
" Kania, segera keruangan." titah Jimmy menggunakan sambungan telepon.
Jimmy merasa gelisah, ia tidak sabar menunggu kedatangan wanita tersebut.
" Ada yang bisa saya bantu Tuan?." Ucap Kania.
" Duduklah."
Jimmy menatap wajah Kania. Nampak jelas bahwa saat ini Kania tidak mau menatap wajah lelaki yang berada di depannya.
" Kamu marah?."
" Tidak! maaf, jika anda hanya ingin membahas masalah pribadi, saya tidak ada waktu. Dan lagi tidak pantas membahas hal yang tidak bersangkutan dengan pekerjaan." ucap Kania.
" Dengarkan dulu penjelasanku, dia adalah utusan dari Tuan Jack. Kami tidak memiliki hubungan apa pun. percayalah!." Jimmy mendekati Kania dengan memeluknya dari belakang.
Leher jenjang itu menjadi sandaran kedua tangan Jimmy. Dekapan hangat membuat nyaman diri Kania.
Namun saat ini Kania tengah di kuasai oleh Ego, dimana dia tidak mampu menyembunyikan rasa kesal pada diri Jimmy.
" Lepas." Kania mencoba melepas dekapan Jimmy, namun usahanya sia-sia.
" Jangan marah. aku tidak bisa melihat api di bola matamu." Lirih jimmy.
Masih dalam posisi yang sama, hingga satu hal yang membuat Jimmy melepaskan dekapannya.
drt drt...
" Siapa sih." kesal Jimmy. " Astaga, Revaldi segera sampai disini."
__ADS_1
" Benarkah?." Kania terlihat gugup.
" Iya. sekarang kamu beri tau mereka untuk segera menyambut kepulangan Revaldi." titah Jimmy.
" Baik, Tuan." Kania pun hendak beranjak dari duduknya.
" Tunggu, aku mohon jangan salah paham atas apa yang kamu lihat." kondisi seperti ini, masih sempat Jimmy memikirkan masalah pribadi.
Kania melempar senyum, ia pun hendak melangkah pergi.
Namun seketika itu langkah kaki Kania terhenti.
" Mas, lepaskan. jangan sampai hubungan kita di ketahui oleh semua orang."
" Maafkan aku."
Kania berbalik badan saat di dengarnya permintaan maaf dari sang kekasih.
Saat Kania berbalik, ia di kejutkan dengan satu kecupan di pipi kanannya.
" Mas." Lirih Kania, bagai desahan Hasrat dalam sanubari.
" Tunggu sampai Revaldi kembali ke Eropa, maka kita akan menjalani hari seperti sedia kala." Ucap Jimmy sembari meraih kedua tangan gadis manis di hadapannya.
Tak berapa lama Kania pergi lalu kembali menjalankan tugas dari Jimmy.
Jika berada di kantor, Jimmy adalah atasannya.
Namun jika di luar kantor, Jimmy adalah kekasihnya.
__ADS_1
Hubungan mereka mulai terjalin beberapa bulan lalu.
" Selamat datang Tuan Re, salam hormat dari kami semua." Sapa salah satu dari pegawai kantor.
" Hemm." Tanpa perduli, Revaldi melangkahkan kaki dengan perlahan.
Di samping Revaldi terlihat ada seorang wanita cantik dengan senyum manis menyapa para pegawai kantor.
" Sayang, jika kamu lelah, kamu bisa istirahat di Rumah." ucap Revaldi.
" Tidak! aku ingin ikut dengan kamu." Manja Criztine pada suaminya tersebut.
" Baiklah. nanti kamu bisa istirahat di ruang kerjaku." sentuhan lembut pada kepala Criztine.
" Selamat datang kembali Tuan Re." Sapa Jimmy di dampingi sang asisten.
Mereka membungkukkan setengah badan sebagai tanda hormat atas kepulangan sang Pemimpin.
" Tidak usah sungkan sepeti itu Jim, mari ikut dengan kami." ucap Revaldi sembari melangkah ke dalam ruangan.
" Tidak ada sedikit pun perubahan disini, masih sama seperti dulu." Revaldi memandang sekeliling ruang kerjanya yang telah lama dia tinggalkan.
" Sayang, jika kamu ingin istirahat, maka masuklah di ruangan itu." Revaldi menunjuk sebuah ruangan tersembunyi di ruang kerjanya.
" Kalau begitu saya permisi istirahat dulu Tuan Jimmy." Santun Criztine.
" Silahkan."
Tak berselang lama, Criztine masuk dalam ruangan.
__ADS_1
Terhempas sudah lelah dalam diri Criztine, ia kembali menghirup udara tanah kelahiran.
Sungguh hal yang paling di rindukan selama hidup di negara lain.