HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Setelah melalui beberap tahun hidup terpisah dari ibundanya, kini Gilang sudah tumbuh dewasa dan banyak mengenal dunia luar. Ia menjadi laki laki yang tampan dan pandai. Berpendidikan juga menjadi salah satu pemimpin di perusahan kakeknya. Kini usinya memasuki 28 tahun tapi, dia masih belum ingin berkeluarga. Kesibukannya membuatnya enggan memikirkan percintaan.


Tok tok...


Terdengar sura pintu di ketuk, dan tak berapa lama pintu itu terbuka.


" Selamat siang, pak. Ada nona Amora yang ingin bertemu..." ucap seorang wanita cantik berpenampilan rapi.


Gilang masih terfokus dengan laptopnya seketika menghentikan jari jemarinya.


" Sudah saya bilang jika dia kesini bilang saya rapat..." Melepas kaca mata lalu menutup laptop di depannya.


Wanita itu tertunduk ketakutan sampai tak mampu membuka mulut.


" Kenapa menghindar?" tiba tiba datanglah seorang gadis remaja cantik menghampiri Gilang lalu memberi kode untuk wanita itu keluar dari ruangan.


Gilang mengernyitkan dahi " Untuk apa kamu ke sini?" Kesalnya seraya melonggarkan dasi. " Minta apa lagi? katakan." tanpa basa basi Amora mendekati Gilang lalu memeluknya.

__ADS_1


" Jalan jalan tuk kak..." mendongak lalu menatap wajah kakaknya. " Ayolah..." rengeknya kembali.


Gilang mengusap rambur Amora yang berantakan. " Kapan kamu dewasa..." wajah yang tadinya kesal melemah dengan satu senyuman manja. Teringat betapa sulitnya ia mendidik adik tercintanya menjadi gadis mandiri sampai harus berpura pura keras terhadapnya. Meski begitu, tidak membuat Amora jera manja terhadapnya malah semakin menjadi. Amora adalah putri dari Dimas dan Gea, adik tirinya yang hidup bersama sejak kecil. Kedua orang tuanya memanjakan gadis itu sampai Gilang sendiri tidak bisa menolak perintah gadis kecil tersebut.


" Tidak!" Ketus Gilang seraya melepas pelukan adiknya.


Amora memperlihatkan wajah cemberutnya.


" Kakak...."


Tidak seperti biasa, Amora menolak kartu tersebut. " Aku mau kakak ikut aku, bukan kartu itu." Kesal Amora seraya menarik lengan kakaknya.


" Amora, kakak masih banyak kerjaan. Sebentr lagi ada meeting." Berusaha menghentikan langkah, namun Amora tetap menariknya keluar dari ruangan.


" Pokoknya aku mau kakak temani aku."


Banyak mata melihat seorang bos besar kalah sari adiknya. Semua staf melihatnya dengan menahan tawa.

__ADS_1


" Tidak seperti pak Gilang yang biasanya..." Ucap salah satu staf kantor.


" iya, ya. Pak Gilang yang biasanya ketus dan susah tersenyum luluh di tangan adiknya." Tawa kecil keluar dari staf lainnya.


" Bicara apa kalian? awas saja ya, tunggu sampai saya kembali." ketus Gilang seraya melihat para staf yang tadinya tertawa lirih. Mereka pun tak berkata sepatah kata lagi sebab, mereka tau akan ada petaka besar nantinya jika menyinggung kehormatannya.


" Jangan galak gitu napa kak, biar cepet dapet jodoh." celetuk Amora.


Gilang semakin kesal jika adiknya selalu mengungkit kata jodoh." Amora...." Gilang memelintir telinganya lalu membawanya kelur dari kantor.


" Aw....kakak, sakit." segera Amora melepas tangan kakaknya.


" Sekali lagi bicara omong kosong, kakak kirim kamu ke rumah mama papa." kerus Gilang seraya berjalan jepat menuju mobilnya.


Amora segera berlari kecil lalu membujuk Gilang supaya tidak marah lagi.


" Kakak jangan lah. Aku janji gak omong jodoh lagi deh..." lembutnya Amora membujuk sang kakak yang mulai menekuk wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2