HASRAT

HASRAT
SEASON 2 Ep 168


__ADS_3

Setelah bertemu di mini market, Criztine mengajak Risa menuju sebuah taman.


" Criz, aku turut berduka atas kepergian paman." Risa mengusap lengan Criztine. " Kamu harus sabar dan tabah menghadapi cobaan ini. Kamu pasti kuat."


Criztine merasa sangat berat untuk mengiyakan kata-kata Risa.


Sesungguhnya Criztine masih terluka atas semua ini, namun dia berusaha menerima semua kenyataan yang ada, sebab semua itu butuh proses.


Menerima suatu kepahitan dalam hidup memanglah menyakitkan, tapi hidup tidak berhenti kala kamu merasa sedih.


Waktu terus berjalan, dan kamu harus bangkit lalu menyapu sisa derita.


bangkit untuk masa depan.


air mata mu hari ini akan menjadi perjalanan panjang dalam menjalani hidup.


Jadi tolong usap air mata itu lalu tataplah dunia.


Dunia masih menunggu senyumanmu.


" Terima kasih." Criztine mengusap air mata yang hampir saja tumpah.


" Oh iya, sekarang kamu tinggal dimana?."


Pertanyaan Criztine membuatnya gelagapan, karena saat ini dirinya tinggal di tempat Leo.


Walau pun begitu, Leo masih menjaga batasan diantara mereka.


Drt.....

__ADS_1


Belum sempat Risa menjawab pertanyaan Criztine, ponselnya berdering.


" Iya, aku segera kesana." ucap Risa pada seorang yang berada jauh entah dimana.


" Aduh Criz, sorry, aku harus cepat pulang, Kekasihku sudah menunggu dirumah."


" Kalian tinggal bareng?." Tatapan mata Criztine seolah mencaci maki dirinya.


" Em...tidak kok! aku hanya numpang makan disana, sudah ya aku mau pulang." Risa bangkit dari duduknya. " bye Criztine." Ia melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil.


" Astaga, hampir saja ketahuan." Risa menghela nafas lega, akhirnya dia terbebas dari ucapan Criztine.


Dia masih bungkam dengan hubungannya.


Risa sendiri saja masih belum sepenuhnya yakin atas ungkapan cinta Leo waktu itu.


Namun dia menerima semua itu, sebab dia sudah jatuh hati pada Leo.


Risa tersenyum tipis. " Maaf, tadi aku masih harus bertemu dengan seseorang." Enggan untuk menyebutkan nama sahabatnya, Risa pun menuju dapur lalu meletakkan semua belanjaan di meja dapur.


" Revaldi?."


Tiba-tiba ucapan Leo membuat Risa terhenti, dia yang sebelumnya hendak meminum segelas air putih seketika menatap wajah kekasihnya tersebut.


" Kalau iya memang kenapa? apa perduli kamu." Cetus Risa sembari berjalan tepat di depan Leo.


Leo meraih lengan Risa " Hey....jangan macam-macam, kamu tidak boleh merusak hubungan mereka lagi."


Ucapan Leo sangat menyakiti hati Risa, ia merasa bahwa kekasihnya lebih khawatir pada mantan kekasihnya di banding dengan dirinya.

__ADS_1


" Tidak usah khawatir, aku tidak melukai Criztine sedikit pun." Ketus Risa lalu berlari menuju kamar tamu.


" Risa, tunggu, kamu salah paham. Maksud ku...."


Brakkk....


Terdengar pintu di tutup dengan sangat keras.


Leo sadar bahwa ucapannya telah menyakiti hati Risa.


Perlahan dia mendekati kamar Risa, mencoba menarik nafas lalu mengetuk pintu di depannya.


Tok tok...


" Sayang, kamu jangan marah, aku hanya tidak ingin kita kembali jahat seperti dulu."


Penjelasan Leo membuat Risa semakin marah.


Yang dia inginkan saat ini adalah permohonan maaf bukan malah mengungkit masa lalu.


" Risa, keluarlah, kita makan malam di luar yuk?."


" Kemana?." tiba-tiba saja Risa keluar. " Aku mau makan sea food."


" Apalah kamu ini, tadi marah sekarang girang sekali." Leo mengetuk perlahan kening Risa.


" Kalau begitu aku masih mau lanjut marah..." Seperti biasa Risa bermanja-manja dengan kekasihnya.


Leo tidak menolak sedikit pun melainkan senang melihat gadis liarnya tersenyum.

__ADS_1


" Kalau begitu tunggu apa lagi? kita berangkat." Risa menggandeng lengan Leo bagai layaknya sepasang suami istri.


__ADS_2