
Dimas melihat ada keraguan di wajah istrinya, meski begitu dia ingin mereka berjuang bersama-sama. Seberat apapun beban di bahu jika saling membantu pasti bebannya akan ringan.
" Sudahlah, kita bahas ini nanti saja. Biarkan Gea istirahat dulu, nanti aku akan memikirkan jalan keluar supaya Gilang cepat di temukan."
Fita menatap mata putranya. Sudah jelas bahwa saat ini dia berusaha menjadi sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab.
" Baiklah. Kalian istirahat dulu, mama juga mau siapkan makanan untuk kalian." Ucap Fita dengan melangkah pergi.
Sepeninggalan Fita, Gea berjalan menuju balkon. " Sepertinya kita butuh bantuan dari seseorang untuk menyelidiki keberadaan Gilang. Bagaimana jika kita minta bantuan dari polisi?"
Dimas mendekat lalu meraih tangannya...
" Jangan libatkan polisi dulu. Ada satu kejanggalan dalam rekaman suara itu." Mengeluarkan ponsel lalu kembali memutar rekaman.
Mereka berdua mendengarkan rekaman itu dengan seksama...
" Tunggu. Kenapa suara lelaki itu mirip sekali dengan...."
Mereka berdua saling bertatap muka.
" Siapa?" Tanya Dimas heran.
" Suara ini sepertinya aku kenal, tapi aku masih butuh bukti kuat." Sepertinya Gea sudah bisa menebak siapa dalang di balik semua ini.
" Mas, bolehkah aku keluar sebentar?"
" Kemana?"
__ADS_1
" Percayalah, aku tidak akan macam-macam." Mencoba meyakinkan suaminya.
Dimas mengangguk....
" Hati hati, sayang."
Setelah mendapat restu dari Dimas, dia segera pergi dari sana lalu menuju Apartemen David. Sepanjang perjalanan hatinya terus memikirkan kemungkinan terjadi sesuatu hal pada Gilang.
Tak berapa lama Gea sampai di Apartemen, menuju kamar David. Sebelum sampai di kamarnya, dia sempat melihat David berbincang dengan seorang lelaki gagah tinggi, memakai jas hitam. Mereka sepertinya hendak pergi dari tempat tersebut.
" Tunggu...." Teriak Gea dari kejauhan.
" Gea?" Ucap Raka terkejut melihat adik kesayangannya ada di depan mata.
" Adikku sayang, adikku tercinta, akhirnya kamu kembali. Abang sangat merindukan kamu..." Raka menghampiri Gea yang juga ingin menghampirinya.
" Tunggu dulu, jadi kamu menuduh Abang yang baru saja sampai disini? memang siapa Gilang?" Berpura mengelabuhi Gea dari apa yang terjadi, memasang wajah manis seolah tidak terjadi apa pun.
Raka menyentuh pundak Gea...
" Jelaskan baik-baik. Abang tidak suka melihat kamu menjadi seperti sekarang ini. Kemana adik kecilku yang selalu menyambut kedatangan ku dengan pelukan serta senyuman manis, kemana hilangnya adik yang patuh pada Abangnya?"
Mengibaskan tangannya lalu menatap tajam wajah itu. Gea melihat bola mata Abangnya nampak sedikit berbeda. Pandangannya selalu beralih dan tatapan itu kerap kali beralih pada hal lain.
" Pasti Abang berbohong padaku ya, Kan?" Kembali Gea menekan Raka dengan tatapan penuh amarah.
" Terserah kamu percaya atau tidak, yang pasti Abang tidak tau siapa Gilang dan dimana dia berapa." Raka berbalik membelakangi Gea. " Kalau kamu lebih percaya orang lain dari Abang mu sendiri mulai saat ini anggap saja aku bukan lagi keluarga kamu."
__ADS_1
Betapa terpukulnya Gea melihat seorang yang sangat menyayanginya berkata sedalam itu...
Mungkin memang bukan Bang Raka.
Pasti dia sangat terluka...
Gea segera berlari lalu memeluk Abangnya...
" Maaf, Bang. Bukan maksud ku menyakiti Abang."
Raka tersenyum melihat ada respon dari Adiknya. Dia pun berbalik lalu menatap wajah adiknya...
" Kamu adalah duniaku, tempat ternyaman adalah dirimu, dan hal paling berharga adalah kamu, Listya Gea Hendarman." Raka menyentuh dagu adiknya, mencubit hidung mungil nan mancung itu.
" Ehem..." Melihat adegan seperti itu, David mendekati mereka.
" Dari mana saja kamu? aku sudah berhari-hari mencari mu tapi tidak ada seorang mengetahui keberadaan kamu." Berdiri di sisi Raka menatap wajah Gea. Ada satu hal yang membuatnya terbelalak. Tanda merah di leher Gea nampak jelas.
" Ada apa dengan leher kamu?" Tanya David.
Segera Gea menutupi Lehernya menggunakan tangan kiri.
" Emmm...sepertinya tidak sengaja terkena percikan minyak...." Berusaha memberi alasan untuk mengelabuhi mereka berdua.
" Coba lihat." Dengan sigap Raka membuka tangan Gea lalu melihat banyak bercak merah di lehernya.
" Tidak mungkin. Alasan kamu tidak masuk akal, sekarang katakan siapa yang telah berbuat seperti ini, jangan bilang ini ulah lelaki itu?" Dengan kasar Raka menyeret Gea masuk ke dalam kamar David lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
" Bersihkan diri kamu dari virus di tubuh kamu itu. Jangan kamu buat Abang murka, Gea." Kesal Raka.