
Beberapa hari berlalu Olive menjalani aktivitas seperti biasa. Hari ini ada rapat dengan semua klien. tentang proyek pembangunan gedung di luar kota. Olive menghendel semuanya bersama salah satu petinggi, ternyata orang yang di maksud adalah Gilang. Dengan terpaksa Olive menyetujuinya meski ada ketakutan di hati, Olive tidak punya pilihan karena saat ini dia seorang pimpinan. SedangkanDamar sendiri sudah mengijinkan Olive pergi ke luar kota, toh Damar menganggap Gilang seperti sahabatnya sendiri. Tidak ada kecurigaan sama sekali. Bahkan Damar lebih tenang jika Olive pergi bersamanya. Sebenarnya Damarlah yang harus memipin proyek tersebut namun karena ada jadwal temu pasien di hati itu, Damar pun mengajukan istrinya. Kebetulan keponakan Damar berhalangan datang karena salah satu keluarga jatuh sakit.
"Jaga kesehatan, jangan lupa makan, dan selalu hubungi saya saat selesai kerja" Tutur Damar seraya memeluk Olive. Saat ini mereka sudah di bandara bersama gengan Gilang.
Olive memeluk suaminya "Saya akan selalu merindukan, mas."
Melihat kemesraan kedua orang di depannya, membuat Gilang cemburu "Kamu tenang saja Sob, Olive aman sama saya" Pangkas Gilang.
"Kalau begitu saya titip istri saya, ya" Di usaplah pundak Gilang.
__ADS_1
Gilang mengangguk, kemudian mereka segera naik pesawat. Damar menunggu sampai pesawat lepas landas. Setelah pesawat mulai terbang segera Damar pergi dari tempat tersebut.
"Kenapa kamu diam, jangan tegang begitu" Ucap Gilang kala melihat wajah tegang Olivia. Di lihatnya wajah pucat pasuh dengan mata terpejam beberapa kali. Ini bukan kali pertama Olive naik pesawat tapi setiap kali berada dalam pesawat jantungnya berdetak kencang. Ketakutannya membuat buih keringat mengalir "Kalau kamu takut pegang tangan saya..." Gilang menggenggam tangan Olive. Kala itu Olive ketakutan sampai ia tidak menolak menggenggam tangan Gilang. Semakin pesawat berada dalam ketinggian semakin panik pula hati Olivia. Gilang menatap Olive penuh senyum "Kamu pejamkan mata saja lalu bayangkan kita tidak sedang naik pesawat" Ucapnya sembari menenangkan Olive.
Olive mengikuti saran Gilang lalu ia tertidur pulas. Melihat wajah wanita impiannya tertidur membuat hasrat dalam diri membara. Bibir mengatup seksi membuat Gilang selalu memandang "Andai kamu tau betapa aku merindukan kehadiran kamu selama ini" Perlahan Gilang menyibakkan rambut Olive yang terurai menutupi pipi kanan.
Tidak berapa lama mereka sampai di bandara kota tujuan, mereka sama sama turun lalu menuju ketempat proyek. Di sana mereka langsung menuju salah satu villa milik perusahaan Handarman. Karen letak proyak ada di sebuah pedesaan, maka mereka harus menempuh jarak yang panjang sampai Olive pun kelelahan. Di dalam taksi Online ia selalu tidur. Mereka akan membangu beberapa Villa di desa tersebut. Desa itu banyak di kunjungi wisatawan karena keindahan alam tersuguh di desa itu.
Olive mengangguk.
__ADS_1
"Pak, berhenti sebenatar" Ucap Gilang pada supir taksi online.
Setelah mobil menepi segera Olive keluar lalu ia muntah. Gilang ikut keluar "Saya belikan minum dulu, ya" Segera Gilang mencari sebuah warung. Tak jauh dari tempat mereka ada sebuah warung kecil, segera Gilang berlari.
"Air meneral satu pak" Setelah mendapat air minum, segera Gilang memberikannya pada Olive yang sudah terbaring di dalam mobil "Minum dulu..." Gilang mengangkat kepala Olive membuatnya meminum "Kepala saya pusing sekali" Keluh Olive seraya memijat kepalanya.
"Kalau begitu tidur saja di pangkuan saya..."
"Tidak, terima kasih" Olive berusaha menolaknya.
__ADS_1
"Sudahlah tak usah pikirkan macam macam. Tidur saja" Karena paksaan Gilang, Olive pun tidur di pangkuannya.