
Kedatangan Revaldi mengundang banyak simpati dari banyak pekerja kantor. Semua peraturan awal kembali di terapakan. Banyak hubungan percintaan terhenti sejenak, karena tidak akan baik jika semua di ketahui oleh Revaldi.
" Jimmy, sebenarnya ada masalah apa, sampai kamu tidak bisa menangani masalah ini?."
Jimmy bersandar pada bahu kursi panas tempatnya bekerja. Menghela nafas panjang nan sesak, perkataan bagai tertahan dalam mulut bersembunyi dalam lidah.
" Ada beberapa Klien besar, membatalkan kerja sama dengan kita. Semua ini karena kesalahanku, jika saja aku bisa memiliki sebuah kinerja seperti kamu, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Maafkan aku Re." ucap Jimmy.
Revaldi mencoba mendekati sahabatnya, ia melihat ada rasa bersalah yang begitu mendalam. Ia tau bahwa saat ini hal yang paling di takuti Revaldi adalah, saat mental Jimmy mulai Down.
" Sahabatku, aku percaya bahwa di tanganmu perusahaan akan berkembang pesat. Aku tidak pernah menyalahkan dirimu atas semua ini." Revaldi menepuk pundak Jimmy dengan penuh keyakinan besar.
" Apa kamu yakin?." Tatapan Jimmy semakin melemah atas kepercayaan yang Revaldi berikan. " Jika semua itu benar, maka tolong ajari aku dengan kelebihan yang kamu miliki."
" Baiklah! aku akan membantu kamu. Oh iya, sementara kita lupakan saja masalah perusahaan. Saat ini aku merindukan kebersamaan kita, mari kita ke tempat biasa." Ajak Revaldi.
" Lalu aku bagaimana?." Sambung Criztine dengan berjalan mendekat.
Revaldi tersenyum, lalu ia mendekati sang istri dengan sejuta senyuman.
" Kamu pulang dulu ya sayang, biar nanti di temani oleh Kania." Jelas Revaldi.
__ADS_1
Criztine nampak cemberut, manja manis dalam dirinya terlihat harmonis oleh setiap mata yang memandang.
" Aku tidak mau!."
" Sayang, kamu tidak boleh ke tempat itu. Kamu sedang mengandung, jadi kamu tidak boleh membahayakan anak kita." usapan lembut pada perut Criztine.
" Apa?." Jimmy terkejut atas apa yang baru saja dia ketahui. " Sejak kapan Criztine mengandung?." Kembali Jimmy terheran.
Revaldi dan Criztine saling melempar pandang, keduanya tersenyum.
Kebahagiaan yang mereka dapat belum satu pun dari mereka yang tau, sehingga membuat Jimmy tercengang.
" Mas." Criztine mencubit lengan suaminya, ia tidak suka dengan tatapan Revaldi.
" Suami kamu memanglah orang yang suka marah. Untuk apa kamu memilih dia, kenapa kamu tidak memilih menikah denganku saja." Jimmy terkikik atas banyolan yang baru saja dia lontarkan.
" Bicara apa Lu?."
" Dasar Tuan muda angkuh." Cetus Criztine.
" Sayang, kami membela dia?."
__ADS_1
" Astaga, kalian ini kalau bertengkar, membuat aku ketakutan saja." ucap Jimmy sembari duduk di meja kerja.
" Boleh ya sayang, aku ingin melepas rindu pada mereka." kedipan mata Revaldi meluluhkan hati Criztine.
Dengan senyuman, ia pun mengiyakan permintaan sang suami.
" Benarkah? Benar?." Revaldi memeluk tubuh Criztine.
" Woy, gua cuma jadi nyamuk nih." Cetus Jimmy.
" Emang!." Balas Revaldi.
" Kalau begitu, aku mau belanja ke Mall. Bolehkah aku minta Kania untuk menemani aku mas?." Pinta Criztine.
" Iya, sayang. Aku akan meminta dia untuk menemani kamu." Kecupan manis pada kening Criztine.
Dahulu mereka kerap mengalami cobaan dalam rumah tangga, dan saat ini mereka mampu menjalani hidup seindah ini.
Sungguh perjuangan wanita ini tidak sia-sia.
Jimmy masih menatap kemesraan mereka penuh dengan bahagia. Banyak hal yang sudah di alami oleh kedua insan tersebut, sehingga banyak orang yang merasa bahagia melihat kemesraan diantara mereka.
__ADS_1