
Malam itu turunlah hujan. Mereka bertiga tidur di ranjang yang sama, berhimpitan dan serasa sesak. Meski begitu Raka nampak bahagia, ada beberapa hal yang tidak pernah di alami selama ini. Bersama dengan Lily dan putranya dia bisa merasakan hal lain dalam hidup. Dahulu Raka tidak pernah percaya pada yang namanya keluarga, karena bagi dirinya tidak ada hal istimewa di banding dengan Gea Listya Hendaeman, adik perempuan tercinta. Selama hidup Raka tidak merasa nyaman memejamkan mata tanpa adanya Gea. Tapi, entah kenapa dengan adanya mereka berdua perlahan mengubah semua ketidak nyamanan Raka.
Apakah keluarga itu seperti ini?
Kenapa rasanya nyaman sekali di banding sebelumnya....
Raka memandang Wajah Gilang sekejap sembari mengecup kening bocah kecil itu...
" Tidurlah Boy..." Lirihnya melebar senyum.
Setelah beberapa saat Raka beralih posisi dengan menghadap Lily yang pada saat itu menghadapkan wajahnya pula. Lily sudah terlelap, Raka memandang wajah wanita cantik tengah tertidur pulas di sampingnya....
" Sebegitu takutnya kamu sampai tidur saja mengerut dahi..." Perlahan Raka menyibakkan beberapa helai rambut Lily yang terurai di wajahnya.
Tidak ada sedikit pun wajah Lily lepas dari pandangan sampai Raka melupakan adanya Gilang bersama mereka, andai Gilang tidak memeluk erat Raka dari belakang, mungkin saat ini Dia sudah berbuat hal bodoh.
" Astaga, bocah ini..." Terpaksa Raka menghentikan niat untuk mencium istrinya. Dia memilih untuk membelakangi Lily lalu meraih kembali tangan Gilang, membawanya dalam pelukan.
__ADS_1
" Belum saatnya kaliam mendapatkan semua...." Ucap Raka sembari mengusap kepala Gilang.
Tak lama setelah itu Raka memejamkan mata, tertidur bersama keluarga baru yang pastinya membuat dunia penuh makna.
Esok hari Raka dan Gilang masih tertidur pulas. Lily sudah bangun sejak pagi buta untuk beberes dan membuat sarapan untuk mereka semua. Setalah selesai dengan semua pekerjaan, Lily menuju kamar Gilang dan melihat mereka masih saling beradu dalam dunia mimpi....
" Astaga, mereka masih saja tidur..." Lily berjalan membuka tirai samping kamar hingga matahari menyelinap masuk mengintip kedua wajah tersebut.
Raka menepis sinar mentari dengan kedua tangannya....
" Silau sekali...." Ucapnya dengan sedikit melihat bayangan seseorang dalam bias cahaya tersebut.
" Ini sudah siang. Kamu harus bangun, bukankah kamu harus masuk kantor." Lily mendekati ranjang mencoba membangunkan Gilang. " Sayang kamu juga harus bangun. Sudah siang." Menghuyung perlahan tubuh putranya. Namun Gilang hanya berpindah posisi dengan kembali memeluk Raka yang saat itu juga masih berbaring menatap Lily.
" Kenapa?"
" Tidak ada." Lagi lagi Raka bersembunyi di balik ucapan dinginnya. Dengan cepat Raka memejamkan mata.
" Ih....menyebalkan." Karena kesal Lily pun keluar dari kamar menuju ruang tengah.
__ADS_1
" Hey, boy. Mami kamu marah tuh...." Ucap Raka dengan mencubit hidung mungil bocah tersebut.
" Bangun, Boy. Papi mau ajak kalian ke suatu tempat." Raka tau bahwa Gilang hanya berpura tidur. Mungkin dia ingin lebih lama dalam dekapan hangat seorang ayah.
" Kemana?" Tiba tiba saja Gilang membuka mata dengan rasa penasaran.
" Ada deh. Sekarang kamu mandi dulu, biar Papi juga bisa cepat mandi lalu kita pergi. Oke boy?"
Gilang mengacungkan jempol sembari tersenyum....
" Gilang mandi dulu ya..." Segera Gilang beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Raka tersenyum sebelum dia pergi dari kamar Gilang....
Satu jam setelah itu, Gilang dan Lily sudah duduk di meja makan menunggu keluarnya Raka.
" Mami...." Lirih Gilang.
" Ada apa?"
__ADS_1
" Papi mau ngajak kita...."
" Ehem..." Datanglah Raka dengan memberi kode mata kepada Gilang.