HASRAT

HASRAT
menangis


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak kepergian Olive dari rumah Damar. kini hqri hari terasa sangat sunyi, tidak ada semangat dalam dirinya. Damar juga sering berdiam diri tanpa tau apa yang sedang ada dalam pikirannya. Dia juga tidak bersemangat dalam pekerjaan seperti sebelumnya.


Tok, tok...


"Den, Den Damar, di luar ada yang mencari Aden?" ucap Mbok Inah dari luar pinru kamar.


Damar yang masih duduk memangku sebuah bingkai foto kini berjalan menuju ke arah pintu "Siapa Mbok?"


"Mbok Inah kurang tau, Den."


Damar melihat dari ke bawah, ada dua orang pria dengan baju hitam pekat. Keduanya tengah duduk di sofa ruang tamu "Oh mereka itu orang suruhan saya, Mbok. Nanti tolong buatkan minuman untuk mereka" titah Damar sembari berjalan turun di ikuti dengan Mbok Inah.


"Bagaimana apa sudah ada perkembangan?" Tanya Damar berterus tetang. Sengaja Damar menyewa dua orang ini untuk mencari kebaradaan Olive. Dengan menyewa jasa meteka di harapkan akan mempermudah pencarian sang istri.

__ADS_1


"Mohon maaf pak kami belum juga bisa menemukan istri bapak...." ucapnya dengan wajah menunduk.


"Apa? jadi kalian juga tidak bisa menemukan istri saya, lalu kenapa kalian datang kemari?" Sontak Damar marah dengan berita buruk itu. Yang dia inginkan bukan kabar seperti itu melainkan kabar ketemunya Olive.


"Pokoknya saya tidak akan membayar kalian sepeser pun kalau kalian belum menemukan pegunjuk keberadaan istri saya" Ancam Damar.


Kedua Pria itu sontak terkejut, salah satu dari mereka melempar pandangan sinis. Sepertinya dia tidak suka dengan ancaman Damar kali ini, tapi temannya menggelengkan kepala sambil memberi sebuah kode yang Damar sendiri tidak mengerti apa maksud mereka.


"Ingat! saya tidak melaporkan hilangnya istri saya pada pihak kepolisan karena saya percaya kalau kalian berdua ini bisa di andalakan. Tapi, bagaiman kalian bisa tidak mendapatkan informasi apa pun?" nada suara Damar meninggi membuat Mbok Inah yang berada di dapur menguntip dari pintu dapur.


"Kami akan berusaha sekuat tenaga,' bos." ujar mereka meyakinkan.


Tak berapa lama minuman datang, Damar pun mempersilahkan keduanya minum. Hingga beberapa saat kemudian mereka pamit dan meminta sebuah petunjuk seperti foto atau tempat tempat yang mungkin di kunjungi sang istri.

__ADS_1


"Kami akan segera mengabari anda dalam waktu dekat ini" Ujar mereka lalu meninggalkan rumah Damar.


Di sisi lain Gilang juga tidak tinggal diam, setiap penjuru coba di selediki sampai beberapa rumah sakit ia datangi, karena dia takut terjadi hal buruk kepada wanitanya itu. Tapi, Gilang juga banyak mengirim anak buahnya demi mendapatkan keberadaan Olive saat ini. Kini Gilang berdiri di balkon kamarnya dengan sebatang rokok di tangan kanannya. Tiba tiba saja pintu kamar di ketuk dari luar.


"Mas makanan sudah siap" ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Alisya. Ya, Alisya sudah kembali ke rumah itu karena dia tidak mau jauh dari suaminya. Meski keluarga Gilang melarangnya kembali sebab Gilang tidak ada etikat baik untuk meminta Alisya kembali pulang, tapi Alisya tidak mau terus menerus berada di rumah mertuanya. Dia sendiri yang memutuskan kembali ke rumah suaminya. Setelah kepulangan Alisya, Gilang tidak banyak bicara, ia banyak diam dan acuh padanya seperti sedia kala. Tapi dia tidak memungkuri keberadaan buah hati mereka di dalam rahim sang istri.


"Mas.... " Alisya mendekati suaminya yang tengah berdiri di balkon kamar. Gilang tidak menjawabnya karena pikiran, hati, dan pandanganya tengah di kuasai oleh opsesi terbesarnya yaitu cinta Olivia.


"Mas Gilang" Alisya menyentuh lengan suaminya. Tentu saja Gilang menoleh ke arah Alisya.


"Makanan sudah siap, mas mau makan sekarang atau nanti?" lirih Alisya sambil mengelus perut buncitnya itu. Mata Gilang tertuju pada perut Alisya yang kian hari kian membesar dia jadi ingat bagaimana kondisi anak dalam kandungan Olive. "Nanti saja" jawab Gilang sembari menghadap Alisya, di lihatnya perut Alisya "Apakah boleh saya menyentuhnya?" Alisya terkejut mendengar kata kata itu keluar dari mulut suaminya, ini pertama kalinya Gilang meminta hal seperti itu darinya.


"Tentu saja boleh, mas."

__ADS_1


Gilang pun langsung mengusap perut Alisya beberapa kali dengan kilauan senyum. Alisay sangat terharu sampai kedua matanya berkaca kaca.


__ADS_2