
Hampir satu jam lamanya Lily berdiam diri di kamar mandi, bukan tak ingin keluar melainkan sulit melangkahkan kaki. Watak Raka bagaikan Psikopat haus darah, setiap saat tangannya menyentuh tubuh, pasti akan ada banyak bercak darah.
" Aww....." Pekik Lily seraya berusaha meraih ganggang pintu untuk membantu berdiri, namun tenaganya tidak mampu menggapai benda tersebut.
Di sisi lain, Raka duduk di tepi ranjang menatap kosong arah jendela kamar, kembali mengingat betapa kehilangan sosok adik tercintanya.
" Argghhh...." Sebuah gelas berisi air di banting dengan keras, sampai hancur berantakan sama halnya dengan hatinya saat ini.
" Semua ini karena wanita itu...." Pandangan Raka beralih pada pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.
" Kenapa dia tidak keluar juga, apa dia sudah mati..." Segera Raka membuka pintu.
" Kenapa tidak keluar? kamu takut?" Ketus Raka sembari mendekati dirinya.
" Bukan aku takut, hanya saja aku tidak bisa berdiri..." Jawab Lily.
Raka tadinya ingin memaki habis dirinya sampai tenggorokannya keting dengan kata kata, namun mendengar penjelasan Lili membuatnya terbahak...
__ADS_1
" Oh...jadi kamu tidak bisa bergerak, mau aku tambah lagi." Tatapan mesum Raka mulai menusuk dada Lily sampai dia enggan tuk menatap matanya.
" Tolong ampuni aku." Ucap Lily memelas.
Senyum keberhasilan Raka lukiskan di bibir, melihat wanita angkuh itu memohon belas asih darinya, seandainya Lily mau memohon lebih banyak lagi mungkin Raka akan bersikap baik, karena dalam hidup Raka hanya ingin seorang wanita tunduk di kakinya kecuali adik tercintanya. Raka tidak ingin adiknya tunduk di kakinya ataupun di kaki lelaki lain, sebab harga dirinya ada pada diri adiknya. Mereka memang hanyalah kakak dan adik seperti umumnya, tapi Raka sangat mengidolakan Gea bagaikan seorang putri raja.
" Baiklah...." Segera Raka menggendong tubuhnya keluar dari kamar mandi.
Raka menyeringai ketika merebahkan Lily di atas kasur...
" Apa kamu ingin telanjang sepanjang hari?" Raka menggodanya sampai pipi Lily merona karena malu.
Merasa puas sudah memberi pelajaran, Raka berjalan menuju lemari yang terletak di sudut kamar. Semua baju bermerk ternama ada disana, sengaja Raka siapkan untuk istrinya.
" Sekarang semua ini adalah milikmu, pakai baju yang aku suka." Dia mengambil satu dres pendek berwarna biru muda.
" Biar aku pakaikan..." Sikap Raka seolah berubah menjadi baik. Di balik semua kebaikan itu Lily merasa takut akan ada hal buruk tersembunyi dalam senyumnya.
__ADS_1
" Nah ini baru cantik." Sesekali Raka menyentuh dagu Lily dengan memberi satu kedipan mata.
" Selama kamu patuh tidak akan ada hal buruk menimpa." Ucapnya seraya meraih sisir lalu merapikan rambut Lily.
" Terima kasih, tapi aku bisa sendiri." Lily menghentikan tangan Raka saat dia hendak menyisir rambutnya.
" Baiklah." Raka tak ingin menambah masalah, dia hanya duduk menatap wajah cantik wanita yang saat ini menjadi istrinya. Meski pernikahan mereka hanya sebatas hitam di atas putih, tapi rasanya Raka mulai tertarik.
" Astaga...." Sadar lamunannya mengarah pada hal tidak benar, dia pun menggeleng kepala seraya menepuk kedua pipi.
" Ada apa?" Tanya Lily panik.
" Tidak ada." Tentu saja sifat Raka kembali menjadi dingin dan kasar padanya.
Orang aneh...
Sepertinya dia punya kepribadian ganda...
__ADS_1
Lily menatap punggung Raka, mengutuk habis dirinya.
" Kenapa aku di lahirkan hanya untuk bersama lelaki itu, jika aku tau nasibku buruk seperti ini, maka aku akan meminta Tuhan supaya tidak menciptakan aku." Kesal Lily.