang terjadi sampai tubuh Olive terdapat banyak luka.


" Jangan pernah muncul di hadapan saya lagi...." Ketus Gilang seraya melangkah pergi.


Olive menangis, ia tak mampu menahan penghinaan yang teramat berat baginya. " Sebenarnya apa yang terjadi..." Lirihnya dalam tangisan. Olive menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


" Dosa apa ya g telah kami perbuat...." Olive benar benar tidak mengingat apa pun kecuali saat ia bersama dengan kakak tirinya sedang bekerja di sebuah club yang tidak jauh dari tempatnya saat ini. Sepintas ia teringat ada hal janggal yang terjadi " Minuman itu..." Olive mengingat sebelumnya ia merasa kurang sehat lalu temannya memberi minuman. " Pasti dia yang melakukan ini." Olive menggapai ponselnya yang berapa di atas meja, namun belum sempai ia menggapai ponselnya, ada pemandangan yang membuatnya seolah berhenti bernafas " Darah..." Air matanya kembali tumpas ketika melihat bercak darah di atas spray. " Jadi dia telah melakukan itu..." bagai orang tak punya masa depan, ia pun mengacak rambutnya.

__ADS_1


" Arghhhhhhhh....." Olive membuang spray di hadapannya. Air matanya tidak berhenti menetes.


__ADS_2